Usai sarapan dan salat Dhuha, rutinitas pagi keluarga Imran berlanjut dengan kesibukan masing-masing. Imran menuju kantornya, sementara Aisyah bersiap untuk bertemu klien di butiknya yang terletak di area Kampong Glam yang chic. Zahra sudah melesat ke kampus, dan anak-anak sekolah, Adam dan Hawa, berangkat bersama menggunakan MRT.
Adam dan Hawa turun di stasiun Little India. Area ini, dengan fasad bangunan berwarna cerah dan aroma rempah-rempah yang kuat, selalu menjadi favorit mereka. Tujuannya hari ini adalah sebuah toko buku kecil langganan mereka di Dunlop Street, dekat dengan Masjid Abdul Gafoor yang khas dengan arsitektur Moghulnya yang memukau, berwarna kuning cerah.
"Baunya khas banget ya, Kak," ujar Hawa sambil menghirup udara dalam-dalam, campuran aroma kari, melati, dan dupa memenuhi indra penciumannya.
"Iya, Wa. Di sini Singapura terasa beda, kan? Kayak masuk ke dunia lain," jawab Adam, matanya melirik ke kios-kios yang menjual karangan bunga segar dan pernak-pernik India yang berkilauan.
Mereka berjalan santai di Dunlop Street yang mulai ramai. Kawasan ini adalah salah satu pusat kehidupan sosial dan budaya bagi komunitas India Muslim di Singapura. Di sini, nuansa Islami bercampur baur dengan kentalnya budaya India, menciptakan lanskap sosial yang unik dan menjadi representasi sempurna dari koeksistensi harmonis di negara tersebut.
Di depan Masjid Abdul Gafoor yang bersejarah, beberapa pria paruh baya, baik Muslim maupun non-Muslim, terlihat duduk santai di bangku taman kecil di seberang jalan, mengobrol santai sambil menikmati teh tarik dari kedai kopi terdekat. Adam dan Hawa menyempatkan diri mengucap salam kepada salah satu jemaah yang mereka kenal, seorang paman tua India Muslim bernama Uncle Raj.
"Assalamualaikum, Uncle Raj!" sapa Adam ramah.
"Waalaikumussalam, Adam, Hawa! Mau ke toko buku lagi? Rajin sekali anak-anak muda ini," balas Uncle Raj dengan senyum hangat, logat Melayu-Indianya kental terdengar. "Sudah sarapan belum? Mau prata dulu?"
"Sudah, Uncle. Nanti pulangnya mungkin mampir," tolak Hawa sopan.
Interaksi singkat itu mencerminkan betapa cairnya hubungan bermasyarakat di sana. Perbedaan etnis dan bahasa bukanlah penghalang untuk sapaan hangat dan tawaran ramah.
Di toko buku langganan mereka, "The Knowledge Hub", yang dimiliki oleh keluarga Tionghoa-Singapura yang ramah, Adam mencari buku teks tambahan untuk kimia, sementara Hawa mencari buku cerita anak-anak bertema moral. Pemilik toko, Mr. Lee, menyambut mereka dengan senyuman.
"Halo, Adam, Hawa! Book fair baru datang. Banyak buku bagus," sapa Mr. Lee, lancar berbahasa Inggris dengan aksen Singapura yang bersahabat.
Saat sedang asyik memilih buku, Adam bertemu dengan teman sekelasnya, Sanjay, seorang pemuda Hindu Tamil. Mereka langsung terlibat dalam perbincangan tentang tugas sekolah dan rencana study group.
"Eh, Adam, jadi nggak study group di library kampus besok?" tanya Sanjay, matanya fokus pada buku kimia yang sama dengan yang dipegang Adam.
"Jadi dong, Bro. Abis kelas tambahan agama, gue langsung ke sana," jawab Adam. "Tapi lu harus janji, jangan godain gue soal puasa Senin-Kamis lagi, ya!"
Sanjay tertawa renyah. "Ah, elo! Tenang aja, gue bawain chips yang ada label halal luarnya, confirm aman!"
Perbincangan mereka diselingi tawa ringan. Topik agama dan makanan halal sering menjadi bahan candaan ringan di antara mereka, namun selalu dalam koridor saling menghargai. Di Singapura, humor semacam ini adalah bumbu kehidupan bermasyarakat yang membuat interaksi terasa lebih manusiawi dan tidak kaku.
Sementara Adam dan Sanjay sibuk dengan dunia kimia, Hawa menemukan buku cerita bergambar menarik tentang keberagaman. Ia membawanya ke kasir.
"Ini bagus banget, Mr. Lee. Ceritanya tentang anak-anak beda negara yang main bola bareng di Fort Canning Park," lapor Hawa antusias.
Mr. Lee mengangguk setuju. "Ya, Nak. Cerita yang bagus untuk semua orang. Mengajarkan kita untuk bermain bersama, walau beda latar belakang."
Setelah membayar buku, Adam dan Hawa pamit. Perut mereka mulai keroncongan. Di seberang jalan, aroma kari dari sebuah restoran India Muslim ternama di Dunlop Street memanggil-manggil.
"Uncle Raj bener, Kak. Kayaknya kita butuh prata sekarang," kata Hawa, matanya berbinar.
"Setuju! Prata keju kayaknya enak nih," timpal Adam.
Mereka menyeberang jalan, siap menikmati kelezatan kuliner halal yang melimpah di area tersebut. Di tengah riuh rendah Little India, dengan irama kehidupan yang multikultural dan semarak, keluarga Imran terus menemukan cara untuk berinteraksi, beradaptasi, dan yang terpenting, menjaga kebahagiaan dan nilai-nilai Islam mereka, satu babak kehidupan dalam satu waktu, dengan aroma kari yang selalu menggoda di udara Singapura.
