Pagi di kantor arsitektur Imran Al-Fikri berjalan lancar. Rapat dewan kota mengenai desain pusat komunitas baru di pinggiran Paris sukses besar. Imran pulang ke rumah sore itu dengan perasaan bangga dan perut keroncongan.
Namun, saat memasuki rumah, konsentrasi Imran langsung teralihkan. Bukan karena panggilan azan Ashar, tapi karena podcast yang didengarnya saat perjalanan pulang: Dwayne "The Rock" Johnson berbicara tentang rutinitas makan enam kali sehari yang disiplin ketat untuk menjaga fisiknya.
"Disiplin," gumam Imran sambil membuka kulkas. "Itu kuncinya. Kekuatan fisik adalah bagian dari kekuatan mental dan spiritual."
Aisha baru saja kembali dari butiknya, melepas sepatu haknya dengan napas lega. Ia menemukan suaminya sedang menatap brokoli kukus dengan pandangan penuh tekad.
"Kamu baik-baik saja, Imran? Brokoli itu tidak akan berubah jadi steak dengan tatapan seperti itu," komentar Aisha, geli.
"Aisha, kita harus lebih serius soal nutrisi," kata Imran, matanya berbinar-binar dengan ide baru. "The Rock makan enam kali sehari. Porsi terukur. Protein tinggi. Aku sudah hitung kalori kita. Mulai besok, kita terapkan 'Diet Alpha Islamiyah'!"
Aisha menatap suaminya sejenak. "Diet Alpha Islamiyah? Kedengarannya seperti nama gerakan militer, bukan menu makan malam."
"Ini disiplin, Aisha! Bayangkan kita semua bugar, kuat, sehat. Kita bisa lebih produktif dalam beribadah, bekerja, dan mengurus anak-anak," Imran mulai bersemangat, melenturkan bisepnya lagi.
Malam itu, meja makan yang biasanya penuh dengan hidangan khas Prancis atau Maghribi yang lezat, kini dipenuhi mangkuk-mangkuk kecil berisi dada ayam rebus tawar, brokoli kukus, dan nasi merah. Semuanya ditimbang dengan cermat.
Anak-anak menatap hidangan mereka dengan horor yang nyaris komedi.
"Ayah," Tariq, si remaja, protes, "Ini terlihat seperti makanan rumah sakit setelah bencana. Di mana sausnya? Di mana keju raclette-nya?"
Imran dengan tenang mengambil sendoknya. "Ini nutrisi murni, Tariq. Tidak ada gula tersembunyi, tidak ada lemak jahat. Lihat! Pure protein."
Zahra, si calon dokter, mencoba bersikap diplomatis. "Secara medis ini sehat, Ayah. Tapi secara psikologis, ini menyedihkan."
Hanya Layla dan Omar yang mencoba memakan brokoli mereka dengan wajah polos, mungkin membayangkan itu adalah makanan astronot di luar angkasa.
Imran mencoba memimpin dengan contoh, melahap ayam rebusnya dengan semangat yang dipaksakan. Tapi di suapan ketiga, wajahnya mulai berubah kecut. Hambar. Sangat hambar.
Aisha, yang diam-diam menambahkan sedikit taburan lada hitam dan minyak zaitun berkualitas ke piringnya saat Imran lengah, makan dengan lebih tenang.
"Baiklah, kita coba ini selama tiga hari," putus Imran, meskipun tekadnya sudah mulai goyah di gigitan keempat.
Keesokan paginya, Imran bangun dengan perasaan lapar yang luar biasa. Dia menyelinap ke dapur pada pukul 04.00 pagi, sebelum azan Subuh. Rencananya adalah makan 'makanan ketiga' dari enam jatah makan hariannya: oatmeal tawar dan beberapa butir telur rebus.
Saat ia sedang mengupas telur rebus dengan mata setengah tertutup, sebuah ide jahat muncul di benaknya. Di dalam lemari paling atas, tersembunyi di balik tumpukan toples rempah-rempah halal, ada satu stoples selai coklat-kacang premium yang dibeli Aisha minggu lalu.
"Hanya sedikit," bisik Imran pada dirinya sendiri, mencoba membenarkan tindakannya secara internal. "Protein dari selai kacang itu baik, kan? The Rock pasti punya cheat meal."
Ia mengambil stoples itu dengan hati-hati. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena adrenalin latihan pagi, tapi karena rasa bersalah. Ini adalah momen komedi yang sempurna: seorang pria Muslim taat, di Paris yang sunyi, mencoba mencuri selai di dapur sendiri seolah-olah dia adalah pencuri profesional.
Tepat ketika jari telunjuknya yang besar hendak menyentuh selai coklat yang menggiurkan itu—
Klik. Lampu dapur menyala.
Aisha berdiri di ambang pintu, mengenakan piyama motif bunga dan kerudung instan, dengan tangan bersedekap. Wajahnya tidak marah, hanya... penuh ekspektasi.
Imran membeku, tangannya masih di dalam stoples.
"Subuh sebentar lagi, Imran," kata Aisha, suaranya tenang tapi mengandung humor yang mendalam. "Apakah 'Diet Alpha Islamiyah' The Rock menyarankan makan selai coklat pada jam empat pagi?"
Imran menarik tangannya keluar dengan cepat, meninggalkan sedikit jejak coklat di ujung jarinya.
"Aku... aku sedang memeriksa tanggal kedaluwarsa, Aisha. Keamanan pangan itu penting," ia mencoba berdalih dengan wajah sepolos mungkin.
Aisha berjalan mendekat, mengambil sendok bersih, dan menciduk sedikit selai.
"Kamu tahu, Imran," katanya sambil menjilat selai itu dengan nikmat, "Disiplin itu baik, tapi Islam juga mengajarkan wasatiyyah—keseimbangan. Kita tidak perlu menjadi The Rock untuk menjadi kuat. Kita hanya perlu menjadi Imran yang terbaik."
Dia memberikan sendok itu pada Imran. Imran ragu sejenak, lalu ikut menjilat sisa selai. Matanya langsung berbinar. Kenikmatan duniawi yang hakiki.
Pagi itu, menu sarapan kembali normal: pancake madu Aisha yang lezat. Imran mengumumkan kepada anak-anaknya bahwa 'Diet Alpha Islamiyah' telah berevolusi menjadi 'Pola Makan Seimbang Ala Keluarga Al-Fikri'.
Di Paris, di tengah kehidupan modern yang serba cepat, keluarga Al-Fikri belajar satu hal: terkadang, kekuatan terbesar bukanlah otot bisep yang besar atau disiplin militer, melainkan tawa bersama atas kegagalan diet Ayah, dan kenikmatan sederhana dari selai coklat yang dibagi bersama.
