BAB 6: Sahur Pertama: Drama Alarm dan Kucing yang Ikut Bangun

BAB 6: Sahur Pertama: Drama Alarm dan Kucing yang Ikut Bangun

Lev
0
Ikuti keseruan keluarga Lev Ryley dan Anindya Putri menyambut Ramadhan 2026 di Banjarmasin. Mulai dari drama paket belanja online, tips puasa untuk anak, hingga aksi lucu kucing-kucing kesayangan mereka saat tarawih. Kisah inspiratif yang hangat, lucu, dan penuh makna!



Suasana dini hari di Jalan Pierre Tendean, Banjarmasin, masih diselimuti embun tipis yang naik dari permukaan Sungai Martapura. Di dalam rumah keluarga Lev ℛyley, keheningan pecah bukan oleh suara alarm ponsel yang canggih, melainkan oleh suara "gedebuk" dari arah dapur yang disusul dengan kicauan protes seekor kucing oranye.

Muezza, yang entah bagaimana caranya, berhasil menjatuhkan tumpukan kardus kosong bekas paket belanja Anindya yang sedianya akan dikilokan.

"Allahu Akbar... Muezza! Ini jam tiga subuh, bukan jam main sirkus!" gerutu Lev ℛyley sambil meraba-raba kacamata di nakas. Sebagai seorang praktisi IT yang sering lembur hingga tengah malam, bangun sahur adalah tantangan teknis paling berat yang ia hadapi setiap tahun.

Lev melangkah ke dapur dengan mata setengah terpejam, hanya untuk mendapati Muezza sedang duduk tegak di atas kulkas, menatapnya dengan pandangan menuntut. Di bawahnya, Anindya Putri sudah sibuk dengan celemek bermotif bunga, menyiapkan kompor.

"Nah, Bah, syukurlah sudah bangun. Mama baru saja mau menyalakan live Instagram 'Masak Sahur Kilat'. Tolong bangunkan anak-anak, ya? Terutama Maryam, dia kalau tidur sudah seperti mode hibernate laptop," ujar Anindya tanpa mengalihkan pandangan dari wajan.

Lev menghela napas, lalu memulai misi "membangunkan negara". Ia menuju kamar Aisyah Humaira. Sebagai anak sulung yang organisatoris, Aisyah ternyata sudah bangun dan sedang merapikan mukenanya. "Aisyah sudah bangun, Bah. Tadi dipanggil Muezza lewat jendela," lapornya sambil tersenyum.

Tantangan sebenarnya adalah kamar anak-anak yang lain. Ghina Qalbi terbangun hanya untuk langsung mencari ponselnya. "Bah, tunggu! Jangan dinyalakan lampunya dulu, lighting-nya belum bagus buat video 'Wake Up with Me' versi sahur!" protes Ghina sambil mengucek mata.

Sementara itu, Rayyan Zuhayr masih terbungkus rapat dalam selimutnya seperti kepompong. Lev harus menggunakan taktik khusus. "Rayyan, bangun. Katanya mau jadi jagoan puasa? Muezza saja sudah siap di meja makan, lho."

Mendengar nama kucingnya disebut, Rayyan bergerak pelan. "Muezza sudah makan, Bah?" tanya suara serak itu dari balik selimut.

"Belum, dia nunggu kamu. Ayo, bangun!"

Keluarga itu akhirnya berkumpul di meja makan. Menu sahur pertama adalah masakan khas Banjar: Ikan Haruan (Gabus) Masak Habang dan sayur bening. Wangi kayu manis dan cabai kering yang tidak pedas menyeruak, menggoda selera yang sebenarnya masih tertutup rasa kantuk.

"Ayo anak-anak, makan yang banyak. Hari ini hari pertama, cuaca Banjarmasin diprediksi cukup panas," pesan Anindya sambil menyendokkan nasi ke piring Rayyan.

Di sela-sela makan, sebuah kotak paket kecil yang tergeletak di pojok meja menarik perhatian Ghina. "Ma, ini paket apa lagi? Kok baru dibuka pas sahur?"
Anindya menepuk dahi. "Oh, itu! Itu pesanan Mama untuk Muezza. Automatic Feeder yang bisa disetel lewat Wi-Fi. Biar kalau kita lagi tadarus di masjid, Muezza tetap bisa makan tepat waktu."

Lev meletakkan sendoknya, menatap istrinya dengan tatapan tak percaya. "Bu, kucing kita ini tinggal di rumah, bukan di server room. Kenapa harus pakai otomatisasi segala?"

"Supaya modern, Bah! Masa ayahnya ahli IT tapi kucingnya masih pakai cara manual?" balas Anindya cepat, yang langsung disambut tawa oleh Aisyah dan Maryam.

Tiba-tiba, suara sirine dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin berbunyi panjang—tanda waktu Imsak tinggal sepuluh menit lagi. Suasana yang tadinya santai berubah menjadi "balapan" sendok.

"Rayyan, minum air putihnya yang banyak!" perintah Aisyah.

"Ghina, berhenti merekam, cepat habiskan nasinya!" seru Lev.

Di tengah kegaduhan itu, Muezza dengan tenangnya berjalan menuju mangkuknya yang baru saja diisi oleh Rayyan. Ia makan dengan perlahan, seolah mengejek manusia-manusia di sekitarnya yang sedang panik dikejar waktu.

Saat adzan Subuh berkumandang, keluarga Lev duduk bersandar di kursi dengan perasaan lega sekaligus kenyang yang maksimal.

"Alhamdulillah," ucap Rayyan sambil mengelus perutnya. "Abah, kalau besok sahur lagi, boleh tidak Muezza saja yang jadi alarmnya? Suaranya lebih enak daripada bunyi alarm ponsel Abah."

Lev tertawa sambil menggendong si bungsu menuju tempat wudhu. "Boleh, Ray. Asal dia tidak menjatuhkan paket Mama lagi sebagai caranya membangunkan kita."

Hari pertama puasa di tahun 2026 ini dimulai dengan tawa dan perut yang penuh. Di luar, langit Banjarmasin mulai berubah dari hitam menjadi biru gelap, mengiringi langkah keluarga Ryley menuju masjid untuk memulai lembaran ibadah di bulan suci. 

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default