Pagi berikutnya, setelah istirahat cukup di Banjarmasin, keluarga kecil itu melanjutkan perjalanan ke arah selatan, menuju Kabupaten Tapin. Tujuan mereka kali ini adalah Makam Datu Nuraya di Desa Tatakan, Kecamatan Tapin Selatan. Jaraknya sekitar 2 jam perjalanan santai dari Banjarmasin.
Perjalanan kali ini menyuguhkan pemandangan yang berbeda. Jika sebelumnya didominasi area rawa dan perkebunan, kini mereka mulai memasuki area perbukitan dan hamparan kebun karet yang rindang.
"Mas, kata Umi, makam Datu Nuraya itu panjang sekali. Katanya sampai puluhan meter. Masa sih?" tanya Anindya penasaran, membaca catatan kecil yang diberikan Umi.
Lev tersenyum. "Itu yang bikin makam ini viral dan misterius, Nindya. Konon panjangnya bisa mencapai 60 sampai 90 meter. Legenda lokal bilang Datu Nuraya ini waliyullah yang tubuhnya tinggi menjulang atau makamnya memanjang sendiri karena karomah saat dimakamkan."
Aisyah yang mendengar percakapan itu langsung melongok dari kursi belakang. "Panjang kayak kereta api, Abi?"
"Bisa jadi, Nak," canda Lev.
Mereka tiba di area Desa Tatakan. Suasana pedesaan yang asri dan dikelilingi kebun karet menyambut kedatangan mereka. Lokasi makam Datu Nuraya tidak jauh dari makam Datu Sanggul, ulama besar lainnya yang hidup sezaman dengannya.
Mereka memarkir mobil dan berjalan kaki di jalan setapak yang teduh. Di kanan-kiri jalan, terlihat beberapa kios kecil menjual minuman dan kembang ziarah. Kehidupan bermasyarakat di sini sangat sederhana dan bersahaja.
Memasuki area kompleks makam, rasa penasaran Anindya dan Aisyah memuncak. Dan benar saja, di bawah kubah yang sederhana, terhampar sebuah makam yang panjangnya luar biasa. Batu nisan di ujung kepala dan kaki terlihat sangat jauh jaraknya.
"Subhanallah, Mas... panjang sekali!" Anindya terperangah. "Kok bisa begini, ya?"
Lev hanya mengangkat bahu, tersenyum penuh misteri. "Itulah kebesaran Allah melalui karomah para wali-Nya. Kita ambil hikmahnya saja."
Mereka mulai berdoa dan membaca tahlil. Namun, kekhusyukan mereka sedikit terganggu oleh celetukan Aisyah.
"Abi, Umi, ini kakeknya tinggi sekali, ya? Apa makannya banyak, Abi?" tanya Aisyah polos dengan volume suara yang cukup keras, membuat beberapa peziarah lain tersenyum geli.
Anindya cepat-cepat menutup mulut Aisyah dengan lembut. "Sstt... nggak boleh bicara begitu, Nak. Ini makam orang alim."
Lev menahan tawa. "Datu Nuraya ini adalah sosok yang datang tiba-tiba ke daerah ini dan langsung meninggal dunia setelah tujuh kali mengucapkan zikir tertentu. Beliau membawa kitab suci, dan masyarakat memuliakannya.
Panjang makam ini menjadi pengingat akan keagungan beliau, bukan soal tinggi badan atau makanan."
Aisyah mengangguk-angguk, meski sepertinya belum sepenuhnya paham. Dia malah mulai menghitung langkahnya dari ujung nisan satu ke ujung nisan lainnya.
"Satu, dua, tiga... duapuluh langkah, Umi!" serunya bangga.
Momen komedi ringan itu mencairkan suasana sakral makam, mengingatkan Lev dan Anindya bahwa perjalanan spiritual ini juga harus dinikmati dengan keceriaan dan kepolosan seorang anak kecil.
Setelah puas berziarah dan mengambil beberapa foto (tentu saja tanpa mengganggu kekhusyukan peziarah lain), mereka meninggalkan lokasi. Di perjalanan pulang menuju mobil, mereka mampir ke sebuah warung kecil milik warga setempat yang menjual minuman dingin.
Ibu pemilik warung bercerita banyak tentang kehidupan di sekitar makam. "Alhamdulillah, semenjak banyak peziarah yang datang ke Datu Nuraya dan Datu Sanggul, ekonomi warga di sini ikut terbantu, Mas, Mbak. Apalagi pas haul tahunan, ramai sekali di sini."
Lev dan Anindya mendengarkan dengan saksama. Mereka melihat sisi lain dari ziarah: dampak sosial ekonomi yang positif bagi masyarakat lokal. Nazar mereka tidak hanya memberikan ketenangan batin bagi mereka, tetapi secara tidak langsung juga ikut mendukung kehidupan masyarakat di desa terpencil ini.
Hari semakin sore. Mereka sudah menuntaskan ziarah di tiga makam utama di Kalsel. Malam ini mereka akan kembali ke Banjarmasin untuk beristirahat, karena besok adalah hari terakhir mereka di Kalimantan sebelum terbang menyeberang lautan menuju Pulau Jawa. Perasaan campur aduk meliputi Lev: lega karena nazarnya di Kalsel tuntas, sekaligus antusias menantikan babak baru perjalanan di tanah para Wali Songo.
