Langit Manchester sore itu menyerupai selembar kain kanvas yang dicelupkan ke dalam tinta abu-abu—suram, basah, dan tak berpenghuni. Di lantai tujuh sebuah apartemen modern di kawasan Deansgate, Zaydan Al-Fatih berdiri mematung di depan jendela kaca setinggi langit-langit. Di tangannya, sebuah cangkir kopi yang sudah mendingin sejak satu jam lalu hanya menjadi pajangan.
Zaydan menatap rintik hujan yang mulai membasahi jalanan di bawah sana. Baginya, hujan di Manchester bukan lagi sebuah berkah yang menenangkan, melainkan pengingat tentang betapa dinginnya dunia ini memperlakukan jiwanya yang sedang sekarat.
Di usia 31 tahun, Zaydan memiliki segala hal yang diimpikan banyak orang: karier cemerlang sebagai arsitek senior di firma ternama, tabungan yang lebih dari cukup, dan kewarganegaraan di salah satu kota paling dinamis di Inggris. Namun, di dalam rongga dadanya, ada sebuah ruang kosong yang luasnya melebihi Old Trafford.
"Allahumma sayyiban nafi’an..." gumamnya lirih, mencoba menghidupkan kembali sunnah yang mulai terasa hambar di bibirnya.
Ia memejamkan mata. Ingatannya terseret pada peristiwa setahun lalu di Piccadilly Gardens. Di tempat yang sama saat bunga-bunga sakura mulai bermekaran, ia melepas genggaman tangan terakhir istrinya, Sarah, sebelum sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Sejak hari itu, warna-warni Manchester seolah terhapus, menyisakan spektrum monokrom yang mencekik lehernya.
Zaydan berbalik, menatap meja kerjanya yang penuh dengan cetak biru bangunan megah. Ia merasa mual. Untuk apa ia membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi ke langit jika ia sendiri tidak tahu cara untuk sampai ke sana dengan tenang?
"Dunia ini fana, Zaydan. Tapi kenapa kau begitu terpukul saat kehilangan bagian darinya?" bisik nuraninya, menghakimi.
Ia berjalan menuju sajadah yang selalu terbentang di sudut ruangan, menghadap ke arah tenggara. Setiap kali ia bersujud, ia merasakan beban gravitasi yang luar biasa, seolah bumi memanggilnya untuk segera masuk dan beristirahat di dalamnya.
"Ya Allah," bisiknya dalam sujud yang panjang. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi kain sajadah. "Dunia ini terlalu bising. Fitnah di kantor, kesepian di rumah, dan kemunafikan yang harus kukenakan setiap hari sebagai topeng... aku lelah. Jika memang tidak ada lagi kebaikan yang bisa kutabur di bumi ini, jika kehadiranku hanya akan menambah tumpukan dosa, maka jemputlah aku. Aku ingin pergi sebelum aku benar-benar kehilangan diriku."
Doa itu bukan lagi sebuah curahan hati, melainkan sebuah permohonan keputusasaan. Zaydan merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Di Manchester, ia adalah "Muslim yang sukses", namun di hadapan cermin, ia hanyalah seorang pria yang sedang menghitung hari menuju kehancuran.
Ia bangkit dari sujudnya dengan wajah pucat. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara alarm dari ponselnya—bukan adzan, karena di pusat kota Manchester, suara adzan tidak bisa berkumandang bebas di udara terbuka. Namun, di dalam hatinya, sebuah menara masjid sedang runtuh.
Malam itu, Zaydan memutuskan untuk berhenti mengejar dunia. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil, lalu menuliskan satu kalimat di halaman pertama:
"Persiapan untuk Pulang."
Ia tidak tahu kapan malaikat maut akan mengetuk pintunya di tengah gerimis Manchester, tapi ia tahu, ia ingin pintu itu segera terbuka.
