Beberapa minggu berlalu sejak Jessica mengunjungi komunitas Muslim, dan ide untuk melakukan perjalanan melintasi Australia semakin matang. Rencana awal yang hanya sebatas obrolan kini berubah menjadi proyek serius. Mereka mulai menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk road trip dari Perth ke Adelaide, sebuah perjalanan yang akan memakan waktu berhari-hari.
Sore itu, Lev dan Jessica bertemu di sebuah kedai kopi di dekat kampus, kertas dan peta terbentang di meja.
"Menurut Google Maps, perjalanan ini bisa ditempuh dalam dua hari non-stop," kata Jessica. "Tapi kita tidak mau terburu-buru, kan?"
"Tentu tidak. Ini bukan balapan, Jess," jawab Lev sambil menyeduh tehnya. "Kita mau menikmati setiap perhentian. Aku ingin melihat gurun Australia yang terkenal itu. Namanya apa?"
"Nullarbor Plain," jawab Jessica. "Itu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Kita akan melewati area yang sangat luas, hanya ada padang rumput dan jalanan panjang yang seolah tak berujung. Kadang ada kanguru yang menyeberang."
Ide melihat kanguru di alam liar membuat Lev bersemangat. "Aku jadi tidak sabar! Tapi apakah aman?"
"Selama kita berhati-hati, semuanya aman," Jessica meyakinkan. "Aku sudah sering melakukan road trip dengan orang tuaku. Kita akan menyewa mobil yang tangguh, membawa perbekalan yang cukup, dan merencanakan semua dengan matang."
Tentu saja, drama kecil tak terhindarkan saat mereka berdiskusi.
"Aku akan bawa perbekalan makanan halal dari sini. Mungkin ada kebab beku atau rendang kemasan," usul Lev.
"Tentu. Aku juga akan bawa banyak camilan," kata Jessica. "Tapi, Lev, apa kamu tidak bisa makan roti isi ham atau sosis babi?"
Lev menggeleng. "Tidak, Jess. Itu tidak halal."
Jessica menghela napas. "Oke, oke. Tidak ada daging babi selama perjalanan," katanya, pura-pura sedih. "Tapi bagaimana dengan minum bir saat kita sudah sampai di Adelaide nanti?"
"Tidak, Jess. Aku sudah bilang, alkohol juga tidak diperbolehkan," jawab Lev.
"Aduh, ya sudah. Tidak ada bir. Hanya ada jus buah," kata Jessica sambil cemberut, menciptakan suasana komedi yang sering mereka lakukan.
Setelah berjam-jam merencanakan, mereka akhirnya memiliki rencana perjalanan yang solid. Mereka akan menginap di motel-motel kecil di sepanjang jalan dan mencoba makanan lokal yang tidak mengandung babi atau alkohol. Jessica akan mengemudi, dan Lev akan menjadi pemandu jalan sekaligus DJ dadakan yang memutar lagu-lagu Islami dan Banjar.
Malam terakhir di Perth sebelum keberangkatan, mereka mengadakan pesta perpisahan sederhana dengan teman-teman dekat. Lev menyampaikan pidato singkat.
"Terima kasih untuk semuanya, teman-teman," katanya dengan suara bergetar. "Aku tidak menyangka bisa menemukan teman-teman yang begitu baik di sini. Perth akan selalu menjadi tempat istimewa di hatiku."
Teman-teman mereka bertepuk tangan dan memeluk mereka. Sarah, yang pertama kali menyambut Lev di bandara, memeluknya dengan erat. "Jaga dirimu baik-baik, Lev. Dan jangan lupa ceritakan semua petualanganmu nanti!"
Malam itu diakhiri dengan tawa dan kenangan yang tak terlupakan. Lev kembali ke kamarnya dengan perasaan haru. Ia melihat sajadahnya terlipat rapi di sudut kamar. Ia mengambilnya, berwudhu, dan shalat isya. Dalam doanya, ia meminta kepada Allah agar perjalanannya aman dan penuh berkah.
Esok paginya, tepat saat matahari terbit, Lev dan Jessica memulai perjalanan mereka. Mobil yang mereka sewa sudah siap dengan tas ransel dan bekal makanan. Lev menatap pemandangan kota Perth yang perlahan menghilang dari pandangannya, digantikan oleh pemandangan jalanan panjang yang membentang di depan mata.
"Siap, Jess?" tanya Lev.
"Siap, Kapten!" jawab Jessica bersemangat.
Jessica memasukkan kunci mobil, memutar musik, dan menginjak gas. Mereka meninggalkan Perth, kota yang telah memberi mereka banyak kenangan, menuju petualangan baru di Adelaide. Di depan sana, terbentang gurun Nullarbor yang luas dan menantang. Tapi Lev dan Jessica tidak takut. Mereka punya persahabatan, iman, dan humor sebagai bekal. Petualangan mereka yang sesungguhnya baru saja dimulai.
