Sinopsis
Seorang musisi jalanan yang kesepian bernama Lev, bersembunyi dari masa lalu tragisnya di balik senandung gitarnya di jalanan Manchester. Hidupnya yang monoton berubah ketika dia bertemu Vania, seorang seniman jalanan yang ceria dan penuh semangat, yang membawanya kembali kepada warna kehidupan. Namun, kebahagiaan mereka terusik saat Anatasya, mantan kekasih Lev yang misterius dari masa lalu, muncul kembali dengan rahasia yang mengancam untuk meruntuhkan semua yang telah mereka bangun. Novel ini adalah perjalanan tentang bagaimana Manchester, dengan hujan dan arsitekturnya yang kelabu, menjadi saksi bisu sebuah kisah cinta segitiga yang menyakitkan, dan bagaimana kehilangan bisa menguatkan, bukan menghancurkan.
Profil Karakter
Lev (28): Musisi jalanan yang berbakat, cenderung introspektif dan diliputi kesedihan masa lalu. Bermain musik adalah cara untuknya menghindar dari kenyataan.
Vania (25): Seniman visual yang ceria dan optimis. Dia memiliki galeri kecil di Northern Quarter, Manchester, dan percaya pada keajaiban di balik hal-hal sederhana.
Anatasya (28): Seorang fotografer profesional yang sukses, dingin, dan tertutup. Kedatangannya membawa kembali luka lama dan misteri yang belum terpecahkan.
Bagian 1: Melodi yang Hilang
Bab 1: Lev, sang musisi jalanan
Manchester di Musim Dingin
Kota Manchester diselimuti kabut dingin musim dingin. Lampu jalan menyala lemah, membuat bayangan panjang di jalan-jalan kosong. Suara musik akustik Lev menggema di Northern Quarter, berbaur dengan suara deru angin.
Lev: duduk di trotoar, gitar akustik di pangkuannya. Jari-jarinya bergerak cepat, memetik senar dengan emosi. Matanya tertutup, mengenang kenangan pahit. Dia bernyanyi dengan suara lembut, berharap musiknya bisa menghilangkan kesedihan.
(Pagi di Manchester. Langit kelabu, rintik hujan turun perlahan. Lev duduk di sebuah sudut jalan di Northern Quarter, dengan gitar di tangannya. Kotak gitar terbuka di depannya. Tidak banyak pejalan kaki yang berhenti, tetapi Lev terus bermain. Ia menyanyikan sebuah lagu yang menyentuh hati, dengan nada yang melankolis.)
(Narasi) Hujan Manchester adalah musik bagi Lev, setiap tetesnya seolah mengiringi petikan gitarnya yang sendu. Di balik melodinya, ia menyembunyikan masa lalu yang telah merenggut kebahagiaannya.
(Dialog)
Seorang Pejalan Kaki: (Berhenti sejenak, melihat Lev, lalu melempar beberapa koin ke kotak gitar. Tidak mengatakan apa-apa.)
Lev: (Menunduk, tersenyum kecil sebagai tanda terima kasih.)
(Narasi) Sebuah lagu selesai. Lev menghela napas, menutup matanya sejenak, dan membiarkan alunan hujan mengisi keheningan. Ia membayangkan sebuah wajah yang sudah lama tidak ia lihat.
(Dialog)
Seorang Wanita: (Berhenti, melihat Lev. Ia tidak melempar uang, hanya berdiri di sana dan mendengarkan. Ia memiliki rambut pirang dan mata biru yang bersinar.)
Lev: (Membuka mata, melihat wanita itu, lalu kembali ke gitarnya.)
Wanita: (Tersenyum, lalu pergi. Namun, ia kembali dengan sebuah payung dan menyodorkannya kepada Lev.)
Lev: (Terkejut) Maaf... tapi aku...
Wanita: (Memotong pembicaraan) Aku Vania. Aku suka musikmu. Itu mengingatkanku pada hujan. Bukan hujan yang menyedihkan, tapi hujan yang membawa harapan.
Lev: (Tersenyum tulus) Terima kasih.
