Proyek "Musala Al-Hikmah Go Online" berjalan lancar. Akun media sosial dan toko online sederhana di e-commerce lokal sudah dibuat. Warga komplek mulai mengunggah produk-produk mereka. Namun, tantangan baru muncul: mengedukasi warga yang rata-rata sudah sepuh untuk berjualan secara digital.
"Bu Anindya, ini cara masukkan foto produknya bagaimana, ya? Kuenya sudah matang dari tadi pagi, nanti keburu basi," keluh Ibu RT di grup WhatsApp.
Anindya dengan sabar membalas pesan suara. "Sabar, Bu. Fotonya harus yang bagus pencahayaannya, biar menarik. Nanti saya dan Ghina bantu foto produknya. Habis itu kita upload."
Ghina, dengan ponsel barunya hasil checkout diskon 9.9, dengan sigap mendatangi rumah-rumah tetangga. Bak fotografer profesional, dia memotret kue-kue, kerajinan tangan purun (anyaman khas Banjar), dan mukena bordir buatan warga. Anindya mengeditnya dengan aplikasi, menambahkan watermark logo musala, dan mengunggahnya dengan deskripsi produk yang kaya kata kunci SEO: "Kue Bingka Khas Banjarmasin Enak Halal Murah", "Kerajinan Purun Estetik Kalimantan Selatan".
Aisyah dan Maryam membantu mengelola pesanan dan packing. Levℛyley, yang biasanya hanya jadi penonton drama belanja, kini ikut turun tangan membantu manajemen keuangan dan logistik.
"Masya Allah, pesanan pertama masuk!" seru Aisyah suatu sore, matanya berbinar. Pesanan datang dari Jakarta, membeli satu paket lengkap kue khas Banjar.
"Alhamdulillah!" seru Anindya. "Ini bukti kalau niat baik pasti ada jalannya. Eh, tapi ongkir ke Jakarta kan mahal ya. Untung kita pakai fitur gratis ongkir dari e-commerce nya."
Di kantornya, Levℛyley sedang berdiskusi dengan rekan kerjanya tentang efisiensi pengeluaran kantor. Dia teringat istrinya yang selalu berhasil mendapatkan cashback dan diskon besar dari belanja online.
"Pak Lev, kantor kita butuh peralatan komputer baru dalam jumlah besar. Anggaran mepet, bagaimana nih?" tanya manajernya.
Levℛyley tersenyum. "Tenang, Pak. Saya punya 'konsultan' belanja terbaik di rumah. Saya jamin kita bisa dapat barang berkualitas, harga miring, dan mungkin dapat cashback yang lumayan besar."
Malam itu, Levℛyley meminta bantuan Anindya untuk berburu peralatan kantor secara online. Mereka berdua, yang biasanya berdebat soal COD vs transfer, kini berkolaborasi untuk tujuan yang lebih besar.
Anindya dengan sigap membuka laptopnya. "Oke, Mas. Target kita toko official store, traffic-nya tinggi, review asli, dan yang paling penting, ada promo cashback dan gratis ongkir minimal belanja sekian rupiah."
Mereka begadang sampai larut malam, membandingkan harga, membaca review, dan menghitung cashback. Kerjasama tim yang solid.
Beberapa hari kemudian, bel rumah keluarga Levℛyley berbunyi. Kali ini bukan Pak Ahmad kurir sepeda motor, melainkan sebuah mobil van ekspedisi besar. Petugas ekspedisi menurunkan puluhan dus peralatan komputer kantor Levℛyley.
Warga komplek yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggelengkan kepala. "Kali ini Bu Anindya beli kantor kali ya?" celetuk Pak RT.
Anindya hanya tertawa. Di dalam rumah, dia dengan bangga menunjukkan total cashback yang didapat dari belanjaan kantor suaminya. Jumlahnya fantastis, bisa digunakan untuk membeli satu unit komputer baru lagi.
"Masya Allah, cashback ini bisa jadi berkah, Mas. Bisa kita sumbangkan sebagian ke kas musala kita," usul Anindya.
Levℛyley mengangguk setuju. Mereka berdua menyadari, di balik hiruk pikuk belanja online dan strategi SEO marketing yang kadang terasa duniawi, ada nilai-nilai Islami yang bisa diterapkan: efisiensi, kehati-hatian, dan berbagi rezeki.
Proyek musala online mereka mulai membuahkan hasil. Pesanan mulai stabil, dan dana yang terkumpul cukup signifikan. Keluarga Levℛyley kini dikenal sebagai keluarga paling 'digital' di Banjarmasin, yang berhasil mengubah hobi belanja menjadi sarana dakwah dan kesejahteraan bersama, membuktikan bahwa teknologi dan iman bisa berjalan beriringan di Kota Seribu Sungai.
