Bunyi roda kereta yang bergemuruh di atas rel perlahan berubah menjadi suara desisan rem yang keras. Lev Ryley membuka matanya. Ia tertidur nyenyak, lelah setelah perjalanan panjang dari Perm. Di luar jendela, ia melihat pemandangan yang berbeda dari yang ia tinggalkan. Perm dikelilingi salju tebal yang baru turun, sementara Chelyabinsk, kota baru yang kini ia injak, tampak lebih kering, namun tetap beku. Kota industri ini diselimuti oleh kabut dingin yang menciptakan suasana yang suram namun memesona.
Lev meraih ransel dan koper kecilnya, lalu turun dari kereta. Stasiun kereta Chelyabinsk terlihat lebih tua dari stasiun Perm, dengan arsitektur Soviet yang khas. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara yang menusuk. Ini awal yang baru. Di kota ini, tidak ada Sofia yang akan membantunya. Di sini, ia akan benar-benar sendiri.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Sofia.
“Sudah sampai, Pahlawan Batik? Hati-hati di Kota Meteor!”
Lev tersenyum. “Kota Meteor?” ia bergumam pada dirinya sendiri. Dengan Google Translate yang kini lebih dapat diandalkan setelah ia membeli paket data lokal, ia mencari tahu tentang Chelyabinsk. Barulah ia ingat. Tiga belas tahun lalu, sebuah meteor jatuh dan meledak di atas kota ini. Ledakan itu begitu kuat, memecahkan ribuan jendela dan melukai banyak orang. Sebuah fakta sejarah yang unik dan menarik.
Di tengah kesendirian, pesan dari Sofia adalah seperti air di padang pasir. Ia membalas pesan itu. “Sudah. Di sini agak suram, tapi unik. Kota Meteor itu menarik! Jangan khawatir, saya akan baik-baik saja.”
Setelah mendapatkan arahan dari seorang satpam stasiun dengan bantuan Google Translate, Lev naik trem menuju hostel. Trem itu penuh sesak dengan orang-orang yang wajahnya tampak letih. Lev merasa seperti ikan asing di tengah lautan yang penuh dengan ikan-ikan yang sama. Namun, ia merasa tenang. Ia sudah terbiasa.
Hostelnya sederhana, terletak di pinggir kota. Kamar yang disewanya adalah kamar asrama dengan enam ranjang susun. Saat ia masuk, dua ranjang sudah terisi, salah satunya dihuni oleh seorang pria paruh baya yang terlihat seperti nelayan, sedang membaca buku tebal. Satunya lagi dihuni oleh seorang pria muda yang sedang bermain game di laptopnya. Keduanya tidak terlalu memperhatikan Lev.
Lev memilih ranjang di sudut, yang paling dekat dengan jendela. Ia segera meletakkan tasnya, mengeluarkan sajadahnya, dan menunaikan shalat dzuhur dan ashar yang ia jamak. Pemandangan dari jendela menunjukkan pepohonan yang meranggas diselimuti salju, tampak hening dan damai.
Setelah shalat, Lev memutuskan untuk mencari makanan. Ia membuka peta digital di ponselnya, mencari restoran atau kafe yang bisa menyediakan makanan halal. Kali ini ia tidak ingin mengulang kesalahan di Perm. Ia mencari toko halal di sekitar masjid lokal yang sudah ia ketahui dari internet.
Pencariannya membawa Lev ke sebuah toko kecil yang menjual produk-produk dari negara-negara Muslim. Seorang penjual dari Kazakhstan menyambutnya dengan ramah. Pria itu sedikit bisa berbahasa Inggris, dan mereka berbincang. Lev menceritakan perjalanannya, dan penjual itu menceritakan tentang komunitas Muslim di Chelyabinsk.
"Mereka baik-baik, Nak. Kau akan merasa di rumah di sini," kata penjual itu, suaranya terdengar ramah. "Aku akan tunjukkan beberapa tempat. Nanti malam, kalau kau mau, datang saja ke sini. Kami akan adakan pertemuan kecil."
Lev merasa terharu. Hanya beberapa jam di kota baru, ia sudah menemukan keramahan. Ia membeli beberapa bahan makanan halal, lalu kembali ke hostel.
Saat malam tiba, Lev teringat tawaran penjual toko. Ia memakai jaket tebalnya lagi, dan kembali ke toko. Di sana, ia bertemu dengan beberapa pria Muslim dari berbagai negara. Ada yang dari Uzbekistan, ada yang dari Turkmenistan, dan beberapa lainnya adalah Muslim lokal Rusia. Mereka semua ramah, menyambut Lev dengan tangan terbuka.
Mereka makan malam bersama, berbagi cerita, dan tertawa. Ada nasi, kebab, dan makanan halal lainnya yang sangat Lev rindukan. Lev menceritakan tentang Banjarmasin, tentang salju pertamanya di Perm, dan tentang persahabatannya dengan Sofia. Mereka mendengarkan dengan penuh minat.
"Allah Subhanahu wa Ta'ala itu luar biasa. Dia menjagamu di sini, Nak," kata salah satu pria tua dari Uzbekistan. "Kau datang jauh-jauh, tapi Dia kirimkan teman-teman baru untuk menemanimu."
Lev mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia merasa hangat, meskipun udara di luar sangat dingin. Kota Meteor yang tadinya tampak suram, kini terasa seperti rumah. Ia tidak sendiri. Ia punya Allah, ia punya kenangan indah bersama Sofia, dan ia punya teman-teman baru yang menyambutnya. Perjalanan ini memang penuh tantangan, tapi juga penuh dengan berkah. Dan ia yakin, Chelyabinsk akan memberikan kenangan yang tak kalah indah dari Perm.
