Beberapa minggu berlalu, Lev mulai terbiasa dengan rutinitas barunya. Hari-harinya diisi dengan kesibukan di perpustakaan, di mana ia perlahan mulai menguasai sistem kerja yang berbeda dari yang pernah ia kenal di Banjarmasin. Lev masih sering merasa canggung dengan banyak hal, namun Anatasya selalu ada untuk membantunya. Interaksi mereka sering kali diwarnai oleh komedi kecil yang datang dari perbedaan budaya.
Suatu siang, saat jam istirahat, Anatasya mendapati Lev sedang mencoba menginstal program di komputernya, tapi Lev tampak bingung.
"Ada apa, Lev? Kamu terlihat seperti sedang berkelahi dengan komputer," kata Anatasya sambil tersenyum geli.
"Ini... kenapa banyak sekali istilah yang tidak kumengerti," keluh Lev, menunjuk beberapa menu di layar yang masih berbahasa Swedia.
Anatasya mendekat dan dengan cekatan mengubah pengaturan bahasa menjadi Inggris. "Nah, begini kan lebih mudah. Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Aku... tidak mau merepotkan," jawab Lev lirih.
Anatasya menepuk pundak Lev. "Lev, kita ini tim. Kamu tidak merepotkan. Justru aku senang bisa membantumu. Ayo, aku tunjukkan cara cepatnya."
Mereka lalu makan siang di area istirahat. Anatasya mengeluarkan kotak bekal berisi salad, sedangkan Lev membawa bekal nasi dengan lauk yang ia masak sendiri—ia sudah menemukan toko bahan makanan halal terdekat. Anatasya memperhatikan bekal Lev.
"Wah, baunya enak sekali, Lev. Masakan apa itu?" tanya Anatasya.
"Ini ikan gabus masak habang," jawab Lev, bangga. "Masakan khas Banjar."
"Boleh aku coba?"
Lev ragu sejenak, lalu menawarkan sendoknya. Anatasya mengambil sedikit, mencicipinya, dan matanya langsung membelalak. "Wah! Ini enak sekali! Pedasnya pas dan rasanya kaya. Kamu jago masak, Lev!"
Pujian Anatasya membuat pipi Lev merona. "Ah, biasa saja," ucapnya malu-malu.
Di luar jam kerja, Anatasya juga membantu Lev beradaptasi dengan kehidupan di Stockholm. Anatasya adalah pemandu yang tak kenal lelah, mengajaknya naik transportasi umum, mengenalkannya pada tempat-tempat wisata, dan mengajaknya mencoba hal-hal baru. Lev yang biasanya pemalu harus pasrah ketika Anatasya menyeretnya naik ke trem yang penuh sesak atau mengajaknya menonton film di bioskop dengan bahasa Swedia yang tidak ia mengerti.
Pada suatu sore yang cerah, Anatasya mengajak Lev ke sebuah kafe di dekat apartemennya. Keduanya duduk di teras luar, menikmati udara segar. Tiba-tiba, Lev melihat sesuatu yang membuatnya panik. Kucing garong yang sering ia beri makan di toko roti, kini sedang berjalan santai di pinggir jalan, hendak menyeberang.
"Anatasya, tunggu!" seru Lev, bangkit dari kursinya.
"Ada apa?" tanya Anatasya bingung.
"Kucingku!" teriak Lev sambil berlari menyeberangi jalan, tanpa melihat kanan kiri.
Anatasya terkejut. "Lev! Jangan lari!"
Sebuah sepeda hampir saja menabrak Lev, tapi dengan sigap pengendara sepeda itu mengerem. Lev tidak peduli, ia terus berlari mengejar kucingnya. Anatasya yang panik melihat tingkah Lev, ikut berlari di belakangnya. "Lev, kucingnya itu bukan milikmu!"
Namun, Lev tidak mendengarkan. Ia terus mengejar kucing itu, yang kini sudah masuk ke halaman belakang sebuah rumah. Lev menerobos masuk ke halaman itu, melewati gerbang yang tidak terkunci. Di dalam, ia melihat seorang wanita tua sedang menyirami bunga.
Wanita itu terkejut melihat Lev yang tiba-tiba masuk ke halamannya. "Siapa kamu?! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya dalam bahasa Swedia yang cepat.
Lev mencoba menjelaskan, namun ia tidak bisa merangkai kata-kata dalam bahasa Swedia. "Kucing... kucing... saya," ucapnya terbata-bata sambil menunjuk kucing itu yang kini sudah duduk tenang di bawah sebuah pohon.
Wanita tua itu menatap Lev dengan curiga. "Kucingmu? Ini kucingku! Namanya Kalle!"
Saat itu Anatasya tiba, napasnya tersengal-sengal. "Maafkan teman saya, Bu. Dia salah paham," kata Anatasya dalam bahasa Swedia yang fasih. "Dia pikir kucing ini... kucingnya."
Anatasya menjelaskan situasinya, dan wanita tua itu akhirnya mengerti. Ia tertawa geli, lalu mengelus kepala kucingnya. "Kalle memang suka berjalan-jalan. Dia sering main ke toko roti itu," jelas wanita itu.
Lev merasa malu luar biasa. Ia meminta maaf kepada wanita tua itu. "Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak tahu," ucapnya dalam bahasa Inggris.
Wanita tua itu tersenyum. "Tidak apa-apa, Nak. Lain kali, jangan lari sembarangan. Stockholm bukan Banjarmasin."
Anatasya dan Lev kembali ke kafe. Anatasya tidak bisa menahan tawanya. "Lev, Lev. Kamu ini lucu sekali. Sampai segitunya mengejar kucing," kata Anatasya di sela-sela tawanya.
Lev hanya bisa menunduk malu. "Aku kira itu kucing yang sering aku beri makan," gumamnya.
Anatasya mengangguk. "Ya, mungkin itu kucing yang sama. Tapi itu bukan milikmu. Lain kali, tanya dulu. Jangan langsung lari."
Lev mengangguk. Ia tahu Anatasya benar. Ia masih belum terbiasa dengan kehidupan di sini. Masih banyak hal yang harus ia pelajari. Tapi, dengan Anatasya di sisinya, ia merasa semua akan baik-baik saja.
Malam harinya, Lev kembali ke apartemennya. Ia melihat foto Vania. "Maaf, Vania. Aku membuat kekacauan lagi," bisiknya. "Tapi... aku tidak sendirian lagi di sini. Aku punya Anatasya." Ia tersenyum. Senyum yang tulus, yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia merasa hidupnya mulai kembali normal. Ia merasa sedikit bahagia.
