Sinopsis
Bagi Lev Ryley, seorang fotografer muda dengan selera humor yang unik, Eropa adalah kanvas kosong yang siap dilukis dengan berbagai kisah. Setelah menerima beasiswa bergengsi, ia memulai perjalanannya dari Ankara, bukan untuk mencari cinta, melainkan untuk mengejar makna dan memotret jejak Islam yang tersembunyi di sudut-sudut benua biru.
Di sinilah ia bertemu Emily, seorang mahasiswi antropologi yang cerdas dan pragmatis. Pertemuan mereka yang tak disengaja di sebuah masjid tua di Ankara menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Mereka memiliki tujuan berbeda, namun takdir sering kali bekerja dengan cara yang lucu.
Novel ini mengisahkan perjalanan mereka dari satu kota ke kota lain, dari Ankara yang kaya sejarah hingga Manchester yang modern dan beragam. Mereka menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari, kesalahpahaman budaya yang kocak, dan menemukan keindahan Islam dalam interaksi dengan komunitas lokal. Ini bukan kisah romansa, melainkan perayaan persahabatan yang tulus, penemuan diri, dan tawa di tengah ketidaksempurnaan.
Judul Novel Lev's European Sketchbook
Bab 1: Ankara, Bukan Istanbul
Lev Ryley menggeser ranselnya yang terasa lebih berat dari biasanya. Berat karena ekspektasi, mungkin. Ekspektasi akan kubah-kubah megah, keramaian grand bazaar, dan hiruk-pikuk Istanbul yang sering ia lihat di film-film Hollywood. Namun, saat roda pesawat mendarat mulus di Bandara Esenboğa, layar di depannya menampilkan tulisan besar: Welcome to Ankara.
"Ankara?" gumam Lev, merasa ada yang tidak beres. Bukannya ia tidak suka Ankara, ia bahkan belum tahu apa-apa tentang kota ini. Masalahnya, ia sudah mempersiapkan diri sepenuhnya untuk Istanbul. Ia sudah menghafal jalur trem, mencari tahu tempat makan kebab terbaik di dekat Hagia Sophia, dan bahkan memesan satu pasang sepatu kets baru khusus untuk menyusuri jalanan sempit yang berbatu. Seluruh rencananya buyar.
Lev Ryley adalah seorang fotografer muda dengan selera humor yang terkadang hanya ia sendiri yang mengerti. Ia mendapatkan beasiswa bergengsi untuk memotret jejak-jejak peradaban Islam di Eropa. Misi utamanya adalah menangkap potret kehidupan nyata, bukan sekadar monumen historis. Ia ingin menunjukkan bahwa Islam hidup dan bernapas di setiap sudut kota, dalam tawa anak-anak, sapaan hangat para pedagang, dan keheningan di dalam masjid. Namun, memulai perjalanan di kota yang tidak ia kenal sama sekali adalah sebuah komedi yang tidak ia inginkan.
Setelah melewati imigrasi dan mengambil kopernya, Lev mengikuti arus para penumpang lain. Ia menyadari sesuatu. Di luar sana, hujan turun rintik-rintik, membasahi kaca jendela. Udara dingin langsung menerpa saat ia melangkah keluar bandara. Ankara terasa berbeda. Lebih tenang, lebih teratur. Tidak ada keramaian yang memekakkan telinga seperti yang ia bayangkan dari Istanbul.
Sambil menunggu bus menuju pusat kota, ia membuka ponselnya dan melakukan pencarian singkat. "Ankara ... ibu kota Turki, ya," bisiknya pada diri sendiri, merasa bodoh. "Kenapa aku bisa mengira ini Istanbul?" Sebuah kesalahan konyol yang mungkin akan menjadi bahan lelucon untuk dirinya sendiri nanti.
Sesampainya di kawasan Ulus, Lev turun dari bus. Langit masih mendung. Arsitektur kota terasa kental dengan perpaduan antara nuansa modern dan peninggalan Romawi. Ia menyusuri jalanan, matanya mencari petunjuk. Tujuannya adalah sebuah masjid tua yang terdaftar di dalam daftar lokasi yang diberikan pihak beasiswa: Masjid Ahi Elvan.
Lev tersesat. Ini fakta. Ia sudah berputar-putar di area yang sama selama hampir setengah jam. Setiap kali ia merasa menemukan jalan yang benar, jalan itu justru membawanya kembali ke titik semula. Ia mulai frustrasi, apalagi beberapa orang yang ia tanya berbahasa Inggris dengan terbata-bata.
