Kemenangan atas para pengkhianat dan Van der Bilt hanyalah kemenangan sementara. Beberapa tahun kemudian, kapal-kapal Belanda kembali, tetapi kali ini mereka datang dengan kekuatan yang lebih besar dan dipimpin oleh seorang komandan militer bernama Jenderal Verhoeven, yang terkenal brutal. Mereka berlabuh di pelabuhan Banjar, dan kali ini, mereka tidak datang untuk berdagang, melainkan untuk menuntut.
Jenderal Verhoeven meminta audiensi dengan Sultan Suriansyah. "Paduka," katanya dengan nada mengancam, "kami tahu Anda menolak tawaran kami. Tapi kami tidak bisa membiarkan Kesultanan Banjar yang kaya ini jatuh ke tangan musuh kami. Kami akan 'melindungi' Anda, tetapi dengan syarat."
Syarat itu sungguh berat: Kesultanan Banjar harus menandatangani perjanjian yang memberikan Belanda hak monopoli atas perdagangan rempah-rempah, emas, dan batubara. Selain itu, Belanda juga meminta sebidang tanah untuk mendirikan benteng, dan mereka meminta campur tangan dalam urusan pemerintahan.
Sultan Suriansyah, yang kini sudah berusia lanjut, menolak mentah-mentah. "Kami tidak butuh perlindungan dari kalian," katanya. "Kami bisa melindungi diri kami sendiri. Dan kami tidak akan pernah menjual tanah kami, atau menjual rakyat kami kepada kalian."
Jenderal Verhoeven, yang marah dengan penolakan itu, tidak menyerah. Ia mulai memprovokasi kerusuhan, menyebarkan desas-desus palsu, dan menyuap para pembesar istana yang masih serakah. Ia juga mulai mengancam akan menyerang Daha.
Sultan Suriansyah, yang tidak ingin melihat rakyatnya menderita, mencoba untuk bernegosiasi. Namun, negosiasi itu hanyalah taktik Belanda untuk mengulur waktu. Mereka tahu, Sultan Suriansyah sudah tua, dan mereka menunggu saat yang tepat untuk menyerang.
Sementara itu, di kalangan rakyat, mulai muncul perlawanan. Seorang cucu dari Sultan Suriansyah, Pangeran Antasari, tumbuh menjadi seorang pemimpin yang kharismatik. Ia tidak menyukai campur tangan Belanda, dan ia merasa bahwa kakeknya telah terlalu bersabar. Ia memimpin para pemuda Banjar, melatih mereka, dan mempersiapkan mereka untuk pertempuran.
Suatu hari, seorang mata-mata melaporkan bahwa Belanda telah berhasil menemukan tambang batubara di Martapura, dan mereka berencana untuk memindahkannya ke Kota Nagara. Sultan Suriansyah tahu, jika mereka berhasil menguasai tambang batubara, maka kekuatan mereka akan semakin besar.
Sultan Suriansyah, yang sudah tua, tidak bisa lagi memimpin pertempuran. Ia memanggil Pangeran Antasari, cucu kesayangannya. "Anakku," katanya, "perang sudah di depan mata. Kakek tidak bisa lagi memimpin. Kau harus memimpin rakyat kita. Kau harus melawan Belanda."
Pangeran Antasari, dengan mata yang menyala, mengangguk. Ia tahu, tugas berat menantinya. Ia harus melawan kekuatan asing yang jauh lebih besar dan lebih kuat. Namun, ia tidak takut. Ia telah belajar dari kakeknya, dan ia memiliki semangat yang sama.
Bab ini berakhir dengan penolakan Sultan Suriansyah terhadap perjanjian berdarah Belanda, dan dimulainya perlawanan. Pangeran Antasari, seorang pemimpin muda yang berani, kini memimpin rakyat Banjar untuk melawan penjajah. Sebuah era baru dalam sejarah Banjar telah dimulai, sebuah era yang penuh dengan darah, perlawanan, dan harapan. Ini adalah awal dari Perang Banjar yang terkenal.
