Banjarbaru, Januari 2026
Gerimis tipis membasahi kaca jendela sebuah kedai kopi di kawasan Minggu Raya. Di sudut ruangan, seorang pria dengan gurat kedewasaan yang tenang di wajahnya menatap kosong ke arah jalanan yang mulai basah. Ia adalah Lev Ryley. Di hadapannya, sebuah jurnal kusam bertuliskan angka "2015" tergeletak pasrah.
Setiap kali kalender menunjukkan angka 20, atau ketika aroma tanah basah Banjarbaru menyapa indra penciumannya, ingatan Lev selalu terlempar ke masa itu. Masa di mana ia masih berusia 20 tahun, masa di mana dunia terasa begitu luas dan penuh kemungkinan, sebelum akhirnya sebuah nama tertulis di atas nisan batu alam.
"Sebelas tahun, Vania..." bisiknya lirih, hampir tak terdengar di antara deru mesin kopi.
Lev memejamkan mata, dan seketika, mesin waktu di kepalanya berputar hebat, membawanya kembali ke tahun 2015.
Banjarbaru, Januari 2015
Perpustakaan pusat kampus siang itu terasa lebih tenang dari biasanya. Sinar matahari Kalimantan Selatan yang terik hanya mampu mengintip melalui celah-celah ventilasi tinggi, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas debu-debu halus di antara rak buku. Lev Ryley, mahasiswa semester empat yang lebih suka menghabiskan waktu dengan literatur sejarah Islam daripada nongkrong di kafe, sedang sibuk mencari referensi tentang arsitektur masjid di Nusantara.
Langkahnya terhenti di rak kategori "Sosial dan Budaya". Di sana, seorang gadis sedang berjinjit, berusaha meraih sebuah buku tebal yang terselip di rak paling atas. Gadis itu mengenakan jilbab berwarna khimar ungu muda yang tampak kontras dengan kulit kuning langsatnya.
"Perlu bantuan?" tanya Lev singkat, suaranya rendah namun mantap.
Gadis itu menoleh. Itulah pertama kalinya Lev melihat mata itu—mata yang jernih, penuh binar kehidupan, namun memiliki ketenangan yang menghanyutkan. "Oh, iya. Syukran, ya. Buku Sosiologi Masyarakat Banjar itu agak terlalu tinggi buat saya," jawabnya sambil tersenyum simpul.
Lev meraih buku itu dengan mudah dan menyerahkannya. Untuk sekejap, jari mereka hampir bersentuhan sebelum Lev dengan sigap menjaga jarak, sebuah bentuk penjagaan diri yang sudah menjadi prinsip hidupnya.
"Nama saya Vania. Vania Larasati," ucap gadis itu tanpa diminta, sambil memeluk buku tebal tersebut di depan dadanya.
"Lev. Lev Ryley," jawab Lev singkat, namun dalam hatinya, nama itu beresonansi seperti sebuah nada yang sangat akrab.
Sejak hari itu, takdir seolah sengaja menenun benang-benang pertemuan di antara mereka. Banjarbaru yang kecil membuat mereka sering bertemu di tempat-tempat yang tak terduga. Kadang di depan Masjid Agung Al-Munawwarah setelah shalat Ashar, terkadang di sela-sela kegiatan kerelawanan di panti asuhan dekat wilayah Landasan Ulin.
Vania adalah antitesis dari sifat Lev yang kaku. Ia adalah tawa di tengah kesunyian. Ia adalah gadis yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menjelaskan betapa indahnya ayat-ayat tentang kesabaran dalam Al-Qur'an. Lev mulai menyadari bahwa ia tidak hanya mengagumi parasnya, tetapi ia jatuh cinta pada cara Vania mencintai Tuhannya.
Suatu sore di bulan Februari, saat mereka duduk di bangku taman kota—tentu saja dengan jarak yang aman sesuai adab—Vania menatap langit yang berwarna jingga keunguan.
"Lev, kamu tahu kenapa intan harus digosok berkali-kali dengan tekanan yang kuat sebelum menjadi indah?" tanya Vania tiba-tiba.
Lev menoleh, memperhatikan profil wajah Vania dari samping. "Kenapa?"
"Karena tanpa tekanan dan gesekan, ia hanya akan menjadi karbon biasa. Manusia juga begitu. Allah seringkali memberikan 'gesekan' berupa ujian agar iman kita berkilau seperti intan di tanah Cempaka ini," Vania tersenyum, namun ada nada getir yang tersembunyi di balik suaranya.
Saat itu, Lev tidak menyadari bahwa ucapan Vania adalah sebuah nubuat. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa bulan ke depan, 'gesekan' yang dimaksud Vania akan datang dalam bentuk sel-sel ganas yang mulai tumbuh diam-diam di dalam tubuh gadis itu.
Di usia 20 tahun, Lev merasa memiliki segalanya. Ia memiliki rencana pernikahan setelah wisuda, ia memiliki tabungan yang ia kumpulkan dari hasil mengajar les privat, dan ia memiliki Vania yang selalu mendukung setiap langkahnya. Mereka adalah dua anak muda yang sedang memadu kasih dalam bingkai ketaatan, tanpa menyadari bahwa maut sedang mengintip di balik tikungan jalan perjuangan mereka.
"Vania, aku ingin menjagamu. Bukan hanya di dunia, tapi sampai ke Jannah," ucap Lev suatu hari saat mengantar Vania pulang.
Vania terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan. "Amin, Lev. Tapi berjanjilah satu hal. Jika suatu saat nanti Allah memintaku pulang lebih dulu, tetaplah menjadi hamba-Nya yang bersyukur. Jangan pernah benci pada takdir."
Lev tertawa kecil saat itu, menganggapnya hanya sebagai obrolan filosofis khas mahasiswa aktivis dakwah. Ia tidak tahu bahwa kata-kata itu adalah wasiat pertama yang akan menghantuinya selama sisa hidupnya. Di bawah langit Banjarbaru yang mulai meredup, kisah mereka baru saja dimulai, tepat sebelum badai paling gelap dalam sejarah hidup Lev Ryley menerjang tanpa peringatan.
