Waktu dunia terus bergulir. Satu bulan telah berlalu sejak kepergian Vania. Di alam barzakh, Vania telah mencapai tingkat ketenangan tertentu, namun hatinya masih terikat kuat pada Lev Ryley. Pria itu, dengan ketampanan blasterannya dan hati yang lembut, menjadi pusat perhatian banyak orang, dan Vania, dari kejauhan, menyaksikannya dengan campuran rasa haru dan... cemburu spiritual yang lucu.
Cahaya Lev seringkali berfluktuasi. Dia masih sering mengunjungi makam Vania di pemakaman muslim di Banjarmasin, duduk diam sambil memanjatkan doa. Namun, kehidupan profesionalnya sebagai arsitek mulai menuntutnya kembali ke rutinitas sosial.
Dilema dimulai ketika Maya, seorang rekan kerja Lev yang ambisius dan cukup menarik, mulai terang-terangan menunjukkan ketertarikan padanya. Vania menyaksikan ini melalui 'layar' spiritualnya saat Lev dan Maya sedang rapat proyek di sebuah kafe modern di Banjarmasin.
Maya sering menyentuh lengan Lev saat berbicara, tertawa genit pada lelucon Lev yang tidak terlalu lucu. Vania, sang roh, mendengus kesal.
"Hei, jaga sikapmu, Mbak!" Vania ingin berteriak.
Syekh yang berdiri di sebelahnya tersenyum geli. "Cemburu adalah emosi manusiawi, Vania. Tapi di sini, kau harus belajar melepaskannya. Pernikahan, hubungan duniawi, semua itu bukan lagi urusanmu. Tugasmu adalah mendoakan kebahagiaannya, dalam bentuk apa pun itu."
"Tapi... tapi dia kekasihku," Vania membela diri, meskipun tahu dia tidak punya hak lagi atas status itu.
"Dulu. Sekarang, dia adalah saudaramu seiman yang berhak mendapatkan kebahagiaan dan pendamping hidup baru," tegas Syekh lembut.
Beberapa hari kemudian, situasinya semakin intens. Rian dan Sari, teman-teman Vania, yang awalnya sangat suportif, kini mulai berbisik-bisik. Vania melihat melalui cahaya mereka bahwa mereka sedang mendiskusikan Lev yang terlalu lama larut dalam kesedihan.
"Lev itu tampan, Vania sudah tenang di surga (Insya Allah). Masa dia mau sendiri terus?" bisik Sari pada Rian, yang Vania dengar jelas. "Maya itu lumayan juga, lho."
Vania melipat tangannya di depan dada spiritualnya. Ini adalah komedi slice of life yang pahit baginya. Melihat teman-teman terbaiknya sendiri mulai 'menjodohkan' kekasihnya dengan orang lain.
Lev sendiri tampak bingung. Cahayanya menunjukkan kebingungan dan kesetiaan mendalam pada Vania. Dia menolak ajakan makan malam pribadi dari Maya dengan halus, membuat Vania merasa bangga sekaligus sedih.
Di alam barzakh, Vania akhirnya menyadari dilema yang lebih besar: Apakah dia harus berharap Lev terus setia kepadanya selamanya, atau berharap Lev bahagia dengan orang lain? Sebagai roh yang mulai mendalami ajaran Islam, Vania tahu jawaban yang benar adalah yang kedua. Kehidupan harus berlanjut, dan pernikahan adalah sunah.
"Aku harus ikhlas," Vania bertekad, meskipun terasa berat.
Dia mulai mendoakan agar Allah memberikan petunjuk terbaik bagi Lev, entah itu bersamanya dalam doa, atau dengan orang lain dalam pernikahan di dunia. Vania tahu, perjalanan keikhlasan sejatinya baru dimulai di Bab 7 ini.
