Pagi Senin di Tanjung, Tabalong, selalu diawali dengan hiruk-pikuk pegawai yang mengejar waktu apel pagi. Muhammad Hifni sudah rapi dengan seragam cokelatnya, namun langkahnya tertahan di pintu depan. Di depannya, Khalisah Salsabilla berdiri tegak dengan tangan bersedekap, menghalangi jalan keluar.
"Abah, Jagau butuh vitamin. Kemarin Naura bilang Snowee minum vitamin biar bulunya tidak rontok. Lihat Jagau, Bah... bulunya ada yang terbang ke nasi goreng Bunda tadi pagi," protes Khalisah dengan wajah seserius hakim pengadilan.
Hifni melirik si Jagau yang sedang asyik menggaruk telinga di atas motor dinasnya. "Khalisah, Jagau itu kucing outdoor. Vitaminnya adalah udara segar Murung Pudak dan lari pagi mengejar tikus."
"No, Abah! That’s not enough!" sela Rina Rufida yang tiba-tiba muncul sambil membawa tas mengajarnya. "Bunda juga setuju. Tadi malam Bunda baca di artikel kesehatan hewan, kucing kampung pun butuh nutrisi tambahan. Lagipula, sore ini kita ada janji bertemu Dokter Dina di Pet Shop dekat Taman Giat. Naura ingin membelikan Jagau kalung persahabatan."
Hifni menghela napas panjang. Sepertinya, melarikan diri dari pusaran keluarga Dokter Dina adalah hal yang mustahil. "Baiklah, kita bertemu di sana jam empat sore. Tapi tolong, jangan pilih kalung yang ada berliannya. Anggaran kita bukan anggaran operasional kantor."
Sore harinya, suasana di pusat kota Tanjung sangat ramai. Di depan sebuah Pet Shop modern, mobil SUV putih milik drg. Dina Yulianti sudah terparkir. Saat keluarga Hifni tiba, dua bocah bernama belakang Salsabilla itu langsung berhamburan layaknya sahabat lama yang terpisah belasan tahun, padahal baru dua hari tidak bertemu.
"Khalisah! Lihat, aku sudah pilihkan kalung warna hijau untuk Jagau! Biar sama dengan warna matanya kalau lagi marah!" seru Naura Salsabilla sambil menarik tangan Khalisah masuk ke dalam toko yang berpendingin udara itu.
Di dalam toko, pemandangan menjadi sangat kontras. Naura sibuk memilih makanan kucing premium kaleng seharga tiga puluh ribu rupiah per porsi, sementara Khalisah sibuk bertanya kepada penjaga toko apakah ada "ikan asin versi botol" untuk Jagau.
"Dokter Dina, sepertinya Naura sangat senang ya sejak berteman dengan Khalisah," buka Rina mencoba mencairkan suasana sambil melihat-lihat kandang kucing.
Dina tersenyum, matanya sesekali melirik Hifni yang berdiri agak jauh, pura-pura sibuk membaca label kandungan gizi pada karung pakan kucing seberat 20 kg. "Iya, Bu Rina. Di rumah, Naura terlalu sering sendiri. Snowee itu teman satu-satunya. Melihat dia bisa lari-larian di halaman rumah dinas kalian kemarin, saya merasa bersalah juga karena terlalu memanjakannya di dalam ruangan ber-AC."
"Anak-anak memang butuh sedikit debu tanah untuk tumbuh, Dok," timpal Hifni akhirnya bersuara, meski nadanya terdengar sangat formal, khas pejabat sedang memberikan sambutan.
Tiba-tiba, sebuah kekacauan kecil terjadi di pojok toko.
Snowee, yang dibawa Naura menggunakan tali tuntun (harness) berkilauan, mendadak mendesis keras. Di depan mereka, ada seekor kucing Maine Coon raksasa milik pelanggan lain. Snowee yang biasanya tenang, mendadak ketakutan dan mencoba melompat ke rak pajangan.
Prang!
Beberapa botol sampo kucing jatuh berserakan. Naura hampir menangis melihat Snowee ketakutan. Di saat genting itu, Khalisah maju dengan tenang. Ia melakukan sesuatu yang sering ia lakukan pada si Jagau saat kucing oren itu berkelahi dengan kucing tetangga.
"Ssssh... Snowee, tenang. Ada Khalisah di sini. Kamu kan Princess, Princess tidak boleh panik," bisik Khalisah sambil mengelus leher Snowee dengan gerakan memutar yang lembut.
Ajaibnya, Snowee perlahan tenang dan meringkuk di pelukan Khalisah. Naura ternganga melihat keberanian temannya. Dina dan Rina pun terdiam.
"Wah, Khalisah hebat! Kamu seperti pawang kucing!" puji Naura sambil menghapus air mata di pipinya.
"Abah sering bilang, kalau kita sayang sama makhluk Allah, mereka juga akan sayang sama kita. Snowee cuma kaget saja, dia tidak punya 'ilmu pasar' seperti Jagau," ucap Khalisah polos yang langsung memicu tawa semua orang di toko tersebut.
Saat hendak membayar di kasir, Dina bersikeras membayar semua belanjaan kalung dan vitamin untuk Jagau. Hifni mencoba menolak, namun Dina memberikan alasan yang sulit dibantah.
"Ini hadiah persahabatan untuk dua Salsabilla, Hif. Anggap saja... kompensasi karena namaku dan namamu pernah ada di satu lembar sertifikat organisasi dulu," ucap Dina pelan, cukup untuk didengar Hifni namun samar bagi Rina.
Rina Rufida kembali menajamkan pendengarannya. "Sertifikat apa, Dok?"
"Oh, itu... sertifikat pelatihan kepemimpinan mahasiswa tingkat provinsi. Dulu Pak Hifni ini ketua yang sangat tegas," jawab Dina dengan senyum profesionalnya yang paling manis.
Hifni hanya bisa tersenyum kaku sambil menggendong Khalisah keluar toko. Di dalam hatinya, ia merasa Murung Pudak dan Tanjung tidak lagi sesederhana dulu. Kucing-kucing ini telah membuka pintu komunikasi yang seharusnya tetap terkunci. Namun, melihat kebahagiaan di wajah Khalisah yang memeluk kalung baru untuk Jagau, Hifni tahu bahwa petualangan ini baru saja dimulai.
Fakta Menarik Bab 4:
Kucing kampung (domestik) seperti Jagau sebenarnya memiliki sistem imun yang lebih kuat dibandingkan kucing ras seperti Snowee, namun tetap memerlukan vaksinasi rutin. Bagi warga Tabalong, Anda bisa melakukan pemeriksaan rutin di Klinik Hewan atau menghubungi Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tabalong untuk informasi kesehatan ternak dan peliharaan.
Untuk perlengkapan pet shop terlengkap dengan harga kompetitif seperti yang dikunjungi keluarga Salsabilla, Anda bisa mengeceknya di Lazada atau Shopee.
