Satu minggu berlalu sejak Anatasya menerima catatan kecil dari Lev. Minggu itu terasa berbeda. Setiap kali Anatasya melihat ke arah Sudut Rak, ia tidak lagi melihat seorang pria misterius yang asing, melainkan Lev Ryley, pria yang suka teh dan suka membaca buku-buku berat. Ada senyuman tipis yang selalu muncul di wajah Anatasya setiap kali ia memikirkan hal itu.
Hari itu, Anatasya sedang istirahat makan siang. Ia memutuskan untuk pergi ke kafe kecil di seberang perpustakaan. Kafe itu adalah tempat favoritnya karena tenang dan nyaman. Ia memesan kopi, dan duduk di sudut, menikmati keheningan.
Tiba-tiba, ia melihat Lev Ryley memasuki kafe. Anatasya terkejut. Lev Ryley tidak pernah terlihat di luar perpustakaan sebelumnya. Ia selalu datang dan pergi tanpa jejak.
Lev Ryley memesan kopi, lalu duduk di meja yang agak jauh dari Anatasya. Ia mengeluarkan buku tebal dari tasnya, dan mulai membacanya. Anatasya merasa penasaran. Apa yang akan terjadi jika ia mendekatinya?
Tiba-tiba, pintu kafe terbuka lagi, dan Maja masuk dengan tergesa-gesa. Ia langsung melihat Anatasya, dan matanya berbinar. Ia berjalan ke arah Anatasya, dengan senyum lebar.
"Anatasya! Aku dengar ada pria tampan yang sering datang ke kafe ini," kata Maja, dengan nada yang dibuat-buat pelan. "Kau tahu siapa dia?"
Anatasya tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah Lev Ryley.
Maja menoleh, dan melihat Lev Ryley. Matanya membelalak. "Itu dia? Pria di Sudut Rak? Dia terlihat... berbeda di luar perpustakaan."
"Itu karena dia tidak memakai mantelnya," kata Anatasya, dengan nada yang sedikit kesal.
"Kau harus mendekatinya!" bisik Maja. "Ini kesempatanmu!"
Anatasya merasa gugup. "Aku tidak bisa. Aku tidak punya alasan."
"Aku akan memberimu alasan," kata Maja, dengan senyum licik.
Maja berjalan ke arah Lev Ryley, dan berpura-pura tidak sengaja menjatuhkan buku catatan Anatasya di meja Lev.
Lev Ryley menoleh, melihat buku catatan itu. Ia mengambilnya, dan menatap Maja.
"Oh, astaga! Itu buku catatanku!" kata Maja, berpura-pura terkejut. "Aku minta maaf! Aku tidak sengaja."
Lev Ryley menyerahkan buku catatan itu kepada Maja, dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. "Tidak masalah," katanya, dengan nada yang dingin.
Maja kembali ke meja Anatasya, dengan wajah kecewa. "Ia tidak terkesan."
Anatasya merasa malu. "Sudah kuduga."
"Mungkin kita harus mencoba cara lain," kata Maja, dengan nada yang penuh semangat. "Aku akan mengajakmu kencan ganda! Kau dan Lev, aku dan pacarku!"
Anatasya terkejut. "Maja! Aku tidak bisa berkencan dengan pria yang tidak kukenal!"
"Tapi kau mengenalnya!" kata Maja, dengan nada yang putus asa. "Kau tahu dia suka teh dan suka membaca buku!"
"Itu tidak cukup," kata Anatasya.
Tiba-tiba, seorang pria tampan lainnya memasuki kafe. Ia adalah Emil, penulis yang pernah mencoba mendekati Anatasya.
Maja melihat Emil, dan matanya berbinar. "Itu Emil! Aku akan membuatnya cemburu!"
Maja berlari ke arah Emil, dan mulai berbicara dengannya. Ia mencoba membuat Anatasya terlihat tertarik pada Emil.
Anatasya melihat ke arah Lev Ryley. Pria itu menoleh, melihat Maja dan Emil, lalu melihat Anatasya. Ekspresinya tidak bisa dibaca.
Maja kembali ke meja Anatasya. "Berhasil! Lev Ryley melihat kita! Dia pasti cemburu!"
Anatasya merasa tidak yakin. "Apa kau yakin?"
"Aku yakin!" kata Maja. "Sekarang, kau hanya perlu menunggu."
Mereka menunggu. Tetapi Lev Ryley tidak melakukan apa-apa. Ia hanya kembali membaca bukunya.
Anatasya merasa frustrasi. "Ini tidak berhasil, Maja."
"Mungkin kita harus coba lagi," kata Maja.
"Tidak," kata Anatasya, dengan tegas. "Aku tidak akan mengikuti rencanamu lagi."
Anatasya bangkit, dan berjalan ke arah Lev Ryley. Ia merasa gugup, tetapi ia merasa harus melakukannya.
"Lev," kata Anatasya.
Lev Ryley mendongak, matanya bertemu dengan mata Anatasya.
"Aku... aku minta maaf," kata Anatasya. "Maja... dia sedikit terlalu dramatis."
Lev Ryley tersenyum. Bukan senyum geli, tetapi senyum yang ramah. "Aku tahu."
"Kau tahu?" tanya Anatasya, terkejut.
"Ya," kata Lev Ryley. "Dia tidak pandai dalam hal penyamaran. Dan dia tidak pandai dalam hal membuat orang cemburu."
Anatasya merasa pipinya memerah. Ia merasa malu, tetapi juga merasa senang.
"Aku... aku hanya ingin tahu," kata Anatasya, merasa lebih berani. "Kenapa kau selalu di perpustakaan?"
Lev Ryley menutup bukunya. Ia menatap Anatasya. "Aku suka membaca. Dan aku suka ketenangan. Tapi... aku juga suka drama."
Anatasya tersenyum. "Drama?"
"Ya," kata Lev Ryley. "Kekacauan yang kau ciptakan. Itu... menarik."
Anatasya merasa hatinya berdebar. Ia merasa ini adalah kencan yang paling aneh yang pernah ia alami. Kencan yang dimulai dengan tumpahan kopi, kencan yang dilanjutkan dengan misi mata-mata, dan kencan yang berakhir dengan pengakuan konyol.
Tapi ia juga merasa ini adalah kencan yang paling romantis. Karena ini adalah kencan yang paling jujur. Dan ia merasa ia tidak bisa berhenti.
