Meskipun Kesultanan Banjar telah mencapai kedamaian dan kemakmuran, bayang-bayang baru mulai mengintai dari cakrawala. Kali ini bukan dari kerajaan tetangga yang iri, melainkan dari kekuatan yang lebih besar dan lebih ambisius. Kapal-kapal dagang dari bangsa asing, dengan bendera yang tidak dikenal, mulai sering berlabuh di pelabuhan Banjar. Mereka membawa barang-barang mewah, tetapi di balik perdagangan itu, tersembunyi niat yang lebih jahat.
Sultan Suriansyah, yang kini lebih tua dan berpengalaman, menyadari ancaman ini. Ia mengamati gerak-gerik para pedagang asing, melihat bagaimana mereka berusaha menjalin hubungan dengan para pembesar istana, dan bagaimana mereka mencoba memanipulasi perdagangan Banjar. Ia tahu, bangsa asing ini bukanlah teman, melainkan musuh yang menyamar.
Suatu hari, seorang pedagang asing bernama Van der Bilt, yang berasal dari Belanda, datang ke istana dan meminta audiensi dengan Sultan. Van der Bilt adalah seorang pria licik, dengan senyum yang ramah, tetapi mata yang dingin. "Paduka," katanya, "kami ingin menjalin hubungan dagang yang lebih erat dengan Kesultanan Banjar. Kami ingin membangun sebuah pos dagang di sini, yang akan menguntungkan kedua belah pihak."
Sultan Suriansyah, yang telah mendapatkan informasi dari mata-matanya, tahu bahwa pos dagang itu hanyalah awal dari upaya penjajahan. Ia menolak tawaran itu dengan sopan. "Terima kasih atas tawaran Anda, Van der Bilt," katanya. "Tetapi kami merasa tidak perlu pos dagang di sini. Kami sudah memiliki sistem perdagangan yang berjalan dengan baik."
Van der Bilt, yang terkejut dengan penolakan itu, tidak menyerah. Ia mencoba menyuap para pembesar istana, memberikan mereka hadiah-hadiah mewah, dan menjanjikan kekuasaan. Beberapa pembesar yang serakah mulai tergoda. Mereka bertemu secara rahasia dengan Van der Bilt, merencanakan cara untuk menggulingkan Sultan Suriansyah.
Sultan Suriansyah menyadari intrik ini. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu. Ia memutuskan untuk bertindak cepat. Ia memanggil Sangkuriang dan Bagus. "Sangkuriang, perkuat patroli di laut. Jangan biarkan kapal-kapal asing berlabuh di pelabuhan kita tanpa izin. Bagus, perkuat pertahanan di darat. Siapkan pasukan kita untuk kemungkinan terburuk."
Sultan Suriansyah juga mengumpulkan para pembesar yang setia, dan menjelaskan rencana para pengkhianat. "Kita harus bersatu," katanya. "Jika kita tidak bersatu, kita akan hancur."
Namun, Van der Bilt dan para pembesar yang korup sudah melangkah jauh. Mereka berhasil menyebarkan desas-desus palsu di kalangan rakyat, mengatakan bahwa Sultan Suriansyah telah bersekutu dengan bangsa asing. Desas-desus itu membuat beberapa rakyat mulai ragu, dan membuat beberapa pasukan mulai tidak setia.
Konflik internal pun pecah. Para pembesar yang berkhianat, didukung oleh bangsa asing, mencoba untuk menggulingkan Sultan Suriansyah. Namun, Sultan Suriansyah, dengan dukungan dari Bagus, Sangkuriang, dan rakyat yang setia, berhasil mengalahkan mereka. Van der Bilt dan para pengkhianat ditangkap, dan ancaman dari bangsa asing berhasil dipadamkan untuk sementara.
Namun, Sultan Suriansyah tahu, ini hanyalah awal. Bangsa asing tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan kembali, dengan kekuatan yang lebih besar, dan dengan ambisi yang lebih jahat. Ia tahu, ia harus bersiap untuk pertempuran yang lebih besar, pertempuran yang akan menentukan nasib Kesultanan Banjar untuk selamanya.
Bab ini berakhir dengan Sultan Suriansyah yang berdiri di atas sebuah menara di istananya, memandang ke arah laut. Ia melihat kapal-kapal asing berlayar di cakrawala. Ia tahu, perang sudah di depan mata. Tetapi ia tidak takut. Ia telah berjuang sepanjang hidupnya, dan ia akan terus berjuang untuk melindungi rakyatnya, Kesultanan Banjar, dan warisannya.
