Bagi Eva, pertemuan dengan Martha adalah sebuah pengingat yang menyakitkan. Namun, tak ada yang bisa mempersiapkannya untuk apa yang terjadi keesokan harinya. Setelah merasa sedikit lebih baik, ia membuka kembali toko "Memori Abadi". Bel pintu berdering dan seorang pemuda masuk. Ia tidak terlalu tinggi, dengan rambut cokelat dan mata biru yang ramah. Mata yang sangat familier.
Pemuda itu memandang sekeliling, matanya penuh rasa ingin tahu, lalu tatapannya jatuh pada sebuah foto yang diletakkan di meja kasir. Itu adalah foto lama Eleanor dan Harold. Wajah pemuda itu berubah. Ada campuran rasa terkejut dan sedih di matanya.
"Ini... nenek buyutku," gumam pemuda itu, lebih kepada dirinya sendiri. "Dan kakek buyutku. Eleanor dan Harold."
Eva merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia menatap pemuda itu, berusaha mencerna kalimat yang baru saja ia dengar. "Kau... siapa?"
Pemuda itu tersenyum. "Namaku Ethan. Ethan Reynolds. Aku cucu dari Clara. Nenek buyutku ini punya anak perempuan namanya Clara. Aku sedang melakukan penelitian tentang silsilah keluarga, dan aku dengar dari sepupuku, Martha, dia menemukan liontin keluarga di sini. Aku tidak menyangka akan menemukan fotonya juga."
Eva terdiam, tenggorokannya tercekat. Clara adalah putri Eleanor. Gadis kecil yang dulu sering ia gendong, yang ia ajari menyulam, yang melihatnya sebagai bibi yang paling menyenangkan. Ia telah melihat Clara tumbuh dewasa, menikah, dan memiliki anak. Kemudian, ia meninggalkan kota, meninggalkan Clara, Harold, dan Eleanor, karena ia tidak bisa melihat mereka menua sementara ia tetap muda.
"Kau kenal mereka?" tanya Ethan, memandang Eva dengan tatapan penuh harapan.
Eva mengangguk. "Ya. Sangat baik. Aku... teman baik mereka."
"Aku tidak tahu kalau mereka punya teman semuda dirimu," kata Ethan, matanya berkerut.
Eva tersenyum pahit. "Aku... kenal mereka saat mereka masih sangat muda."
"Wah," kata Ethan, kagum. "Kalian pasti teman yang sangat setia. Nenek buyutku selalu bercerita tentang seorang teman yang sangat baik, yang pergi begitu saja. Clara bilang, dia selalu berharap teman itu kembali. Apakah itu... kau?"
Luka lama yang Eva kira sudah sembuh, kini terbuka lebar. Ia merasakan kepedihan yang sama seperti saat ia meninggalkan mereka. Kepedihan karena harus berpisah dengan orang-orang yang ia cintai, kepedihan karena harus bersembunyi dari takdirnya sendiri.
"Mungkin," jawab Eva, suaranya pelan. "Aku banyak melakukan perjalanan. Aku... pergi saat aku merasa harus pergi."
"Begitu," kata Ethan, mengangguk-angguk. "Aku mengerti. Jadi, ceritakan padaku tentang mereka. Nenek buyutku sangat merindukan mereka. Tapi sayangnya, mereka berpulang sebelum aku lahir."
Dan Eva, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, mulai bercerita. Ia menceritakan kisah-kisah kecil yang hanya ia yang tahu. Tentang kebiasaan Harold yang selalu bersiul saat ia sedang memperbaiki sesuatu. Tentang kecintaan Eleanor pada teh chamomile. Tentang tawa Clara saat Eva mengajarinya bermain piano. Ethan mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya berbinar.
"Aku tidak menyangka kau begitu... terhubung dengan keluargaku," kata Ethan, saat Eva selesai bercerita. "Nenek buyutku... akan sangat bahagia jika ia tahu kau kembali."
Eva tidak menjawab. Ia tahu, ia tidak benar-benar kembali. Ia tidak bisa.
"Apakah... kau akan berada di sini untuk waktu yang lama?" tanya Ethan, matanya penuh harap.
Eva menatap Ethan, melihat sekilas wajah Harold di sana, tawa Eleanor, dan kepolosan Clara. Semua kenangan itu bercampur menjadi satu, membentuk satu sosok baru di hadapannya. Ia merasakan beban keabadiannya menimpanya. Ia harus berbohong. Ia harus pergi lagi.
"Aku tidak tahu," jawab Eva, suaranya serak. "Dunia ini... sangat luas. Aku tidak pernah tahu kapan aku akan pergi."
Ethan terlihat kecewa, tetapi ia mengangguk. Ia mengerti. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa ada semacam takdir yang menghubungkan dirinya dengan wanita muda ini.
Saat Ethan pergi, meninggalkan Eva sendirian lagi dengan kenangan-kenangan yang bergemuruh di kepalanya, Eva tahu ia telah membuat sebuah kesalahan. Ia telah membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Pertemuan dengan cicit dari sahabatnya, ditambah dengan percakapannya dengan Alex, membuatnya menyadari bahwa ia tidak bisa terus menerus bersembunyi. Kehidupan akan terus berlanjut, dengan atau tanpa dirinya. Dan ia, akan terus menyaksikan.
Ia duduk di kursinya, matanya berkaca-kaca. Perpisahan dengan Eleanor, yang ia kira sudah ia atasi, kini kembali terasa menyakitkan. Namun, ada satu hal yang berbeda. Kali ini, ia tidak sendiri. Ada Alex. Alex yang mungkin, suatu hari nanti, akan ia tinggalkan juga. Perasaan bersalah dan ketakutan itu menggerogoti hatinya. Ia tahu, ia tidak bisa lari lagi. Ia harus menghadapi apa yang telah ia mulai. Kisah baru di Alaska.
