Perjalanan menuju Gunung Es Abadi dimulai. Lev, Vania, dan Anatasya meninggalkan Arcanum di bawah langit yang masih gelap. Argus mengantar mereka sampai gerbang, matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. “Tetap waspada. Kalian tidak tahu apa yang menanti kalian di luar sana.”
Mereka memasuki hutan yang mengelilingi Arcanum. Hutan itu tidak seperti hutan biasa. Pohon-pohonnya menjulang tinggi, dan beberapa di antaranya memancarkan cahaya redup. Udara terasa lembap dan dipenuhi suara-suara aneh dari makhluk-makhluk yang bersembunyi di baliknya.
“Aku tidak suka tempat ini,” bisik Vania, api kecil menari-nari di telapak tangannya. “Terasa aneh.”
“Jangan khawatir,” kata Anatasya, memimpin jalan dengan bola air yang berfungsi sebagai lentera. “Kita akan aman selama kita bersama.”
Lev, yang kini lebih percaya diri dengan kekuatannya, menggunakan elemen buminya untuk menyingkirkan ranting-ranting yang menghalangi jalan. Ia juga menciptakan jalan setapak yang kokoh, membuat perjalanan mereka menjadi lebih mudah.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor makhluk aneh. Makhluk itu menyerupai seekor laba-laba besar, tetapi terbuat dari bayangan. Matanya merah, dan ia memancarkan energi dingin yang familiar. Itu adalah Sombra.
“Aku tahu kalian akan datang,” bisik Sombra, suaranya sedingin es. “Kalian tidak akan mendapatkan kristal itu.”
Sombra menyerang mereka. Vania meluncurkan bola api ke arahnya, tetapi makhluk itu dengan cepat menghindar. Anatasya menciptakan cambuk air yang menyerang Sombra, tetapi makhluk itu menghilang dalam sekejap.
Lev, yang kini lebih mengerti kekuatannya, menyentuh tanah. Ia merasakan getaran di bawah kakinya, dan ia tahu bahwa makhluk itu masih ada di dekatnya. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, menciptakan gempa kecil. Sombra, yang bersembunyi di bawah tanah, terkejut dan muncul kembali ke permukaan.
“Bagaimana kau bisa tahu?” bisik Sombra, terkejut.
“Aku adalah bagian dari bumi,” jawab Lev, suaranya dipenuhi tekad. “Aku tahu di mana kau berada.”
Pertarungan berlanjut. Lev, Vania, dan Anatasya bekerja sama dengan baik. Vania menggunakan apinya untuk membakar Sombra, Anatasya menggunakan airnya untuk melumpuhkan Sombra, dan Lev menggunakan elemen buminya untuk menciptakan jebakan. Sombra, yang kewalahan, akhirnya mundur, menghilang dalam kepulan asap hitam.
“Kita berhasil,” kata Vania, terengah-engah.
“Ya,” timpal Anatasya. “Tapi Sombra lebih kuat dari yang kita kira. Dia tahu kita datang.”
Lev mengangguk. Ia tahu bahwa ini hanyalah pertempuran kecil. Pertempuran yang sesungguhnya masih menunggu mereka di Gunung Es Abadi.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, kali ini dengan kewaspadaan yang lebih tinggi. Mereka tahu bahwa Sombra akan mencoba untuk menghentikan mereka lagi. Tetapi, mereka tidak takut. Mereka tahu bahwa mereka memiliki satu sama lain, dan mereka saling percaya.
Bab ini diakhiri dengan mereka akhirnya sampai di perbatasan hutan dan melihat Gunung Es Abadi yang menjulang tinggi di kejauhan. Pemandangan itu begitu megah, tetapi juga menakutkan. Mereka tahu bahwa ini adalah misi yang sangat sulit, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka harus melakukannya. Mereka adalah satu-satunya harapan untuk Arcanum dan dunia manusia.
