Mereka berkumpul di ruang makan penginapan, kali ini di pagi hari yang tenang. Vania sedang memeriksa anak panahnya, Anastasya membaca buku sihir tebal, dan Lev sedang mencoba men-summon Sippy untuk bersih-bersih meja (Sippy menolak karena meja sudah bersih).
"Gletser Frostfire adalah dungeon Peringkat D," jelas Vania, yang sudah melakukan riset semalaman. "Temperaturnya ekstrem, ada monster es, dan mungkin monster api di lantai bawah. Kita butuh pakaian hangat dan ketahanan api/es."
Lev mengangguk serius. "Aku sudah cek di sistem guild. Dungeon ini terkenal karena boss fight di lantai lima. Golem Salju Raksasa."
Anastasya menutup bukunya. “Monster es biasanya lemah terhadap api, dan monster api lemah terhadap es. Frostfire Dungeon berarti kita butuh ramuan penahan panas dan dingin.”
“Tepat sekali, Nona Pintar!” Vania menyetujui. “Kita harus belanja lagi. Kali ini persiapannya harus matang. Ini bukan lagi gua lumut hijau atau selokan kota.”
Mereka menuju toko perlengkapan petualang yang lebih besar dari "Gerobak Gandalf", namanya "Arsenal Ksatria". Toko ini menjual zirah lengkap, senjata magis, dan ramuan khusus.
“Kita butuh jubah hangat yang diimbuhi sihir penahan dingin, ramuan penahan panas, dan beberapa ramuan kesehatan tingkat lanjut,” Lev membuat daftar belanja.
Di toko, mereka bertemu dengan pemiliknya, seorang ksatria tua bernama Sir Gareth, yang memiliki bekas luka di wajahnya dan ekspresi serius.
“Ekspedisi Gletser Frostfire, ya? Itu dungeon yang sulit untuk tim peringkat F seperti kalian,” kata Sir Gareth, suaranya parau. “Banyak petualang yang hilang di sana karena meremehkan suhu ekstremnya.”
“Kami sudah siap, Sir,” Vania menjawab dengan percaya diri. “Kami punya strategi dan penyihir hebat.”
Sir Gareth melirik Anastasya yang sedang mengamati ramuan di rak dengan tatapan kosong. “Penyihir muda yang pendiam. Hati-hati. Dungeon itu menguji kekompakan tim.”
Mereka membeli jubah hangat ajaib yang terlihat stylish sekaligus fungsional (Vania bersikeras soal gaya), ramuan, dan beberapa obor khusus yang tidak padam oleh angin dingin. Total biaya membuat dompet Lev menipis drastis.
“Aku harus cepat kaya kalau begini,” bisik Lev pada Sippy. Sippy hanya 'kyuu~'.
Sore harinya, mereka berlatih bersama di lapangan latihan kota. Vania berlatih akurasi tembakan panahnya, Anastasya berlatih mengendalikan sihir es dan apinya agar lebih efisien, dan Lev... Lev mencoba men-summon sesuatu yang baru.
“Summon Skill Level 1. Target: Acak.” Lev fokus dan mengucapkan mantra dari Grimoire Pemula-nya. Lingkaran sihir muncul. Cahaya hijau terang menyilaukan mata.
Dari lingkaran sihir, muncullah... seekor ayam jantan berbulu kuning cerah, dengan mata melotot, dan paruh yang tajam. Ayam itu langsung berkokok nyaring, ‘Kukuruyukkk!’, dan mulai mematuk-matuk tanah di lapangan latihan.
“Ayam?” Vania dan Anastasya menatap makhluk baru itu dengan bingung.
“Chicky, the Battle Rooster. Skill: Peck Attack, Alarm Call.” Suara sistem menjelaskan.
“Ayam tempur?” Lev menghela napas. “Aku mau Golem atau Ifrit, bukan ayam.”
Chicky, si ayam tempur, melirik Sippy di bahu Lev, lalu berlari mengejarnya. Kekacauan terjadi di lapangan latihan saat ayam dan siput kejar-kejaran.
Anastasya mengamati Chicky dengan seksama. “Staminanya lumayan tinggi. Peck attack-nya bisa mengganggu konsentrasi musuh. Lumayan untuk pengalihan.”
Vania tertawa terbahak-bahak melihat Lev mencoba menangkap Chicky. “Oke, kita punya trio monster unik! Sippy si pembersih, Chicky si ayam tempur, dan mungkin monster ketiga nanti.”
Setelah berhasil menangkap Chicky (yang ternyata lincah luar biasa), mereka kembali ke penginapan. Persiapan sudah matang, dan semangat tim sudah membara.
Malam itu, mereka tidur lebih awal. Besok pagi, perjalanan panjang ke arah pegunungan beku menanti mereka. Gletser Frostfire, dungeon peringkat D, adalah ujian sesungguhnya bagi "Tiga Sekawan" dan pasukan monster unik Lev Ryley. Novel RPG fantasi mereka akan memasuki babak yang lebih serius dan menantang.
