Pagi itu di Jalan G. Obos, Palangkaraya, burung-burung berkicau di dahan pohon pule, tetapi suasana di kediaman Bpk. Imran jauh dari kata tenang. Di ruang tengah, suara musik latar sinetron yang mencekam—suara organ yang ditekan berulang-ulang dengan nada suspense—menggelegar hingga ke teras.
Imran, yang sedang mencoba menikmati kopi paginya, harus rela berbagi ruang dengan istrinya yang sedang melakukan "ritual" harian. Istrinya, seorang wanita asli suku Dayak Ngaju yang memiliki nama unik: Hermione.
"Sayang," panggil Imran ragu-ragu. "Boleh volume TV-nya dikecilkan sedikit? Aku sedang membaca berkas laporan kantor, rasanya seperti sedang dikejar-kejar penagih hutang kalau musiknya begini."
Hermione tidak menoleh. Matanya terpaku pada layar yang menampilkan adegan seorang tokoh antagonis yang tersambar petir saat hendak mencuri uang kas masjid. "Ssst! Mas, lihat ini. Ini namanya 'Azab Penjual Gorengan yang Menggunakan Plastik Bekas'. Lihat, gorengannya berubah jadi batu kerikil! Mas harus lihat ini supaya Mas selalu amanah dalam bekerja!"
Imran memijat keningnya. "Aku ini PNS di bagian administrasi, Hermione. Aku tidak jualan gorengan. Dan secara logika fisika, plastik tidak bisa berubah jadi batu secepat itu..."
"Mas ini tidak punya imajinasi!" potong Hermione sambil menyeka air mata yang entah kapan munculnya. "Sinetron ini bukan soal logika, tapi soal perasaan! Soal moral! Aku menangis karena aku membayangkan kalau itu terjadi pada tetangga kita!"
Misteri di Balik Nama Hermione
Sejak mereka pindah ke komplek ini tiga tahun lalu, nama Hermione selalu menjadi bahan perbincangan. Banyak yang mengira orang tuanya adalah penggemar berat Harry Potter, tapi kenyataannya jauh lebih "lokal" dan lucu dari itu.
Sambil menunggu jeda iklan yang durasinya hampir sama dengan waktu shalat tarawih, Hermione mulai bercerita (untuk kesekian kalinya) kepada Imran yang sebenarnya sudah hafal di luar kepala.
"Dulu, waktu Ibu mengandungku di pelosok Kabupaten Katingan, ayahku sangat suka menonton sandiwara radio dan membaca koran bekas," kenang Hermione dengan nada dramatis. "Ada satu cerita tentang pahlawan wanita yang kuat dan mandiri. Ayah ingin aku jadi seperti itu. Tapi karena logat lokal kita yang kental, ayah salah dengar nama 'Harmoni'. Niatnya memberi nama 'Harmoni' supaya hidupku tenang, eh, yang tertulis di akta malah 'Hermione' karena sekretaris desa saat itu baru saja menonton film barat di bioskop kota."
Imran tersenyum tipis. Baginya, nama itu adalah berkah sekaligus musibah. Berkah karena unik, musibah karena setiap kali mereka ke Puskesmas atau Kantor Dukcapil, petugas selalu menoleh dua kali untuk memastikan apakah mereka sedang berurusan dengan penyihir dari Inggris atau bukan.
Drama di Balik Pagar
Namun, hobi Hermione menonton sinetron Indonesia yang penuh intrik telah mengubah kepribadiannya menjadi "Ratu Drama Palangkaraya". Ia sering menerapkan logika sinetron dalam kehidupan bertetangga.
"Mas, tadi aku melihat Ibu Siti Nurhaliza (istri Zaki) berbicara dengan kurir paket di depan pagar," bisik Hermione dengan nada konspirasi.
"Lalu? Namanya juga menerima paket, Hermione," jawab Imran santai.
