Malam di Ankara terasa jauh lebih hangat setelah Lev Ryley dan Emily mengisi perut mereka dengan kebab lezat di sebuah warung tersembunyi. Mereka kini berjalan santai menyusuri trotoar, memandangi keramaian malam. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kekuningan, menyoroti wajah-wajah yang lalu-lalang.
"Jadi," Emily memulai, "kamu benar-benar tidak tahu kalau kamu mendarat di Ankara?" Ada nada jenaka dalam suaranya, seolah ia belum selesai menertawakan kebodohan Lev.
Lev menghela napas, pura-pura kesal. "Aku sudah bilang, aku hanya berasumsi. Aku terlalu fokus pada penelitianku tentang Hagia Sophia sampai tidak mengecek tiket dengan benar. Ini kecelakaan yang membahagiakan, oke?"
Emily tertawa. "Kecelakaan yang membahagiakan? Itu cara paling konyol untuk mengatakan kamu salah kota."
Mereka sampai di sebuah toko roti kecil yang menjual simit, roti bundar bertabur wijen yang terkenal di Turki. Bau roti yang baru dipanggang memenuhi udara. Emily membeli dua buah, satu untuknya dan satu untuk Lev.
"Ini," kata Emily, menyodorkan simit yang masih hangat. "Rasakan Ankara yang sesungguhnya."
Lev menerima roti itu, dan saat ia menggigitnya, matanya membesar. "Wah... ini luar biasa. Di London, yang seperti ini rasanya seperti kardus."
"Itu karena mereka tidak punya cinta," Emily menjawab dengan dramatis, sambil menggigit simit-nya sendiri.
Mereka duduk di sebuah bangku di pinggir jalan, memandangi orang-orang yang lewat. Seorang kakek tua mendorong gerobak, sekelompok anak muda tertawa riang, dan seorang ibu menggandeng anaknya. Lev mengeluarkan kameranya dan mengambil beberapa foto candid, berusaha menangkap momen-momen kecil yang berharga itu.
"Kamu selalu membawa kamera ke mana-mana?" tanya Emily.
"Tentu saja. Ini bagian dari diriku," jawab Lev. "Sama seperti kamu dan syalmu."
Emily melirik syalnya dan tersenyum. "Ini bukan sembarang syal. Ini syal yang sama yang aku gunakan saat memanjat gunung di Nepal, saat meneliti suku pedalaman di Afrika, dan saat kehujanan di Manchester."
"Wow, kamu punya banyak cerita," kata Lev, merasa tertarik.
"Hidupku memang petualangan," jawab Emily. "Beda denganmu, yang petualangannya hanya sebatas salah kota."
Lev kembali cemberut. "Ayolah, jangan diungkit-ungkit lagi. Aku sudah minta maaf, kan?"
Mereka melanjutkan obrolan konyol mereka. Lev menceritakan bagaimana ia pernah mencoba memasak makanan India di rumah dan hampir membakar dapur. Emily membalasnya dengan kisah tentang bagaimana ia pernah tersesat di hutan dan harus bertahan hidup dengan bekal cokelat saja.
"Jadi, apa target utamamu di Eropa?" tanya Emily.
"Aku ingin memotret komunitas Muslim, bagaimana mereka berinteraksi, dan bagaimana Islam beradaptasi di lingkungan yang berbeda," jelas Lev. "Aku ingin menunjukkan bahwa Islam bukan hanya tentang perang dan terorisme, seperti yang sering digambarkan media."
Emily mengangguk, terkesan. "Itu tujuan yang mulia. Aku juga melakukan penelitian tentang hal yang mirip, tapi dari sudut pandang antropologi."
Tiba-tiba, mata Lev menangkap sesuatu. "Tunggu, kamu lihat itu?"
Emily mengikuti arah pandang Lev. Di seberang jalan, ada sebuah toko yang menjual mainan-mainan kuno.
"Apa?" tanya Emily.
"Mainan itu!" seru Lev, menunjuk ke sebuah boneka kelinci yang sudah kusam. "Boneka itu persis seperti milikku waktu kecil! Boneka itu aku buang karena aku pikir aku sudah terlalu besar untuk bermain boneka."
Emily menahan tawa. "Seorang fotografer profesional yang masih memikirkan boneka kelincinya?"
"Ini bukan sembarang boneka, ini simbol masa kecilku yang hilang!" Lev membela diri. "Ayo kita lihat!"
Lev berlari menyeberangi jalan, diikuti Emily yang terkikik geli. Lev mendekati toko dan mencoba membeli boneka itu, tetapi penjualnya tidak bisa berbahasa Inggris. Lev mencoba berkomunikasi dengan gestur tangan, menunjuk boneka itu dan menawarkan uang. Namun, penjual itu hanya menggeleng.
Emily menghampiri mereka dan berbicara dalam bahasa Turki. Setelah beberapa kalimat, penjual itu mengangguk dan tersenyum. Emily menjelaskan kepada Lev bahwa boneka itu tidak dijual, melainkan hanya untuk dipajang. Penjual itu menawarkan Lev untuk berfoto dengan boneka itu, tetapi dengan syarat.
"Syaratnya apa?" tanya Lev, penasaran.
Emily tersenyum jahil. "Kamu harus berpose lucu dengan boneka itu."
Lev mendesah. "Ayolah, Emily..."
"Sudah, jangan banyak bicara," Emily mendorongnya. "Ini bagian dari petualangan, kan?"
Akhirnya, Lev menyerah. Ia berpose dengan boneka kelinci itu di pelukannya, sambil Emily memotretnya dengan ponselnya. Penjual itu dan beberapa pejalan kaki tertawa melihat tingkah konyol Lev.
Setelah selesai, Lev mengambil kembali ponselnya dari Emily. "Ini akan menjadi bahan blackmail seumur hidup," katanya.
Emily tersenyum puas. "Tentu saja. Ini adalah bukti bahwa seorang fotografer serius bisa juga konyol."
Malam itu, di bangku yang sama tempat mereka duduk tadi, Lev dan Emily menghabiskan sisa waktu dengan obrolan ringan, diselingi tawa dan lelucon. Mereka menyadari bahwa di balik semua kesalahpahaman, perbedaan, dan kekonyolan, mereka telah menemukan teman baru. Dan persahabatan mereka, seperti simit yang mereka makan, terasa hangat dan tulus.

35 bab3
BalasHapus