Senin pagi di Kandangan selalu dimulai dengan ritme yang lebih cepat daripada detak jantung normal. Udara yang biasanya tenang di Gang Taqwa berubah menjadi simfoni suara mesin motor dan aroma parfum "kantoran" yang bercampur dengan bau embun pagi. Bagi keluarga Pak Rahman dan Pak Ahmad, Senin bukan sekadar awal pekan, melainkan medan laga bagi profesionalisme mereka sebagai abdi negara di Bumi Antaludin.
Pak Rahman Hakim, dengan kemeja batik PGRI yang khas dan tas kulit yang sudah mulai aus di bagian sudutnya, tampak sibuk memeriksa tumpukan berkas di atas meja teras. Wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya. Tahun 2025 membawa tantangan baru bagi para Guru PNS: sistem sertifikasi digital yang baru saja diperbarui. Di usianya yang tidak lagi muda, menaklukkan aplikasi di layar laptop terkadang lebih sulit daripada menjelaskan rumus logaritma kepada murid kelas sepuluh.
"Astagfirullah, Ummi... ini kenapa kursornya berputar-putar terus seperti gasing?" keluh Pak Rahman sambil membetulkan letak kacamatanya.
Ibu Aminah mendekat membawa segelas teh hangat. "Sabar, Abahnya. Mungkin internetnya sedang lelah. Coba sambil baca shalawat, siapa tahu aplikasinya jadi insaf."
Namun, ketenangan yang berusaha dibangun Pak Rahman segera pecah oleh suara klakson mobil dinas yang berhenti di depan rumah sebelah. Pak Ahmad Subarjo keluar dengan seragam cokelat KHAS PNS (PDH) yang sangat rapi, sepatu pantofel yang mengkilap seperti cermin, dan wajah yang memancarkan aura "Rapat Penting".
"Pak Guru! Masih berkutat dengan laptop? Wah, hati-hati kena darah tinggi pagi-pagi!" seru Pak Ahmad sambil merapikan papan nama di dadanya yang bertuliskan Ahmad Subarjo, S.Sos. "Saya hari ini ada rapat koordinasi di Kantor Pemda. Bupati mau bahas rencana tata kota, termasuk penataan taman di jalur hijau. Saya mau usul mawar semua, biar Kandangan jadi 'The Rose City of South Borneo'!"
Pak Rahman mendongak, mencoba mengalihkan fokus dari layar laptopnya yang sedang loading. "Mawar lagi, Pak Ahmad? Apa Bapak tidak kasihan sama petugas kebersihan nanti? Kalau mereka kena duri saat menyapu jalan, itu bisa jadi masalah K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), lho. Kalau Anggrek, kita bisa gantung di pohon-pohon peneduh. Estetik, teduh, dan tidak melukai siapa pun."
Pak Ahmad tertawa, jenis tawa yang membuat burung-burung di pohon mangga beterbangan. "Ah, Anggrek itu terlalu 'diam', Pak Rahman. Kita butuh sesuatu yang mencolok untuk menarik perhatian provinsi! Tapi sudahlah, saya duluan ya. Jangan sampai laptopnya Bapak lempar ke pot Anggrek kalau aplikasinya masih error!"
Mobil Pak Ahmad meluncur pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan Pak Rahman yang hanya bisa geleng-geleng kepala. Namun, sebuah kejadian tak terduga terjadi tepat setelah mobil itu hilang di tikungan gang. Pak Rahman, yang hendak kembali fokus ke pekerjaannya, tanpa sengaja melihat ke arah kebun mawar Pak Ahmad.
Matanya yang jeli sebagai guru matematika menangkap sesuatu yang tidak simetris. Ada beberapa rumpun mawar Double Delight milik Pak Ahmad yang mulai layu. Daun-daunnya menguning dan pangkal batangnya terlihat menghitam.
"Lho, itu kan gejala busuk akar akibat jamur Diplocarpon rosae," gumam Pak Rahman. Pengetahuan botaninya yang luas—hasil bertahun-tahun merawat anggrek—membuatnya tahu bahwa mawar-mawar tetangganya itu sedang dalam bahaya besar. Jamur itu bisa menyebar ke seluruh taman hanya dalam hitungan hari jika tidak segera ditangani.
