Pagi masih malu-malu menunjukkan sinarnya saat mobil sewaan Faris melaju membelah jalanan Banjarmasin menuju dermaga di tepi Sungai Barito. Udara pagi khas kota air itu terasa sejuk, membawa aroma lumpur basah dan kesibukan nelayan yang mulai beraktivitas. Tujuan pertama mereka bukanlah pantai, melainkan pemanasan yang ikonik: Pulau Kembang.
"Pemanasan dulu, guys! Pulau Kembang ini wajib hukumnya sebelum kita road trip jauh," seru Faris sambil mengeluarkan kameranya dari tas.
Mereka menyewa sebuah klotok, perahu kayu bermesin khas Banjarmasin. Zahra sudah siap dengan vlognya, berdiri di bagian depan perahu dengan gaya presenter profesional. "Lihat guys, kita menembus kabut pagi di Sungai Barito! Sensasinya kayak di film-film petualangan, tapi versi halal!"
Aisyah yang duduk tenang di belakangnya hanya bisa menggelengkan kepala. "Zahra, duduk yang manis. Nanti jatuh ke sungai baru tahu rasa."
Perjalanan menyusuri sungai memberikan ketenangan tersendiri bagi Lev. Ia memperhatikan kehidupan di tepian sungai, rumah-rumah lanting, dan anak-anak yang riang mandi di air keruh. Ada vitalitas yang dulu tak ia sadari dari kota kelahirannya ini.
Tak berapa lama, klotok merapat di dermaga Pulau Kembang. Pulau ini adalah cagar alam kecil yang didominasi oleh hutan bakau dan dihuni ratusan kera liar, termasuk Bekantan—monyet hidung panjang endemik Kalimantan yang dilindungi.
Begitu turun, rombongan kera langsung menyambut mereka. Zahra yang heboh langsung mengeluarkan sekantong kacang. "Halo bestie online-ku! Mau kacang nggak?"
Malang tak dapat ditolak, seekor kera yang lebih lincah melompat, menyambar topi pantai Zahra, dan kabur ke atas pohon.
"Topiku! Topi limited edition!" teriak Zahra histeris. Aisyah dan Lev menahan tawa, sementara Faris sigap memotret momen komedi itu.
"Makanya, Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 168 mengingatkan kita untuk makan dari apa yang halal dan baik. Bagi kera pun harusnya kita kasih yang baik, bukan malah bikin mereka usil," ujar Aisyah sambil tersenyum tipis. Faris yang jago negosiasi akhirnya berhasil membujuk si kera untuk mengembalikan topi dengan imbalan sebungkus biskuit.
Di tengah pulau, mereka menemukan sesuatu yang menarik: sebuah klenteng tua bernama Po An Thian. Bangunan ini berdiri harmonis berdampingan dengan alam dan satwa liar, menjadi simbol nyata kerukunan dan toleransi antar umat beragama yang mengakar kuat di Kalimantan Selatan.
"Menarik, ya. Di tengah pulau terpencil begini, ada tempat ibadah non-muslim yang terawat baik," kata Lev, mulai membuka perspektif barunya.
Faris mengangguk. "Itulah indahnya Indonesia, Lev. Islam di sini mengajarkan kita untuk hidup berdampingan, saling menghargai. Di Banjarmasin sendiri, kita punya Masjid Sabilal Muhtadin dan Gereja Katedral yang nggak terlalu jauh jaraknya."
Mereka berempat masuk, menjaga sopan santun dan etika bertamu di tempat ibadah orang lain. Mereka mengamati arsitektur dan suasana damai di sana. Zahra, yang sudah mendapatkan kembali topinya, merekam dengan tenang kali ini.
Pengalaman di Pulau Kembang, dengan kera usilnya dan klenteng damainya, menjadi permulaan yang sempurna. Perjalanan ini bukan hanya tentang melihat keindahan fisik, tetapi juga keindahan nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan. Mereka kembali ke klotok dengan hati yang lebih ringan, siap untuk destinasi pantai pertama mereka di Tanah Laut. Banjarmasin yang mereka tinggalkan kini terasa menyimpan janji akan lebih banyak hikmah.
