Sabtu siang adalah jadwal sakral bagi para istri PNS di kompleks perumahan tersebut: Arisan Bulanan Ibu-Ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) tingkat kompleks. Acara ini bukan sekadar mengocok lotre uang, melainkan panggung utama bagi "gosip sehat," tukar informasi, dan ajang pamer masakan khas daerah masing-masing.
Siang ini, giliran rumah Mbak Sarah, istri Mas Toni Lurah muda, yang menjadi tuan rumah. Rumahnya ramai oleh gelak tawa dan aroma masakan opor ayam serta sambal terasi yang menusuk hidung.
Rina Rufida hadir tepat waktu, membawa piring besar berisi bingka kentang khas Banjar buatannya—senjata andalannya untuk memenangkan hati ibu-ibu kompleks. Dia mengenakan gamis batik yang santun dan matching dengan kerudungnya.
"Assalamualaikum, Mbak Sarah! Wah, ramai sekali nih, baunya sampai depan rumah," sapa Rina ceria.
"Waalaikumsalam, Bu Dosen cantik! Masuk, masuk! Pas sekali bingka-nya datang, yang lain sudah nggak sabar nyicipin," sambut Mbak Sarah dengan suara cempreng khasnya yang penuh energi.
Rina mengambil tempat duduk di karpet ruang tengah yang sudah dialasi permadani. Di sana sudah duduk beberapa ibu lain, termasuk Bu Retno, istri Kepala Dinas Perhubungan yang kalem; Bu Fatimah, istri seorang ustadz kampung yang lembut; dan beberapa istri staf biasa.
Acara dimulai dengan sambutan singkat dari Mbak Sarah selaku ketua PKK kompleks, dilanjutkan dengan sesi makan-minum. Di sinilah "gosip sehat" dimulai.
"Bu Rina, dengar-dengar suaminya Pak Hifni itu orangnya lurus sekali ya? Kemarin di kantor Bappeda katanya sempat adu argumen sama Bu Kabid senior soal laporan," celetuk salah satu ibu, memulai percakapan.
Rina tersenyum tipis. Gosip di lingkungan PNS memang secepat kilat. "Ah, biasa itu, Mbak. Namanya juga beda persepsi kerja. Mas Hifni cuma ingin kerjanya sesuai aturan aja, biar dana dari pusat cepat cair." Rina berusaha menetralisir suasana.
Bu Retno menambahkan dengan nada bijak, "Bagus itu, Bu Rina. Zaman sekarang susah cari PNS yang masih idealis. Suami saya sering cerita, Pak Hifni itu aset daerah kita di sini."
Pujian itu membuat pipi Rina sedikit memerah. Dia bangga dengan integritas suaminya.
Kemudian topik beralih ke urusan lain: pendidikan anak, harga sembako di pasar Puruk Cahu, hingga rencana perayaan Hari Kemerdekaan. Unsur komedi kehidupan bermasyarakat muncul saat Mbak Sarah mulai mengeluhkan suaminya, Mas Toni Lurah muda, yang katanya terlalu workaholic sampai lupa menjemur pakaian.
"Bayangkan, Bu! Pak Lurah itu sibuk banget sampai celana dinasnya ketlisut di jemuran tiga hari nggak kering-kering. Untung nggak lumutan!" keluh Mbak Sarah, disambut tawa seisi ruangan.
Rina ikut tertawa. Momen-momen seperti ini, di mana para istri bisa saling berbagi keluh kesah dan tawa, sangat berharga di perantauan seperti Puruk Cahu. Mereka adalah sistem pendukung satu sama lain.
Setelah sesi makan dan "gosip sehat" selesai, barulah acara inti: pengocokan arisan. Tangan Rina yang lentik memasukkan gulungan kertas nama-nama peserta ke dalam kocokan kaleng biskuit Khong Guan legendaris.
"Baik, bismillahir rahmanir rahim... Kita kocok ya!" kata Rina, bertindak sebagai bendahara arisan bulan ini.
Semua ibu menatap kaleng biskuit dengan tatapan penuh harap. Uang arisan puluhan juta rupiah itu sangat menggiurkan untuk tambahan belanja atau mungkin beli perabot baru.
"Dan yang beruntung bulan ini adalah... Bu Fatimah!" seru Rina.
Bu Fatimah, istri Ustadz yang kalem itu, langsung mengucapkan Alhamdulillah dengan mata berkaca-kaca. Dia memang sedang membutuhkan uang arisan itu untuk biaya pengobatan ibunya di Banjarmasin.
"Alhamdulillah, rezeki dari Allah lewat ibu-ibu semua. Jazakumullah khairan katsiran," ucap Bu Fatimah penuh haru.
Suasana haru menyelimuti ruangan. Di balik tawa dan obrolan ringan, arisan ini memiliki fungsi sosial yang mendalam: saling membantu sesama tetangga.
Rina merasa bersyukur menjadi bagian dari komunitas ini. Kehidupan bermasyarakat di Puruk Cahu sangat Islami dan kekeluargaan. Jauh dari hiruk pikuk kota besar yang individualistis, di sini mereka menemukan kedamaian dan kebersamaan.
Saat sore menjelang, acara arisan bubar. Rina pulang ke rumah dengan hati ringan, membawa pulang piring kosong bingka dan segudang cerita baru untuk dibagi dengan Hifni.
Di rumah, Hifni sedang menemani Khalisa menggambar di ruang tamu.
"Gimana arisannya, Bun? Menang?" tanya Hifni, melirik piring kosong di tangan Rina.
"Belum rezeki kita, Mas. Bu Fatimah yang menang, dia lagi butuh banget buat ibunya," jawab Rina, meletakkan piring.
"Alhamdulillah kalau begitu," kata Hifni tulus.
Rina duduk di samping Hifni, mulai bercerita tentang drama kantor yang sempat dibahas ibu-ibu tadi. Hifni mendengarkan sambil tersenyum.
Di Puruk Cahu, di rumah sederhana mereka, Hifni dan Rina menemukan keseimbangan sempurna antara karier profesional sebagai abdi negara dan kehidupan sosial bermasyarakat yang Islami. Kebahagiaan itu sederhana: cukup dengan arisan, bingka kentang, dan tawa Khalisa.
