Brokk, dengan raut wajah yang masih dipenuhi kecurigaan namun juga keputusasaan, akhirnya setuju untuk mengikuti Kael dan Lyra ke kota yang terlupakan. Mereka bertiga, dengan Elara di sisi Kael, kembali menelusuri jalan yang sama, namun kali ini dengan perasaan yang sangat berbeda. Brokk tidak lagi memegang kapaknya dengan erat, dan Lyra tidak lagi menjaga jarak. Mereka berjalan beriringan, dipersatukan oleh satu tujuan: mencari jawaban.
Saat mereka tiba di kota, Brokk dan Lyra terkejut melihat pemandangan itu. Patung-patung pahlawan kuno yang menggambarkan semua fraksi yang hidup berdampingan membuat mereka terdiam. Mereka tidak bisa membantah bukti di depan mata mereka. Mereka melihat sejarah yang telah lama dilupakan, sejarah di mana perdamaian pernah ada.
Mereka memasuki kuil, dan Kael mengulangi apa yang ia lihat di kolam air. Ia menceritakan tentang asal-usul Terravia, tentang bijak kuno, tentang Heart of the Sanctuary, dan tentang kekuatan jahat yang menciptakan kebencian. Brokk dan Lyra mendengarkan dengan penuh perhatian, meskipun masih ada keraguan di mata mereka.
"Jika semua ini benar," kata Brokk, suaranya berat, "maka siapa yang bisa kita percayai? Siapa yang bisa menjamin bahwa kita tidak akan dimanipulasi lagi?"
"Itu adalah tugas kita," jawab Kael. "Kita harus percaya pada gema dari jiwa kita, bukan pada bisikan kebencian. Kita harus percaya pada satu sama lain."
"Tapi bagaimana dengan Mortii?" tanya Lyra. "Mereka telah menyerang kita. Mereka telah merusak hutan. Kau mengharapkan kami untuk memaafkan mereka?"
"Pemaafan tidak akan datang dengan mudah," kata Kael. "Tapi pemaafan adalah satu-satunya jalan. Malakor juga dimanipulasi. Dia juga korban. Kita harus menghentikan kebencian, bukan membalasnya dengan kebencian."
Brokk mengangguk, namun ia masih terlihat ragu. "Ini ide yang gila, Kael. Kami Neander adalah pejuang. Kami tidak tahu cara memaafkan."
"Itu karena kalian belum pernah mencoba," kata Kael. "Ini adalah awal dari segalanya. Kita harus kembali ke fraksi masing-masing, dan kita harus menyebarkan pesan ini. Pesan tentang kebenaran yang sesungguhnya. Pesan tentang pemaafan."
Lyra mengangguk. "Aku akan mencoba," katanya. "Hutan kami sedang sekarat. Mungkin pemaafan adalah satu-satunya harapan kami."
Brokk menatap Kael, lalu Lyra, lalu Elara. Ia melihat keyakinan di mata mereka, keyakinan yang tidak bisa ia bantah. "Baiklah," katanya, akhirnya memutuskan. "Aku akan mencoba. Tapi jika ini gagal, Kael, aku akan kembali ke caraku sendiri."
Kael tersenyum lega. Ia tahu ini bukan akhir dari perjuangan, tetapi ini adalah awal yang baru. Mereka telah berhasil melewati ujian puncak, dan sekarang mereka siap menghadapi tantangan yang lebih besar: menyatukan Terravia. Mereka berjanji untuk kembali ke fraksi masing-masing, menyebarkan pesan pemaafan, dan kembali ke kota terlupakan ketika mereka siap. Mereka tahu bahwa ini adalah perjalanan yang panjang, tetapi mereka tidak takut. Mereka memiliki gema jiwa yang baru, dan mereka memiliki harapan. Mereka adalah Human, Fae, dan Neander, bersatu untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung terlalu lama.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
