Jika anggota keluarga lain sibuk dengan e-commerce, SEO, dan endorsement, Rayyan Zuhayr, si bungsu yang baru kelas tiga SD Islam, punya dunia digitalnya sendiri: aplikasi belajar interaktif dan video kisah Nabi di YouTube Kids. Dia adalah satu-satunya anggota keluarga yang belanja online-nya paling minim drama, karena semua pesanannya sudah dikurasi ketat oleh Anindya dan Levℛyley.
Suatu sore, Rayyan pulang sekolah dengan wajah cemberut. Tas sekolahnya terasa lebih berat dari biasanya.
"Kenapa, Nak? Kok manyun begitu?" tanya Anindya yang sedang menyiram bunga di halaman.
Rayyan meletakkan tasnya dan duduk di teras. "Ibu, tadi di sekolah, teman-teman Rayyan pamer mainan baru mereka. Robot-robotan yang bisa ngomong dan gerak sendiri. Mereka bilang beli di toko online yang iklannya sering muncul di TV."
Anindya mengerutkan dahi. Dia tahu robot yang dimaksud Rayyan. Iklannya sangat gencar, dengan teknik marketing yang agresif, tapi Anindya pernah mengecek review di forum online. Kualitasnya buruk dan sering rusak dalam seminggu.
"Terus, Rayyan mau juga?" tanya Anindya lembut.
Rayyan mengangguk pelan. "Iya, Bu. Kelihatannya keren banget. Rayyan bisa checkout pakai HP Ibu, kan?"
Anindya tersenyum. Ini adalah momen yang tepat untuk memberikan pencerahan digital kepada si bungsu. "Rayyan, mainan itu memang kelihatannya keren di iklan. Iklan itu kan dibuat supaya kita tertarik. Tapi, Ibu pernah baca review aslinya. Katanya robotnya gampang rusak, baterainya cepat habis, dan bahannya plastik biasa. Cepat bosan juga."
Rayyan terdiam, tampak berpikir.
"Ibu punya ide," lanjut Anindya. "Bagaimana kalau kita checkout buku ensiklopedia luar angkasa yang Rayyan mau kemarin? Atau mungkin kita beli bahan-bahan untuk membuat roket air bersama Ayah di akhir pekan? Itu lebih seru dan ilmunya lebih banyak."
Mata Rayyan langsung berbinar. Dia memang sangat suka luar angkasa. "Mau, Bu! Bikin roket air! Lebih seru daripada robot yang gampang rusak!"
Di hari yang sama, Aisyah di ULM sedang menghadapi ujian moderasi beragama di kelasnya. Sebagai mahasiswa PGSD di kampus negeri yang multikultural di Banjarmasin, Aisyah sering berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya.
"Bagaimana peran media sosial dan belanja online dalam mempromosikan atau justru merusak moderasi beragama di Indonesia?" tanya dosennya, memberikan studi kasus yang relatable dengan kehidupan Aisyah.
Aisyah mengangkat tangan dan mulai menjelaskan pengalamannya tentang proyek "Musala Al-Hikmah Go Online".
"Menurut saya, teknologi dan belanja online adalah alat yang netral. Contohnya di komplek kami di Banjarmasin, kami berhasil menggunakan e-commerce dan media sosial untuk menggalang dana musala dan menjual produk warga yang beragam," jelas Aisyah. "Kunci utamanya adalah niat dan etika. Kami memastikan semua transaksi transparan, produknya halal, dan marketingnya jujur. Kami juga berinteraksi dengan pembeli dari berbagai daerah dan latar belakang, yang secara tidak langsung mempromosikan toleransi dan saling pengertian."
Penjelasan Aisyah mendapat apresiasi dari dosen dan teman-temannya. Dia berhasil menunjukkan sisi positif dari dunia digital yang seringkali hanya dipandang negatif.
Malam harinya, rumah keluarga Levℛyley kembali ramai. Paket bahan roket air untuk Rayyan sudah datang. Ayah dan anak laki-laki itu sibuk di halaman belakang, sementara para perempuan sibuk dengan urusan masing-masing.
Ghina sedang merekam review cat air baru Maryam, sementara Maryam sendiri sedang browsing toko online yang menjual buku-buku tentang budaya Banjar untuk inspirasi lukisan selanjutnya. Anindya sibuk mengurus laporan keuangan proyek musala online.
Di tengah tawa canda mereka, Levℛyley menatap keluarganya dengan penuh rasa syukur. Drama belanja online mungkin akan selalu ada, tapi keluarga ini berhasil menjadikannya sebagai sarana untuk belajar, berbagi, dan memperkuat ikatan keluarga dan komunitas di Banjarmasin.
Rayyan, si bungsu, kini sudah melupakan robot-robotan iklan TV. Di tangannya ada botol plastik bekas yang siap disulap menjadi roket air impiannya. Dia telah mendapatkan pencerahan digital pertamanya: nilai sebuah barang tidak diukur dari seberapa keren iklannya, tapi dari manfaat dan kebahagiaan yang diberikannya.