"Tapi Mas, di sinetron 'Prahara Cinta di Tepian Kahayan', adegan itu biasanya awal dari perselingkuhan! Si kurir ternyata adalah mantan pacar yang menyamar! Aku harus menyelidiki ini. Aku harus menyelamatkan rumah tangga mereka!" Hermione mengepalkan tangannya dengan penuh semangat.
"Hermione, tolonglah... Jangan bawa-bawa plot 'Indosiar' ke dunia nyata. Siti itu cuma beli cetakan kue pukis dari e-commerce," pinta Imran memelas.
Pertemuan di "Markas Darurat"
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke arah Kalimantan Barat, ketiga suami—Zaki, Fahri, dan Imran—berkumpul di balik pagar belakang rumah mereka yang saling berdekatan. Mereka menyebutnya "Markas Darurat Tanpa Remot".
"Zaki, istrimu aman?" tanya Fahri sambil waspada melirik jendela rumahnya sendiri, takut Krisdayanti muncul dan menyuruhnya latihan vocalize ala bintang pop Hollywood.
"Aman. Dia lagi sibuk bikin subtitle manual buat drama yang belum ada terjemahannya," jawab Zaki lesu. "Tapi Imran, ada apa dengan Hermione? Tadi dia menatapku lewat lubang kunci pagar sambil memegang kamera ponsel."
Imran menghela napas panjang, suaranya nyaris berbisik. "Maafkan istriku, teman-teman. Dia sedang dalam fase 'Detektif Sinetron'. Dia curiga kalian semua punya rahasia besar yang disembunyikan. Dia bahkan curiga kalau Zaki itu sebenarnya pangeran Korea yang sedang menyamar jadi arsitek di Palangkaraya."
Zaki dan Fahri terdiam. Mereka saling pandang.
"Kalau dipikir-pikir," ujar Fahri memecah keheningan, "Kenapa hidup kita jadi lebih ribet daripada drama-drama itu ya? Kita cuma mau hidup tenang, makan ikan patin, shalat berjamaah, dan kerja halal. Tapi kenapa kita malah jadi seperti pemeran figuran di hobi mereka sendiri?"
"Karena kita mencintai mereka, Fahri," jawab Zaki bijak. "Dalam Islam, memuliakan istri itu ibadah. Tapi ya... kalau memuliakannya harus sampai pakai sepatu boots di tengah cuaca 34 derajat atau dituduh jadi pangeran yang hilang, rasanya pahalanya harusnya dua kali lipat."
Tiba-tiba, suara Hermione terdengar melengking dari kejauhan, "MAAAS IMRAN! CEPAT MASUK! ADA ADEGAN REBUTAN WARISAN DI TV! INI PENTING UNTUK MASA DEPAN KITA!"
Imran berjengit. Ia menepuk bahu kedua sahabatnya. "Aku harus pergi. Sebelum dia menganggap keterlambatanku sebagai 'tanda-tanda pengkhianatan'."
Zaki dan Fahri menatap kepergian Imran dengan rasa iba. Mereka sadar, tantangan malam ini akan lebih berat. Rencana "Diplomasi Nasi Kuning" di dermaga harus dipersiapkan dengan matang, karena jika salah langkah, mereka bertiga bisa berakhir menjadi judul sinetron esok pagi: "Tiga Suami yang Terbuang Karena Gagal Menjadi Idola".
Rekomendasi untuk Pembaca:
Apa yang terjadi saat ketiga keluarga ini benar-benar bertemu di satu meja makan? Apakah Siti, Krisdayanti, dan Hermione akan akur atau justru memperebutkan 'genre' mana yang paling keren?
Baca Selanjutnya: Bab 5: Rapat Rahasia Tiga Suami di Warung Kopi: Strategi Menghadapi Remot TV
Tips Keharmonisan:
Menurut Bimas Islam Kemenag, memahami hobi pasangan adalah bagian dari muasyarah bil ma'ruf (bergaul dengan baik), selama hobi tersebut tidak melalaikan kewajiban ibadah.
