Zainab menemukan Maimunah meringkuk di bawah sebuah pohon birch yang tertutup salju. Hidung Maimunah merah dan air mata membeku di pipinya. Zainab duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Ia hanya memeluk pundak sahabatnya, membiarkan Maimunah mengeluarkan semua kesedihan yang memenuhi hatinya.
"Kenapa, Zai? Kenapa harus begini?" tanya Maimunah, suaranya parau.
"Terkadang, Allah menjauhkan kita dari orang yang kita cintai, bukan karena Allah membenci kita, tapi karena Allah punya rencana yang lebih baik," jawab Zainab, dengan suara lembut.
Maimunah tidak menjawab. Ia hanya terus menangis. Zainab tidak memaksanya untuk berhenti. Ia tahu, Maimunah butuh waktu untuk melampiaskan perasaannya.
Adam, yang menyusul mereka, berdiri tidak jauh dari sana. Ia menatap Maimunah dengan prihatin. Ia tidak pernah melihat Maimunah sesedih ini. Maimunah yang selalu ceria, kini terlihat rapuh.
Setelah Maimunah merasa lebih tenang, Zainab membantunya berdiri. "Ayo kita pulang, Mun. Kamu butuh istirahat."
Maimunah mengangguk. Ia berjalan lunglai, diapit oleh Zainab dan Adam. Ketiganya kembali ke asrama dengan keheningan yang menyesakkan.
Sesampainya di kamar, Maimunah langsung berbaring di kasurnya. Ia tidak mau makan, tidak mau bicara. Ia hanya ingin tidur, berharap saat ia terbangun, semua ini hanyalah mimpi.
Zainab, yang merasa khawatir, membuatkan teh hangat untuk Maimunah. "Minum ini, Mun. Biar kamu tenang."
Maimunah meminumnya, tetapi matanya tetap kosong.
Adam mengetuk pintu kamar Maimunah. Zainab membukakan pintu.
"Gimana Maimunah?" tanya Adam.
"Dia nggak mau makan, nggak mau bicara," jawab Zainab.
Adam masuk. Ia duduk di samping kasur Maimunah. "Maimunah," panggilnya, "aku punya sesuatu buat kamu."
Maimunah tidak merespons.
Adam meletakkan sebuah cangkir kopi di nakas. "Ini kopi, Mun. Kopi pahit. Kaya hidup. Tapi kalo kamu mau, aku bisa tambahin gula. Tapi kalo kamu nggak mau, juga nggak apa-apa. Karena kadang-kadang, kita butuh kopi pahit buat menyadarkan kita, kalau hidup ini nggak selalu manis."
Maimunah menatap cangkir kopi itu. Ia mengambilnya, lalu meminumnya. Kopi itu terasa pahit, tetapi juga hangat. Ia merasa, kata-kata Adam benar. Hidup ini tidak selalu manis, tetapi ada hikmah di balik setiap kepahitan.
"Terima kasih, Dam," kata Maimunah, suaranya serak.
Adam tersenyum. "Sama-sama, Mun."
Zainab melihat Maimunah dengan lega. Ia tahu, Maimunah akan baik-baik saja.
Keesokan harinya, Maimunah bangun dengan mata bengkak, tetapi dengan hati yang lebih tenang. Ia memutuskan untuk move on. Ia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Ia tahu, Allah punya rencana yang lebih baik.
"Zai, aku mau jalan-jalan," kata Maimunah.
"Ke mana?" tanya Zainab.
"Ke tempat yang belum pernah kita datengin," jawab Maimunah, "aku mau cari tempat baru, biar kenangan lama hilang."
Zainab tersenyum. "Ide bagus."
Adam ikut serta dalam petualangan mereka. Mereka mengunjungi beberapa tempat wisata yang belum pernah mereka kunjungi, seperti Museum Sejarah Rusia dan Biara Novodevichy. Maimunah mengambil banyak foto, tetapi kali ini, ia tidak berpose konyol. Ia hanya mengambil foto-foto pemandangan indah.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang wanita tua yang menjual kerajinan tangan. Wanita itu terlihat ramah, dan ia menceritakan kisah hidupnya yang pahit. Suaminya meninggal, dan ia harus menghidupi dirinya sendiri.
Maimunah merasa terharu. Ia membeli beberapa kerajinan tangan wanita itu, dan memberikan uang lebih. Wanita itu menolak, tetapi Maimunah bersikeras.
"Saya ikhlas, Nek," kata Maimunah.
Wanita tua itu tersenyum. "Kamu anak yang baik."
Maimunah merasa senang. Ia merasa, ia telah melakukan hal yang baik.
Di perjalanan pulang, Maimunah menceritakan kisah wanita itu pada Zainab dan Adam. "Aku merasa, aku beruntung banget," kata Maimunah, "aku masih punya keluarga, aku masih punya teman-teman yang baik. Aku nggak seharusnya sedih."
Zainab mengangguk. "Itu benar, Mun."
Adam tersenyum. "Kamu sudah dewasa, Mun."
Maimunah tersipu. "Nggak juga."
Maimunah tahu, ia masih punya banyak hal yang harus dipelajari. Ia masih punya banyak hal yang harus ia lakukan. Ia tidak mau membiarkan masa lalunya mengganggu masa depannya. Ia ingin terus melangkah maju, dengan hati yang ikhlas.
To be continued...
