Pagi di Seattle, setelah menikmati sarapan buatan Nenek Martha yang hangat, Lev dan Sindy memulai hari dengan penuh semangat. Hari ini mereka punya misi khusus: mengunjungi kampus Microsoft, salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, yang berada di dekat Seattle. Sindy, yang jurusan teknik informasi, sangat antusias, sementara Lev, yang jurusan manajemen, merasa penasaran.
Mereka naik bus umum yang bersih dan teratur. Dalam perjalanan, Sindy tidak henti-hentinya bercerita tentang Microsoft dan Bill Gates. Lev hanya mendengarkan dengan sabar, sambil melihat pemandangan kota yang padat namun teratur.
“Kebayang gak sih, Lev? Ratusan ribu orang kerja di sini. Ratusan ribu otak jenius yang bikin dunia ini makin canggih,” kata Sindy, dengan mata berbinar-binar.
“Iya. Tapi mereka juga butuh makan. Itu berarti banyak juga orang yang kerja di kantin, di bagian kebersihan, dan lainnya,” kata Lev, dari sudut pandang manajemennya.
Sindy tertawa. “Kamu ini, dari tadi pikirannya cuma makan. Pikirannya bapak-bapak banget.”
Mereka tiba di kampus Microsoft. Tempat itu sangat luas, dengan banyak gedung-gedung modern dan taman-taman yang indah. Banyak orang yang lalu lalang, dengan laptop dan tas di tangan. Ada yang terlihat sibuk, ada juga yang terlihat santai.
“Ini sih kayak kota kecil,” kata Lev, takjub.
“Tentu saja. Ini kan bukan cuma kantor. Ini ekosistem,” jelas Sindy, dengan nada sok tahu.
Saat mereka berkeliling, Sindy tiba-tiba teringat sesuatu. “Lev, aku ingat! Dulu aku pernah dengar, di sini ada masjid! Komunitas Muslim di sini besar loh,” kata Sindy.
Lev terkejut. Ia tidak menyangka akan menemukan masjid di tengah-tengah perusahaan teknologi raksasa. Mereka akhirnya menemukan sebuah ruangan kecil yang difungsikan sebagai mushola. Ruangan itu sederhana, tetapi bersih dan nyaman. Di sana, mereka bertemu dengan beberapa karyawan Microsoft yang sedang bersiap untuk salat.
Seorang pria paruh baya dengan sorban di kepalanya menyapa mereka dengan ramah.
“Assalamualaikum. Kalian dari mana?” tanyanya, dengan logat Arab yang kental.
“Waalaikumsalam, Pak. Kami dari Indonesia,” jawab Lev.
Pria itu tersenyum. “Subhanallah. Jauh-jauh ya. Saya Ali, dari Mesir. Saya sudah kerja di sini 15 tahun. Komunitas Muslim di sini sangat besar. Kita punya komunitas dari berbagai negara.”
Lev merasa hangat. Ia tidak menyangka akan menemukan keluarga baru di tempat yang begitu jauh. Sindy juga ikut senang. Ia melihat bagaimana Lev langsung akrab dengan Pak Ali, berbicara tentang Islam, tentang teknologi, dan tentang kehidupan di Amerika.
Setelah salat, Pak Ali mengajak mereka ke kantin. Di sana, ia memperkenalkan Lev dan Sindy kepada beberapa karyawan Muslim lainnya. Ada yang dari Pakistan, India, bahkan dari Amerika sendiri.
“Kita di sini sangat toleran. Kita menghargai perbedaan. Kita sering mengadakan acara bersama. Ada acara buka puasa, ada acara Idul Fitri, semua kita lakukan bersama,” kata Pak Ali.
Lev merasa sangat terinspirasi. Ia melihat bahwa di tengah-tengah kesibukan dan tekanan pekerjaan, mereka tetap bisa mempertahankan identitas mereka sebagai Muslim.
“Pak Ali, bolehkah kami tahu, bagaimana rasanya jadi Muslim di tengah-tengah orang yang non-Muslim?” tanya Lev.
Pak Ali tersenyum. “Sama saja seperti di manapun, Nak. Yang penting, kita harus jadi Muslim yang baik. Tunjukkan Islam itu indah. Lewat perbuatan, bukan hanya kata-kata. Jadilah rahmat bagi semua orang.”
Lev mengangguk, terharu. Pesan Pak Ali seolah menguatkan pesan ayahnya. Ia tahu, ia berada di jalur yang benar.
Setelah dari Microsoft, mereka melanjutkan perjalanan ke pusat kota. Mereka naik kapal feri, melihat pemandangan kota dari laut. Sindy, yang selalu ceria, tiba-tiba menjadi lebih tenang.
“Lev, aku jadi berpikir. Kalau kamu bisa jadi Muslim yang baik di tengah-tengah orang yang berbeda, kenapa orang lain tidak bisa?” tanya Sindy, dengan nada serius.
“Semua orang punya caranya masing-masing, Sindy,” jawab Lev. “Yang penting, kita harus saling menghormati.”
“Iya, ya,” kata Sindy, tersenyum. “Ternyata kamu ini nggak cuma jago masak nasi kuning, tapi juga jago bikin orang mikir.”
Lev tertawa. “Kamu juga, Sindy. Kamu yang bikin aku sadar, dunia itu luas, dan banyak hal yang harus aku pelajari.”
Di Seattle, Lev dan Sindy tidak hanya melihat kampus Microsoft yang megah, tetapi juga komunitas Muslim yang kuat dan toleran. Mereka belajar bahwa Islam itu universal, dan bisa hidup di mana saja, asalkan ada hati yang terbuka dan pikiran yang jernih. Perjalanan mereka masih jauh, tetapi mereka tahu, mereka sudah memiliki bekal yang cukup: persahabatan, toleransi, dan keimanan yang kuat.
