Kekacauan yang terjadi saat Vania menerima penghargaan "Guru Teladan" ternyata tidak membuat Mia kapok. Justru sebaliknya, insiden itu memberinya ide baru yang lebih ekstrem. Malam itu, di rumah Vania, mereka bertiga berkumpul lagi, kali ini dengan misi rahasia: menciptakan profil Vania di biro jodoh online Islami.
"Mia! Gila kamu!" Vania melotot melihat Mia yang sudah sibuk mengisi formulir di layar laptop. "Aku nggak mau! Aku mau cari jodoh dengan cara yang halal dan natural!"
"Inilah cara halal, Van!" seru Mia dengan semangat menggebu. "Ini kan biro jodoh Islami, jadi kita bisa yakin orang-orangnya baik. Lagipula, ini cuma perantara. Jodohnya tetap Allah yang tentukan."
"Tapi... profilnya..." Vania melihat foto yang dipilih Mia. Foto dirinya yang paling cantik, saat sedang berkunjung ke Masjid Raya Sabilal Muhtadin, dengan senyum manis dan mata berbinar. "Itu aku yang editan, Mia! Aku aslinya tidak sebersih itu!"
"Justru itu! Kan kita harus menampilkan yang terbaik. Kalau sudah deal, baru kita kasih lihat yang asli. Kalau dia cinta karena Allah, pasti dia terima kamu apa adanya," jawab Mia, yang kini sibuk mengetik deskripsi profil.
"Aduh, Van. Lagipula kan ini ide yang bagus," timpal Sarah, yang entah kenapa kali ini malah mendukung Mia. "Mungkin saja pahlawan bebekmu itu juga lagi cari jodoh, kan?"
"Nah! Itu dia intinya!" Mia mengacungkan jempolnya. "Ayo Van, sini. Deskripsinya mau diisi apa?"
Vania pasrah. "Isi saja yang normal. Guru, suka mengajar, suka masak, suka baca buku."
Mia mengernyit. "Kurang menarik, Van. Terlalu biasa. Kalau begitu, kita isi yang spesial."
Tanpa menunggu persetujuan Vania, Mia mengetik cepat.
Nama: Vania Larasati (30)
Pekerjaan: Guru Teladan SD Tunas Bangsa
Sifat: Baik, sholehah, penyabar (meski sering kena musibah)
Hobi: Mengajar, memasak (walaupun suka gagal), lari pagi (kadang dikejar bebek), dan membaca.
Mencari: Pria sholeh, mapan, penyayang, dan tidak lari saat melihat saya dikejar bebek atau tumpahan es kelapa muda.
Vania membaca tulisan itu dengan mata melotot. "Mia! Kamu gila! Kenapa kamu tulis yang terakhir?!"
"Biar beda, Van! Biar unik! Nanti kan dia penasaran, terus nanya kenapa kamu bisa dikejar bebek. Kan jadi ada topik pembicaraan," jawab Mia dengan enteng.
Sarah tertawa kecil. "Benar juga, sih. Itu kan pengalaman unikmu, Van. Kenapa harus malu?"
Vania menghela napas panjang. Ia merasa lelah menghadapi dua sahabatnya yang super ajaib ini. Akhirnya, dengan berat hati, ia membiarkan Mia menyelesaikan profilnya.
"Selesai! Sekarang tinggal kita tunggu saja, Van. Pasti ada yang nyangkut!" kata Mia, penuh percaya diri.
Keesokan harinya, Vania menerima notifikasi di ponselnya. Ada tiga pesan masuk dari biro jodoh online yang dibuatkan Mia. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasa takut sekaligus penasaran. Ia membuka pesan pertama.
Pria-id-7326: "Assalamualaikum, Ibu Vania. Saya tertarik dengan profil Anda. Saya seorang pengusaha yang sedang mencari pendamping hidup. Apakah Anda bersedia berkenalan?"
Pesan kedua.
Pria-id-8759: "Assalamualaikum, ukhti. Aku tertarik sama hobinya. Bisa sharing soal pengalaman dikejar bebek? Kayaknya seru."
Vania membaca pesan kedua dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak percaya ada orang yang benar-benar tertarik dengan hobi konyolnya itu.
Pesan ketiga.
Pria-id-4562: "Assalamualaikum, Bu Guru. Saya sangat tertarik dengan profil Anda. Kebetulan, saya seorang wali murid di sekolah tempat Anda mengajar. Anak saya Naufal. Senang bisa bertemu lagi."
Vania terperanjat. Jantungnya serasa mau copot. Ia membaca ulang pesan itu. Matanya membulat. "Wali murid? Anak saya Naufal?"
Ia tahu betul siapa itu Lev Ryley. Pria misterius itu, yang ia temui di Jembatan Barito, lalu di Pasar Terapung, ternyata adalah ayah dari muridnya sendiri. Dan kini, ia mengirimkan pesan di biro jodoh online yang dibuatkan oleh Mia.
Vania langsung menelepon Mia dengan panik.
"Mia! Kamu lihat pesan di biro jodoh online nggak?!"
"Iya, kenapa? Ada yang jelek ya?"
"Tidak! Ada yang mengerikan! Ada yang ngaku wali muridku!"
"Hah? Serius?!"
"Iya! Dia bilang anak saya Naufal. Aku harus bagaimana, Mia?!" Vania merasa ingin menangis. Ia membayangkan Lev akan menertawakannya, atau lebih buruk lagi, menganggapnya tidak profesional.
"Van, tenang! Tenang! Mungkin ini takdir! Ini kan rencana Allah. Mungkin ini cara Allah mempertemukan kamu dengan jodohmu. Jangan panik dulu," kata Mia, berusaha menenangkan. Tapi Vania tahu, Mia juga sama paniknya.
Vania hanya bisa menghela napas. Ia merasa hidupnya semakin rumit sejak bertemu Lev Ryley. Tapi di sisi lain, ada sedikit rasa penasaran yang muncul. Apakah ini benar-benar takdir? Apakah ia akan bertemu lagi dengan Lev, si pahlawan bebek, si pria misterius, si ayah Naufal, si pengirim pesan biro jodoh? Vania hanya bisa menunggu, dan berharap takdir kali ini tidak seaneh episode-episode sebelumnya.
