Minggu-minggu berikutnya di Stockholm menjadi semacam rutinitas baru bagi Lev. Selain bekerja di perpustakaan, ia mulai membiasakan diri dengan kehidupan sehari-hari di kota yang serba cepat ini. Kucing garong yang ia temui di toko roti, yang kini ia tahu bernama Kalle, sering menunggunya di luar pintu apartemen. Kucing itu menjadi semacam pengingat kecil bahwa ada makhluk lain yang peduli padanya, meskipun itu hanya untuk meminta makanan.
Suatu sore, saat Lev pulang kerja, Kalle sudah duduk manis di depan apartemennya. Lev tersenyum, mengeluarkan sekantong ikan gabus yang ia beli di pasar halal, dan membaginya dengan Kalle. Kalle makan dengan lahap, dan setelah selesai, ia mengelus-eluskan kepalanya di kaki Lev.
"Sudah makan, sekarang waktunya tidur," bisik Lev sambil mengelus kepala Kalle. Kalle mengeong, seolah mengerti.
Lev merasa sedikit kesepian. Ia merindukan Vania. Ia rindu saat Vania menunggunya di depan rumah dengan senyum lebar, dan tawa mereka mengisi keheningan malam. Ia mengambil foto Vania, dan berbicara dengan foto itu. "Vania, kamu tahu? Di sini ada kucing yang mirip dengan kucing yang kita lihat di Pulau Kembang. Namanya Kalle," katanya dengan suara bergetar.
Malam itu, Lev tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk membuka Al-Qur'an. Ia membaca surat Al-Fatihah, lalu surat Al-Baqarah. Hatinya terasa sedikit lebih tenang. Ia menyadari, meskipun Vania sudah tidak ada, Allah SWT selalu ada untuknya.
Keesokan harinya, di perpustakaan, Anatasya melihat Lev tampak lelah. "Lev, kamu tidak tidur semalam?" tanyanya khawatir.
Lev tersenyum. "Tidak apa-apa, Anatasya. Aku hanya... merindukan seseorang," jawabnya jujur.
Anatasya mengangguk. "Aku mengerti. Tapi, jangan terlalu larut dalam kesedihan, Lev. Vania pasti tidak ingin melihatmu seperti ini."
Lev terkejut dengan kata-kata Anatasya. "Bagaimana kamu tahu tentang Vania?"
"Kamu pernah cerita saat kita di pasar, Lev," jawab Anatasya, tersenyum. "Aku pendengar yang baik."
Lev merasa malu. Ia tidak menyadari bahwa ia sudah cerita tentang Vania kepada Anatasya. Ia merasa lega, ia tidak perlu lagi menyembunyikan kesedihannya.
"Apakah kamu ingin cerita tentang Vania, Lev?" tawar Anatasya. "Kadang, bercerita bisa meringankan beban."
Lev ragu sejenak, tapi ia akhirnya mengangguk. Ia menceritakan tentang Vania, tentang cinta mereka, tentang impian mereka, dan tentang kecelakaan yang merenggut Vania. Anatasya mendengarkan dengan penuh empati, tanpa menyela.
Setelah Lev selesai bercerita, Anatasya tidak langsung berkomentar. Ia membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka. Setelah beberapa saat, ia memandang Lev. "Vania pasti orang yang sangat baik," katanya.
"Dia memang orang yang baik," jawab Lev, matanya berkaca-kaca.
"Tapi, kamu harus melanjutkan hidup, Lev. Vania pasti ingin kamu bahagia," Anatasya menasihati dengan lembut.
Lev mengangguk. "Aku tahu. Tapi, bagaimana caranya?"
"Mulai dari hal-hal kecil," kata Anatasya. "Mulai dari menerima kenyataan, dan mulai dari membuka hati untuk kebahagiaan baru. Vania akan selalu ada di hatimu, Lev. Dia tidak akan pernah pergi."
Kata-kata Anatasya membuat Lev merasa lebih baik. Ia merasa bahwa ia tidak sendirian. Ia punya Anatasya, sahabat barunya yang tidak hanya membantunya beradaptasi dengan kehidupan di Stockholm, tetapi juga membantunya menyembuhkan luka di hatinya.
Malam itu, saat Lev pulang, Kalle sudah menunggunya lagi. Lev tersenyum. Ia mengambil sekantong ikan gabus, dan memberikannya kepada Kalle. Kalle makan dengan lahap, dan setelah selesai, ia mengelus-eluskan kepalanya di kaki Lev.
Lev mengelus kepala Kalle. "Vania pasti senang melihatmu, Kalle," bisiknya. "Mungkin kamu adalah hadiah dari Vania, untuk menemaniku di sini."
Kalle mengeong, seolah mengerti. Lev merasa bahwa ia tidak sendirian. Ia merasa ada Vania di hatinya, ada Kalle di sampingnya, dan ada Anatasya di perpustakaan. Ia tidak lagi merasa kesepian. Ia merasa bahwa ia bisa bahagia lagi. Ia siap untuk melanjutkan hidup.
