Pagi itu, toko "Memori Abadi" terasa lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena Eva sedang merenung, mengenang kencannya yang canggung dengan Alex. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia sudah terbiasa dengan perpisahan, bahwa kencan aneh ini hanyalah satu lagi bab dalam buku panjang kehidupannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Alex memiliki semangat yang mengingatkannya pada Daniel Finch, si kapten yang gagah, namun juga pada Eleanor, si sahabat yang bijaksana. Dan kombinasi itu, secara aneh, membuatnya merasa lebih takut.
Saat ia sedang membersihkan rak-rak buku yang berdebu, bel pintu berdering, memecah kesunyian. Seorang wanita paruh baya masuk, jaket bulunya tebal dan ekspresi wajahnya serius. Wanita itu adalah seorang kolektor barang-barang antik yang ia kenal, bernama Martha. Martha dikenal sebagai orang yang blak-blakan dan tidak banyak basa-basi.
"Eva," sapa Martha, tatapannya langsung tertuju pada rak di sudut. "Aku dengar kau punya barang-barang langka di sini. Aku sedang mencari sebuah kotak perhiasan kuno. Apakah kau punya?"
"Tergantung kunonya seberapa," jawab Eva, tersenyum kecil.
Martha mengabaikan lelucon itu dan berjalan ke rak buku yang baru saja Eva bersihkan. Matanya tertuju pada sebuah benda kecil yang tersembunyi di belakang tumpukan buku. Itu adalah sebuah liontin perak, berbentuk seperti daun pohon. Liontin itu digantung pada rantai perak yang sudah menghitam. Benda itu tampak kuno, tetapi tidak terlalu mencolok.
"Itu apa?" tanya Martha.
"Itu hanya liontin tua," jawab Eva, mencoba mengalihkan perhatian Martha.
"Biar aku lihat," kata Martha, suaranya dipenuhi otoritas.
Eva menghela napas, lalu mengambil liontin itu dan memberikannya pada Martha. Martha memegangnya dengan hati-hati. Wajahnya, yang biasanya dingin, menunjukkan ekspresi yang aneh. Mata Martha melebar, dan tangannya sedikit gemetar.
"Aku tidak percaya," gumam Martha. "Ini..."
Eva segera tahu ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa?" tanyanya, suaranya sedikit tegang.
"Liontin ini," kata Martha, menunjuk ke ukiran daunnya. "Ini adalah lambang keluarga ibuku. Ibuku sering menceritakan tentang liontin yang hilang. Liontin ini dimiliki oleh nenek buyutnya. Tapi tidak ada yang tahu di mana ia menghilang. Mereka bilang, nenek buyutku... menghilang."
Eva merasa jantungnya berdebar. Ia ingat liontin itu. Itu adalah miliknya. Ia telah memakainya selama berpuluh-puluh tahun di sebuah desa kecil di pegunungan, ratusan tahun yang lalu. Ia telah memberikannya kepada seorang gadis kecil, seorang yatim piatu, yang ia rawat selama beberapa tahun. Gadis itu adalah nenek buyut Martha. Eva telah memberikannya sebagai hadiah perpisahan, saat ia memutuskan untuk pergi mencari tempat baru.
Eva menelan ludahnya. Ia telah menghilang, ya. Menghilang, agar tidak perlu menjelaskan mengapa ia tidak menua.
"Aku... aku menemukannya di sebuah kotak lama di sini," jawab Eva, mencari-cari alasan.
"Tapi... ukirannya sangat... unik," kata Martha, masih tidak percaya. "Lambang ini hanya digunakan oleh keluarga kami."
"Mungkin kebetulan?" Eva mencoba.
"Tidak mungkin," kata Martha, menggelengkan kepalanya. "Lambang ini juga memiliki ukiran kecil di belakangnya... berupa tanggal. Tanggal kelahiran nenek buyutku."
Eva membeku. Ia lupa tentang ukiran di belakangnya. Ia telah meminta pengrajin terbaik untuk mengukir tanggal itu di belakang liontin sebagai hadiah ulang tahun pertama si gadis kecil. Ia tidak menyangka liontin itu akan kembali kepadanya, dalam keadaan utuh, melalui tangan cicitnya.
Martha kemudian tersenyum, senyum yang hangat dan penuh rasa terima kasih. Senyum yang sangat jarang ia tunjukkan. "Ini adalah keajaiban, Eva. Kau tidak tahu seberapa besar artinya ini bagi keluargaku. Ini adalah peninggalan terakhir yang kami miliki dari nenek buyut kami."
Eva hanya bisa mengangguk. Ia merasakan campur aduk perasaan. Ada kebahagiaan karena liontin itu telah kembali ke pemilik aslinya. Tetapi juga ada ketakutan. Ketakutan bahwa masa lalunya, yang ia kubur dalam-dalam, akan terus-menerus muncul ke permukaan.
"Berapa harganya?" tanya Martha.
"Ambil saja," jawab Eva, dengan suara yang lembut. "Itu milikmu."
Martha terkejut, tapi tidak menolak. Ia memeluk liontin itu erat-erat. "Terima kasih, Eva. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu."
Setelah Martha pergi, Eva kembali merasa sendiri. Sendiri, dikelilingi oleh kenangan. Liontin itu adalah pengingat yang kejam. Pengingat bahwa tidak peduli seberapa jauh ia pergi, masa lalunya akan selalu mengikutinya. Pengingat bahwa ia akan selalu menjadi bagian dari kisah yang sudah berakhir. Ia duduk di kursinya, Lief kembali naik ke pangkuannya, dan ia membiarkan air mata mengalir. Air mata untuk gadis kecil yang ia tinggalkan, dan untuk dirinya sendiri, yang tidak pernah bisa menemukan tempat di mana ia bisa benar-benar beristirahat.
