Sementara drama kecurigaan mulai memercik di Jakarta, situasi di sebuah rumah bertingkat di kawasan Kayu Tangi, Banjarmasin, justru menyerupai pangkalan logistik ekspedisi.
Lev ℛyley, seorang pria berkacamata dengan pembawaan tenang khas pekerja teknologi informasi (IT guy), hanya bisa berdiri terpaku di depan pintu rumahnya. Halaman rumah yang biasanya rapi kini tertutup oleh belasan kardus dan kantong plastik oranye khas e-commerce.
"Paket! Atas nama Ibu Anindya Putri!" teriak seorang kurir yang tampak napasnya terengah-engah, membawa tiga kotak besar lagi di atas motornya.
"Astaghfirullahaladzim... Bujur jua kah ini, Ummi?" gumam Lev sambil mengusap wajahnya yang lelah. Tangan kanannya menandatangani resi digital, sementara tangan kirinya memindahkan kotak-kotak tersebut agar jalan masuk tidak tertutup.
Dari dalam rumah, muncul Anindya Putri dengan jilbab instan yang terpasang sedikit miring karena sibuk. Wajahnya berseri-seri melihat tumpukan paket tersebut. Sebagai seorang influencer belanja lokal sekaligus penggerak majelis taklim ibu-ibu di Banjarmasin, Anindya tahu betul cara mempersiapkan penampilan.
"Eh, Abah! Sudah datang kah semuanya? Alhamdulillah!" seru Anindya riang, langsung berjongkok untuk merobek selotip salah satu kardus besar. "Ini gamis sasirangan eksklusif model travel-friendly, Bah. Bahannya adem, pas betul kalau dipakai waktu kita nonton di Kanada nanti. Biar kain khas Banua makin viral di dunia!"
Lev hanya bisa menghela napas panjang sambil menghitung sisa saldo tabungannya dalam hati. "Ummi, kita ini mau menonton pertandingan sepak bola, bukan mau membuka stan pasar wadai di stadion Amerika. Kenapa barangnya sebanyak ini?"
Belum sempat Anindya menjawab, langkah kaki yang mantap terdengar dari arah tangga. Aisyah Humaira (19 tahun), anak sulung mereka yang merupakan mahasiswi PGSD di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), turun dengan membawa sebuah papan jalan (board clipboard) dan puluhan lembar kertas print out. Sebagai mantan ketua osis dan aktivis organisasi kampus yang sangat terstruktur, Aisyah langsung mengambil posisi di tengah ruangan.
"Perhatian semuanya! Tolong berkumpul dulu!" suara Aisyah lantang, membuat adiknya, Ghina Qalbi (13 tahun), yang sedang asyik merekam video unboxing menggunakan ponselnya, langsung mendengus kesal.
"Ihh, Kak Aisyah ini merusak estetika video live ulun saja," protes Ghina, si bungsu perempuan yang ekspresif dan hobi menjadi komentator barang-barang aesthetic.
"Tidak ada estetika-estetikaan, Ghina! Kita berangkat tiga hari lagi lintas tiga negara!" tegas Aisyah sambil membagikan kertas rundown perjalanan yang sangat detail. "Ini jadwal salat selama di perjalanan, daftar barang bawaan wajib, dan rute transit kita di Toronto, Kanada. Semua harus patuh pada komando ulun sebagai Ketua Tur."
Di sudut sofa, Maryam Safiya (16 tahun), anak kedua yang pendiam dan artistik, hanya tersenyum tipis. Tangannya sibuk menggambar sketsa kecil sebuah pesawat di buku catatannya, sementara matanya sesekali melirik layar gawai untuk memeriksa aplikasi thrifting luar negeri, mencari tahu pasar loak mana yang paling estetik di Amerika nanti.
"Lalu, jagoan kecil kita di mana?" tanya Lev, menyadari ada satu anggota keluarga yang kurang.
Tepat setelah pertanyaan itu terlontar, Rayyan Zuhayr (7 tahun) berlari keluar dari bawah meja makan. Ia mengenakan jersi timnas Brasil berwarna kuning terang yang ukurannya terlalu besar hingga menyentuh lututnya. Di tangannya, ia memeluk sebuah bola plastik kecil berwarna kuning stabilo.
"Abah! Rayyan sudah siap! Rayyan hanya mau ikut kalau bolanya warna kuning seperti ini! Kalau bolanya warna putih, Rayyan mogok makan di pesawat!" seru Rayyan dengan kepolosan anak kecil yang membuat seluruh ruangan mendadak hening, sebelum akhirnya pecah oleh tawa renyah sang ibu.
Lev menarik napas dalam-dalam, menatap istri yang sibuk memilah gamis, anak sulung yang galak mengatur jadwal ibadah, anak kedua yang asyik dengan dunianya sendiri, anak ketiga yang hobi live streaming, dan si bungsu yang hanya peduli pada warna bola.
"Ya Allah... Berikan hamba kesabaran ekstra untuk memimpin rombongan sirkus ini sampai ke benua Amerika," doa Lev dalam hati, menyadari petualangan mereka menuju Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian iman dan kesabaran yang sesungguhnya.