Pak Rahman dilema. Di depannya ada laporan sertifikasi yang harus dikirim sebelum jam 12 siang, namun di sebelahnya ada "nyawa" mawar tetangganya yang terancam. Dalam Islam, ia teringat sebuah hadis tentang pentingnya menjaga harta milik tetangga seperti menjaga harta sendiri.
"Ummi! Tolong ambilkan semprotan fungisida cair di gudang! Dan ambilkan masker!" teriak Pak Rahman tiba-tiba.
"Lho, buat apa Abahnya? Sertifikasinya sudah selesai?" tanya Ibu Aminah bingung.
"Sertifikasinya biar Farih nanti yang bantu urus kalau dia pulang koas. Sekarang, ada keadaan darurat di kebun Pak Ahmad. Kalau mawar-mawar itu mati, Pak Ahmad bisa mogok kerja sebulan!"
Maka, terjadilah pemandangan yang langka di Gang Taqwa. Seorang Guru PNS senior, yang seharusnya berada di depan kelas atau di depan laptop, malah sibuk melompati pagar ulin pendek dengan membawa botol semprotan. Dengan penuh ketelitian, Pak Rahman memangkas daun-daun mawar yang terinfeksi dan menyemprotkan cairan obat dengan teknik yang sangat presisi, seolah sedang melakukan operasi bedah tanaman.
Beberapa jam kemudian, saat Pak Ahmad pulang lebih awal karena rapatnya selesai cepat, ia terkejut melihat Pak Rahman sedang duduk di teras rumahnya sendiri dengan baju yang penuh noda tanah dan tangan yang sedikit tergores duri.
"Pak Rahman? Bapak habis maling mawar saya atau bagaimana?" tanya Pak Ahmad setengah bercanda namun kaget.
Pak Rahman mengelap keringatnya. "Mawar Bapak kena jamur hitam. Kalau tidak saya eksekusi tadi pagi, mungkin sore ini mawar merah Bapak sudah jadi mawar cokelat alias mati. Saya sudah pangkas dan beri obat. Tapi tolong, minggu depan kurangi penyiraman di sore hari, itu yang memicu jamur."
Pak Ahmad tertegun. Ia melihat tanaman kesayangannya yang kini tampak sedikit lebih rapi namun 'botak' di beberapa bagian akibat pemangkasan darurat. Rasa haru tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia sadar, di balik perdebatan sengit mereka tentang jenis bunga, Pak Rahman benar-benar peduli padanya.
"Waduh... terima kasih banyak, Pak Guru. Saya memang terlalu ambisius mengurus laporan Pemda sampai lupa mengurus mawar," ujar Pak Ahmad tulus. "Sebagai gantinya, sore ini saya yang akan bantu Bapak berurusan dengan aplikasi sertifikasi itu. Saya ini birokrat, urusan administrasi digital adalah makanan sehari-hari saya!"
Sore itu, di Gang Taqwa, terjadi sebuah pemandangan yang indah. Pak Ahmad, sang ahli birokrasi, duduk dengan lincah mengoperasikan laptop Pak Rahman hingga laporan sertifikasi terkirim dengan sukses. Sementara itu, Pak Rahman memberikan tutorial singkat tentang cara mendeteksi penyakit tanaman sejak dini.
Dua abdi negara itu kini duduk bersama di teras, ditemani teh hangat dan pemandangan dua jenis bunga yang berbeda namun sama-sama dirawat oleh cinta dan kepedulian antar tetangga. Mereka belajar bahwa kebahagiaan hidup bukan hanya tentang keberhasilan karir atau keindahan kebun pribadi, melainkan tentang bagaimana kita saling mengisi kekurangan satu sama lain—persis seperti anggrek yang butuh sandaran, dan mawar yang butuh perlindungan.
Pesan Literasi:
Kehidupan bertetangga dalam Islam menekankan bahwa memuliakan tetangga adalah salah satu ciri kesempurnaan iman. Melalui bab ini, kita belajar bahwa keahlian yang berbeda (matematika dan botani vs administrasi pemerintahan) justru menjadi perekat ukhuwah. Bagi Anda yang tertarik pada dunia tanaman, pastikan untuk selalu mengecek kesehatan tanaman Anda secara rutin seperti yang dilakukan para tokoh kita di Pusat Penyuluhan Pertanian.
