Ikuti kisah inspiratif, lucu, dan penuh makna 5 mahasiswi perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga nilai-nilai Islami dalam balutan budaya Banjar.
Profil Karakter (Geng "Kost Syariah")
Rina Rufida (Puruk Cahu, Kalteng): Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris. Mandiri, tegas, dan logat Dayak-Banjar yang unik.
Dina Selvina (Amuntai, HSU): Jurusan Perawat Gigi. Paling rapi, religius, tapi paling takut melihat darah (ironis).
Eva Putri Mylin (Barabai, HST): Jurusan Ilmu Komputer. Si ahli IT yang hobi ngemil kacang jaruk, santai, dan menjadi penengah.
Abdalia Ulfah (Kandangan, HSS): Jurusan PGSD. Penyabar, jago masak kuliner Kandangan, dan keibuan.
Fatimah (Pelaihari, Tanah Laut): Jurusan Bahasa Indonesia. Puitis, sedikit melankolis, namun paling kocak jika sudah berdebat.
Judul Bagian: Awal Perjalanan di Kota Seribu Sungai: Adaptasi, Air Mata, dan Tawa
Isi Sinopsis:
Tahun 2013 menjadi saksi bisu ketika lima gadis dari penjuru Kalimantan berkumpul di sebuah kos sederhana di kawasan Kayutangi, Banjarmasin. Semester pertama bukan sekadar tentang KRS dan bangku kuliah, melainkan ujian mental bagi mereka yang pertama kali jauh dari pelukan orang tua.
Rina Rufida, si pejuang dari hulu sungai Barito (Puruk Cahu), harus berjuang keras menyesuaikan lidahnya dengan dialek Banjar yang kental sambil mengejar ketertinggalan di jurusan Bahasa Inggris. Di sisi lain, Dina Selvina dari Amuntai nyaris menyerah di minggu kedua karena pingsan saat melihat manekin gigi di laboratorium. Beruntung, ada Abdalia Ulfah dari Kandangan yang selalu punya stok sambal goreng mandai dan nasi hangat untuk menenangkan hati sahabat-sahabatnya.
Kehidupan kampus semakin berwarna dengan kehadiran Eva Putri Mylin, si jenius komputer dari Barabai yang harus rela kamarnya dijadikan "pusat servis laptop" gratisan oleh teman-teman kosnya. Sementara itu, Fatimah dari Pelaihari justru sering terjebak nostalgia, menulis puisi tentang rindu rumah (homesick) di tepian Sungai Martapura saat senja tiba.
Semester 1 adalah tentang "Culture Shock". Mereka belajar bahwa hidup bermasyarakat di Banjarmasin menuntut kesabaran—mulai dari belajar mengantre air bersih saat musim kemarau, hingga berdesakan di angkot kuning yang legendaris.
Di tengah godaan gaya hidup kota yang mulai modern pada 2013, kelimanya berjanji untuk tetap memegang teguh nilai Islami. Mereka sepakat mengadakan pengajian kecil setiap malam Jumat di kamar kos, tempat di mana mereka saling menguatkan saat kiriman uang dari kampung telat datang atau saat tugas paper terasa mencekik leher.
Ini adalah kisah tentang lima karakter, lima daerah asal, dan lima jurusan berbeda yang disatukan oleh satu takdir: Bertahan hidup di perantauan demi sebuah gelar dan rida Ilahi.
Poin Utama Cerita
:
Adaptasi Lingkungan: Perbedaan dialek antara bahasa Dayak-Banjar Rina dengan bahasa Banjar Hulu dari Eva dan Abdalia yang sering menimbulkan komedi salah paham.
Kemandirian Ekonomi: Tips hemat ala anak kos 2013 (makan mi instan dibagi dua atau berburu takjil gratis).
Spiritualitas: Bagaimana mereka saling mengingatkan untuk shalat Tahajud demi kelancaran ujian tengah semester.
Konflik Sosial: Menghadapi ibu kos yang tegas namun penyayang, serta dinamika berteman dengan mahasiswa asli Banjarmasin.
