Keheningan melanda koridor asrama. Wajah Maimunah masih memucat, terkejut melihat Naufal yang seharusnya sudah tiada, kini berdiri di hadapannya dengan wajah penuh penyesalan. Di belakang Maimunah, Yumi memandang Naufal dengan sorot mata terluka, sementara Zainab dan Adam hanya berdiri terdiam, menunggu reaksi Maimunah.
"Kamu... kenapa kamu bohong, Naufal?" suara Maimunah bergetar.
Naufal menunduk. "Aku... aku cuma mau kamu tahu, betapa hancurnya aku kalau kamu pergi."
"Tapi kamu nggak mati!" Maimunah menyela, air matanya tumpah. "Kamu bikin aku, Yumi, dan yang lain khawatir. Kamu bikin aku ngerasa bersalah."
"Maaf, Mun. Aku... aku cuma mau kamu sadar, kalau kamu itu penting buat aku," jawab Naufal, berusaha meraih tangan Maimunah.
Namun, Maimunah menepisnya. "Nggak, Naufal. Kamu nggak bisa seenaknya datang dan pergi, dan menyakiti hati orang."
Yumi, yang sedari tadi diam, maju selangkah. "Naufal, kamu jahat. Kamu tahu, betapa sakitnya aku saat kamu ninggalin aku dulu. Dan sekarang, kamu ngulangin lagi. Kamu bohongin semua orang."
Naufal menatap Yumi, matanya berkaca-kaca. "Yumi, aku minta maaf. Aku... aku nggak tahu harus gimana."
"Kamu nggak perlu minta maaf lagi," kata Yumi, suaranya pelan, tetapi tegas. "Kamu udah terlalu banyak minta maaf."
Naufal terdiam. Ia merasa, ia telah kehilangan segalanya.
Adam, yang melihat situasi semakin memanas, mencoba menengahi. "Naufal, lebih baik kamu pulang. Kita bisa bicarakan ini besok, saat semua udah tenang."
Naufal mengangguk. Ia menatap Maimunah, lalu Yumi, lalu Zainab dan Adam. Ia merasa, ia telah kehilangan semua teman-temannya.
Setelah Naufal pergi, Maimunah jatuh terduduk di lantai. Ia menangis tersedu-sedu. Yumi memeluk Maimunah.
"Nggak apa-apa, Mun," kata Yumi, "aku tahu, kamu pasti sakit hati."
"Aku... aku benci dia, Yumi," kata Maimunah, "aku benci dia."
"Aku tahu," jawab Yumi, "aku juga benci dia."
Zainab dan Adam ikut memeluk Maimunah. Mereka berempat berpelukan, saling menguatkan.
Keesokan harinya, Maimunah, Yumi, Zainab, dan Adam memutuskan untuk tidak memikirkan Naufal. Mereka kembali ke rutinitas mereka, mengikuti kajian, membaca Al-Quran, dan membuat snowman di depan asrama. Mereka merasa, mereka tidak lagi membutuhkan Naufal. Mereka memiliki satu sama lain.
Namun, di tengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba Yumi mendapatkan telepon dari Naufal. Naufal meminta Yumi untuk bertemu.
"Aku nggak mau, Mun," kata Yumi.
"Yumi, kamu harus ketemu dia," kata Maimunah, "kamu harus selesaikan semuanya."
Yumi mengangguk. Ia merasa, Maimunah benar. Ia harus menghadapi Naufal.
Yumi bertemu dengan Naufal di sebuah kafe. Naufal meminta maaf pada Yumi. Ia juga menceritakan, betapa ia menyesal.
"Aku tahu, aku salah, Yumi," kata Naufal. "Aku... aku cuma mau kamu tahu, kalau aku nggak pernah lupain kamu."
Yumi terdiam. Ia menatap Naufal, lalu tersenyum. "Naufal, aku udah maafin kamu."
Naufal terkejut. "Kamu... kamu maafin aku?"
"Iya," jawab Yumi, "tapi aku nggak bisa kembali sama kamu. Aku udah hijrah. Aku mau fokus sama hijrahku."
Naufal terdiam. Ia merasa, ia telah kehilangan Yumi.
Yumi dan Naufal berpisah. Yumi kembali ke asrama, dan ia menceritakan semuanya pada Maimunah, Zainab, dan Adam.
"Aku udah maafin dia, Mun," kata Yumi, "tapi aku nggak bisa kembali sama dia."
Maimunah mengangguk. "Itu pilihan yang tepat, Yumi."
Mereka berempat merasa, mereka telah menyelesaikan satu masalah. Mereka merasa, mereka bisa memulai lembaran baru.
Namun, di tengah-tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba Adam mendapatkan telepon dari ayahnya. Ayahnya meminta Adam untuk pulang.
"Ayahku sakit, Mun," kata Adam. "Aku harus pulang ke Indonesia."
Jantung Maimunah seakan berhenti berdetak. Ia menatap Adam, matanya berkaca-kaca.
To be continued...
