Senin pagi selalu memiliki nuansa horor tersendiri bagi pegawai kantoran di seluruh dunia, tak terkecuali bagi Muhammad Hifni, S.IP, M.Si, PNS muda di lingkup Pemkab Tabalong. Kali ini, horor itu bukan soal tumpukan surat masuk atau rapat mendadak, melainkan soal seragam dinas harian: Khaki.
Mobil Hifni melaju pelan, membelah kabut tipis yang masih menyelimuti kawasan Mabuun. Di kursi penumpang, Rina sedang sibuk membetulkan jilbabnya di kaca spion, sementara Khalisa asyik menyanyikan lagu "Twinkle-Twinkle Little Star" dengan aksen Banjar yang kental.
"Mas, kamu yakin kancing seragammu aman?" tanya Rina, mata tertuju pada kancing ketiga dari atas.
Hifni melirik kancingnya sekilas. "Aman aja, Bu Guru. Tadi pagi udah dicek kok."
"Awas aja kalau copot pas apel. Malu sama Pak Sekda," goda Rina. Hifni hanya mendengus.
Sesampainya di kantor Hifni, sebuah bangunan megah dengan arsitektur khas Kalimantan Selatan, suasana sudah ramai. Apel pagi adalah ritual wajib yang dipimpin langsung oleh pejabat tinggi daerah. Hifni segera memarkir mobilnya. Rina dan Khalisa turun, menunggu Hifni selesai apel sebelum mereka berangkat ke tujuan masing-masing.
Barisan PNS sudah rapi, dari yang senior dengan perut sedikit buncit hingga yang muda dan energik. Hifni berdiri tegak di barisan ketiga, berusaha memasang wajah serius dan berwibawa.
Apel berlangsung khidmat, diwarnai amanat panjang dari Pembina Apel mengenai pentingnya kedisiplinan dan integritas PNS dalam melayani masyarakat Tabalong yang adil dan makmur. Hifni mendengarkan dengan saksama, sesekali melirik Rina dan Khalisa yang menunggu di pinggir lapangan.
Petaka terjadi saat Pembina Apel meminta salah satu PNS untuk maju ke depan dan membacakan Panca Prasetya Korpri. Entah nasib sial atau keberuntungan yang terbungkus bencana, jari telunjuk Pembina Apel menunjuk lurus ke arah Hifni.
"Saudara Muhammad Hifni, silakan maju ke depan. Berikan contoh semangat Korpri di pagi ini," titah beliau dengan suara menggelegar.
Jantung Hifni langsung jedag-jedug. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, bukan karena grogi membaca teks yang sudah hafal di luar kepala, tapi karena kancing seragamnya.
Saat melangkah maju, Hifni mencoba berjalan se cool mungkin. Rina di pinggir lapangan sudah merasakan firasat buruk, tangannya menutup mulut menahan tawa yang siap meledak.
Hifni berdiri tegap di depan tiang bendera. Semua mata tertuju padanya. Ia mengambil napas dalam-dalam, memegang lembaran teks di tangannya, dan mulai membaca dengan mantap:
"PANCA PRASETYA KORPRI
Kamilah anggota Korps Pegawai Republik Indonesia..."
Semua berjalan lancar hingga ia masuk ke poin kedua. Saat Hifni menggerakkan dadanya untuk mengambil napas, jahitan kancing ketiga dari atas di seragam khakinya yang memang sudah uzur itu menyerah pada tekanan gravitasi dan perut Hifni yang sedikit maju.
Ctak!
Kancing itu meluncur bebas, memantul sekali di lantai semen, dan menggelinding masuk ke selokan di pinggir lapangan.
Hifni merasakan bencana itu terjadi. Semua mata yang tadi serius mendengarkan Panca Prasetya, kini terfokus pada bagian dadanya yang sedikit terbuka. Wajah Hifni memerah padam, semerah buah rambutan Binjai khas Tabalong.
Dengan reflek kilat seorang agen rahasia, Hifni menyilangkan tangannya di depan dada sambil terus membaca teks tanpa jeda, seolah-olah pose tersebut adalah bagian dari tata tertib apel.
"...menegakkan demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum..." suaranya sedikit bergetar.
Di pinggir lapangan, Rina sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia membungkuk, tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Khalisa yang polos ikut tertawa karena melihat ibunya tertawa.
Setelah selesai membaca Panca Prasetya Korpri dengan gaya "meluk diri sendiri", Hifni memberi hormat, membalikkan badan, dan berjalan mundur ke barisannya. Barisan PNS di belakangnya berusaha keras menahan tawa, bahu mereka berguncang menahan geli.
Pak Sekda, yang biasanya sangat disiplin, kali ini terlihat menahan senyum di ujung bibirnya.
"Baik, terima kasih Saudara Hifni. Semangat Korpri anda luar biasa, sampai-sampai kancing baju pun ikut semangat melompat," komentarnya yang disambut tawa lepas seluruh peserta apel. Hifni hanya bisa menunduk pasrah.
Setelah apel usai, Hifni segera berlari kecil menghampiri Rina.
"Puassss Bu Guru?" tanya Hifni dengan wajah cemberut.
Rina menyeka air mata tawanya. "Maaf, Mas, maaf! Tapi itu lucu banget! Pose kamu tadi mirip pahlawan kesiangan yang lagi kedinginan."
Hifni mendengus. "Ini semua salah kamu yang nggak nyetrika bener tadi pagi!"
"Loh kok salah aku? Salah perut kamu yang makin subur, Mas!" balas Rina.
Di tengah perdebatan kecil suami istri itu, Khalisa menarik-narik tangan ayahnya. "Ayah, kancingnya hilang? Nanti beli di pasar Murung Pudak ya Yah? Yang warna coklat!"
Hifni hanya bisa tersenyum masam. Hari Senin ini baru dimulai, dan dilema seragam khaki sukses menjadi pembuka drama kehidupan PNS mereka di Tabalong. Hifni memutuskan, sepulang kantor nanti, ia akan langsung ke tukang jahit langganan untuk memasang kancing baru yang lebih kuat. Demi martabat PNS di apel pagi selanjutnya.