Di salah satu gang kecil yang sepi, Lev menurunkan ranselnya dan duduk di anak tangga sebuah toko yang tutup. Ia mengeluarkan peta usang yang ia bawa, seolah peta itu bisa memberinya jawaban. Tapi sia-sia. Peta itu hanya menunjukkan jalan-jalan utama.
"Mencari jalan?"
Sebuah suara perempuan mengejutkannya. Lev mendongak dan melihat seorang perempuan muda berdiri di hadapannya, mengenakan trench coat berwarna khaki dan syal yang elegan. Ia memiliki senyum yang ramah, tetapi juga tampak menahan tawa.
"Ehm, ya," jawab Lev, bangkit berdiri. "Aku... mencari Masjid Ahi Elvan. Tapi sepertinya aku tidak pandai membaca peta."
Perempuan itu tertawa pelan. "Peta itu sudah tidak relevan. Ada aplikasi di ponselmu, kan?"
Lev meringis. "Aku... ingin merasakan sensasi petualangan," dalihnya, meskipun ia tahu itu terdengar konyol.
"Petualangan yang membuatmu tersesat?" perempuan itu melanjutkan dengan senyum yang semakin lebar. "Aku Emily. Dan kebetulan, aku tahu jalan ke sana."
Mata Lev berbinar. "Serius? Aku Lev. Terima kasih banyak!"
Emily mengangguk, lalu mulai berjalan. Lev buru-buru menyambar ranselnya dan mengikutinya. Mereka berjalan beriringan. Emily menjelaskan bahwa ia seorang mahasiswi antropologi yang sedang melakukan penelitian tentang komunitas Muslim di Eropa. Ia fasih berbahasa Inggris dan tahu banyak tentang sejarah kota Ankara.
"Jadi, kamu datang ke Ankara untuk memotret?" tanya Emily.
"Ya," jawab Lev. "Aku ingin memotret lebih dari sekadar bangunan. Aku ingin menangkap esensi kehidupan, interaksi, dan... yah, kamu tahu, hal-hal yang tidak ada di brosur wisata."
"Ide yang bagus," puji Emily. "Banyak orang melewatkan Ankara karena mereka langsung terbang ke Istanbul. Padahal Ankara punya banyak cerita."
Tiba-tiba, Emily berhenti di depan sebuah bangunan tua dengan arsitektur sederhana namun kokoh. "Itu dia," katanya, menunjuk ke arah masjid.
Lev tertegun. Masjid Ahi Elvan jauh dari kesan megah yang ia bayangkan. Tidak ada kubah raksasa atau menara yang menjulang tinggi seperti yang ia lihat di Hagia Sophia. Bangunan itu lebih mirip rumah kuno, terbuat dari batu, dengan jendela-jendela kecil. Namun, di balik kesederhanaannya, Lev merasakan aura ketenangan yang kuat.
"Ini... sungguh indah," gumam Lev, mengeluarkan kameranya.
"Setiap keindahan punya ceritanya sendiri," kata Emily. "Yang penting, bukan seberapa megahnya, tapi seberapa dalamnya ia menyentuh hati."
Lev memotret masjid itu dari berbagai sudut. Ia memotret pintu kayu yang sudah dimakan usia, jendela-jendela kecil yang memancarkan cahaya lembut dari dalam, dan bahkan detail ukiran pada dinding. Emily hanya berdiri di sampingnya, mengamati.
Saat Lev selesai, ia menoleh pada Emily. "Bagaimana aku bisa membalas budi?"
Emily tersenyum. "Bagaimana kalau kamu mentraktirku makan malam? Aku tahu tempat yang enak, dan aku bisa ceritakan semua hal yang tidak ada di peta usangmu itu."
Lev tertawa. "Deal!"
Pertemuan di bawah langit mendung Ankara itu terasa seperti takdir yang konyol. Lev, dengan semua ekspektasinya yang keliru, dan Emily, dengan semua pengetahuannya yang mendalam. Mereka berdua, di tengah kota yang bukan tujuan utama Lev, memulai sebuah persahabatan yang jauh lebih berharga dari sekadar foto yang sempurna. Ankara, bukan Istanbul, ternyata telah menyiapkan kejutan terindahnya.

35 bab
BalasHapus