Keajaiban Pasir Putih di Pantai Coronado: Travel Guide, Hotel Bersejarah, dan Refleksi Islami di San Diego
Perjalanan hari ketiga membawa Khalisah, Amina, dan Zahra semakin ke selatan, melintasi jalanan pesisir yang indah menuju San Diego. Tujuan mereka adalah Pantai Coronado, sebuah hamparan pasir yang seringkali menduduki peringkat pantai terbaik di Amerika.
Setelah sekitar dua jam berkendara dari area Los Angeles, mereka tiba di Coronado Island—sebenarnya sebuah semenanjung—yang terhubung ke daratan utama San Diego oleh jembatan ikonik Coronado Bridge. Suasananya langsung berubah; lebih tenang, asri, dan terasa sedikit mewah.
"Katanya pantai ini pasirnya berkilau, lho," kata Khalisah, penuh semangat saat mereka memarkir mobil di area perumahan yang rapi. "Karena ada kandungan mika di dalamnya."
Mereka berjalan menuju pantai, melewati Hotel del Coronado yang megah, sebuah bangunan kayu bergaya Victoria berwarna putih dengan atap merah, yang tampak seperti istana dongeng. Hotel bersejarah ini menambah nuansa magis pada pantai tersebut.
Begitu kaki mereka menyentuh pasir, Zahra langsung berjongkok dan mengamati dengan saksama. "Wow! Benar! Lihat nih, Min, Lis! Kayak ada bubuk berliannya!"
Di bawah sinar matahari California yang cerah, pasir putih itu memang tampak berkilauan halus. Pemandangan itu memicu refleksi dalam diri Khalisah.
"Subhanallah," ujarnya lembut. "Lihatlah bagaimana Allah menciptakan detail sekecil ini di alam semesta-Nya. Pasir yang kita injak sehari-hari bisa jadi seindah ini kalau kita mau mengamatinya."
Amina, si pragmatis, segera mengambil peran sebagai travel guide dadakan. "Oke, guys, Pantai Coronado ini ideal untuk berenang karena ombaknya landai. Airnya juga relatif hangat. Jangan lupa pakai sunscreen!"
Mereka menghabiskan beberapa jam menikmati suasana. Zahra membangun istana pasir dengan serius, sementara Amina membaca buku di bawah payung sewaan, dan Khalisah berjalan santai di sepanjang bibir pantai, menikmati percikan air laut.
Namun, di tengah ketenangan itu, sedikit ketegangan muncul. Saat Khalisah kembali dari berjalan-jalan, ia mendapati Amina tampak gelisah, meraba-raba saku celananya berulang kali.
"Ada apa, Min?"
Wajah Amina memucat. "Dompetku... kayaknya hilang, Lis."
Khalisah dan Zahra langsung panik. Dompet Amina berisi kartu kredit utama mereka, identitas, dan sebagian uang tunai darurat. Misi liburan Islami yang penuh kedamaian mendadak berubah menjadi drama kriminal (sementara).
"Ya Allah, di mana terakhir kali kamu lihat?" tanya Khalisah, mencoba tetap tenang.
"Di mobil! Nggak, di kedai es krim tadi! Nggak, di handuk tadi!" Amina mulai histeris.
Mereka bertiga berlarian kembali ke tempat mereka tadi duduk. Mengobrak-abrik handuk, mengecek di pasir, bahkan kembali ke kedai es krim dan menanyakan ke kasir, semuanya nihil.
Zahra, yang biasanya ceroboh, kali ini menjadi yang paling tenang. "Oke, tarik napas. Jangan panik. Kita salat Ashar dulu, minta pertolongan Allah. Siapa tahu dengan tenang kita bisa ingat."
Saran Zahra didengar juga. Mereka berwudu di kamar mandi pantai dan mencari sudut sepi di dekat Hotel del Coronado untuk salat Asar. Dalam sujudnya, Amina berdoa dengan khusyuk, meminta agar masalah ini dimudahkan.
Setelah salam, mereka merasa lebih tenang. Khalisah menepuk pundak Amina. "Coba kamu ingat lagi pelan-pelan. Tadi kamu ganti baju nggak setelah dari mobil?"
"Iya, di toilet umum dekat parkiran," jawab Amina.
Mereka bertiga bergegas menuju toilet umum tersebut. Dengan hati berdebar, Amina membuka pintu bilik yang tadi dia gunakan. Dan di sanalah dompetnya berada, tergeletak di atas tempat duduk toilet.
"Ya Allah! Alhamdulillah!" seru Amina, langsung memeluk dompetnya erat-erat. Dompetnya masih utuh, tidak ada yang hilang.
Zahra tertawa lega. "Tuh kan, doa orang panik itu makbul juga! Hampir aja aku cancel niat nambah destinasi pantai!"
Momen itu menjadi pengingat yang berharga bagi mereka. Di tengah euforia perjalanan dan keindahan dunia, mereka tetap harus bergantung pada pertolongan Allah SWT. Kejadian itu juga memperkuat ikatan persahabatan mereka, di mana mereka saling mendukung dan mengingatkan untuk kembali ke esensi iman saat menghadapi masalah.
Menjelang sunset, suasana hati mereka kembali ceria. Mereka berjalan di dermaga panjang Coronado Pier, mengamati para pemancing lokal. Mereka juga mengambil banyak foto dengan latar belakang Hotel del Coronado yang ikonik, memastikan Zahra mendapatkan konten yang estetik untuk feed-nya.
Sinar matahari terbenam memantulkan cahaya merah muda di pasir mika, menciptakan pemandangan yang surealis. Khalisah merekam momen tersebut dengan kameranya.
"Keajaiban itu nggak cuma yang besar-besar, guys. Pasir berkilau ini juga keajaiban. Dompet yang nggak hilang di toilet umum juga keajaiban," ujar Khalisah sambil tertawa.
Malam itu, mereka makan malam di sebuah restoran Timur Tengah halal di San Diego, merayakan dompet yang kembali dan hari yang penuh makna. Mereka sudah siap untuk melanjutkan perjalanan darat esok harinya, meninggalkan pesisir California untuk sementara waktu, menuju destinasi yang sama sekali berbeda.
Tiga pantai indah di California selesai mereka kunjungi, meninggalkan kesan mendalam tentang keindahan alam dan pentingnya iman dalam setiap langkah perjalanan.
