Bab 34: Sepatu Kotor dan Pelajaran Peduli

Bab 34: Sepatu Kotor dan Pelajaran Peduli

Lev
0
Sepatu Kotor Anak Muslim: Kisah Fajar, Fatimah dan Pelajaran Peduli Sesama di Sekolah

Pagi itu, Fajar dan Fatimah melihat pemandangan yang tidak biasa di depan gerbang sekolah. Seorang anak laki-laki sedang duduk di bangku, menunduk lesu. Anak itu adalah Fahmi, anak kelas tiga yang dikenal pendiam. Fajar dan Fatimah menghampirinya.

“Fahmi, kenapa kamu di sini? Kenapa tidak masuk kelas?” tanya Fatimah dengan suara lembut.

Fahmi tidak menjawab. Ia hanya terus menunduk. Fajar melihat ke bawah dan terkejut. Sepatu Fahmi terlihat sangat kotor, penuh dengan lumpur.

“Sepatumu kenapa kotor sekali, Fahmi?” tanya Fajar.

Fahmi akhirnya menjawab dengan suara lirih. “Tadi malam ada hujan deras. Jalan di dekat rumahku becek. Aku tidak sengaja jatuh, dan sepatuku kotor sekali.”

Fahmi merasa malu. Ia takut diejek oleh teman-temannya. Ia tidak berani masuk kelas dengan sepatu yang kotor.

Fajar dan Fatimah saling berpandangan. Mereka merasa iba. Fajar teringat pelajaran tentang kebersihan sebagian dari iman. Ia juga teringat pesan Ibu, bahwa peduli pada sesama adalah perbuatan yang disukai Allah.

“Tunggu di sini, Fahmi,” kata Fajar.

Fajar dan Fatimah bergegas masuk ke dalam kelas. Mereka mengambil sikat dan air. Mereka kembali ke tempat Fahmi.

“Fahmi, sini, biar kami bantu bersihkan sepatumu,” kata Fatimah.

Fahmi terkejut. “Tidak usah, nanti kotor lagi,” katanya.

“Tidak apa-apa, Fahmi. Kita bersihkan sama-sama,” kata Fajar.

Dengan sabar, Fajar dan Fatimah membersihkan sepatu Fahmi. Fajar menyikat lumpur, sementara Fatimah membilasnya dengan air. Sepatu Fahmi kembali bersih. Wajah Fahmi terlihat cerah.

“Terima kasih, Fajar, Fatimah,” ucap Fahmi. “Aku jadi tidak malu lagi masuk kelas.”

Fajar dan Fatimah tersenyum. “Sama-sama, Fahmi. Kita kan teman,” jawab Fajar.

Mereka bertiga masuk ke dalam kelas. Teman-teman yang lain melihat sepatu Fahmi sudah bersih. Mereka tidak ada yang mengejek. Mereka justru memuji kebaikan Fajar dan Fatimah.

Malam harinya, saat pulang sekolah, Fajar berkata pada Fatimah. “Kak, aku senang bisa membantu Fahmi.”

Fatimah mengangguk. “Iya, Jar. Membantu orang lain yang kesusahan itu rasanya menyenangkan. Dan itu juga membuat kita lebih bersyukur.”

Fajar belajar, kepedulian itu bukan hanya tentang memberi uang atau barang. Kepedulian juga bisa berupa bantuan kecil yang tulus, yang bisa membuat orang lain tersenyum. Dan kebahagiaan itu, seperti sepatu bersih Fahmi, akan selalu membawa kebaikan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default