Pesawat yang ditumpangi Lev Ryley mendarat mulus di Bandara Manchester. Langit di atas kota itu tampak kelabu, diselimuti awan tebal yang seolah menahan hujan. Udara yang dingin menyambutnya, jauh berbeda dengan kehangatan Ankara. Lev, dengan ransel di punggung dan boneka kelinci pemberian Emily di dalam saku, merasa siap untuk petualangan baru.
Ia segera menuju area pengambilan bagasi. Ia menunggu, matanya mengamati koper-koper yang berputar di atas ban berjalan. Satu per satu, koper-koper itu diambil oleh pemiliknya. Ia melihat koper hitam, koper merah, koper bermotif bunga, tapi tidak ada koper miliknya.
Setelah semua koper diambil, Lev berdiri sendirian di depan ban berjalan yang kini kosong. Ia menyadari sebuah fakta yang mengejutkan: kopernya hilang. Di dalam koper itu, tersimpan semua pakaiannya, termasuk kemeja kesayangannya yang ia rencanakan untuk dipakai saat memotret di kota ini.
Lev mendesah, merasakan kekonyolan nasibnya. Di Ankara ia salah kota, di Manchester ia kehilangan koper. Ia berjalan menuju konter lost and found, membawa serta bukti tiket dan paspornya. Petugas di konter, seorang wanita dengan rambut keriting berwarna cokelat, tersenyum ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya.
"Koper saya hilang," jawab Lev, terdengar putus asa. "Koper hitam, ukuran sedang."
Petugas itu memeriksa datanya di komputer. "Apakah Anda yakin tidak ada di tempat lain, Pak? Kadang-kadang koper bisa salah ban berjalan."
"Aku sudah cek semuanya," kata Lev. "Ini mungkin kecelakaan terburukku dalam... uhm... dua hari ini."
Petugas itu mencoba menahan tawa. "Oke, kami akan segera mencarinya. Kami akan menghubungi Anda jika ada informasi terbaru."
Lev berjalan keluar bandara dengan perasaan hampa. Tidak ada koper, tidak ada kemeja kesayangan, hanya ransel dan boneka kelinci. Ia merasa konyol, berada di Manchester dengan hanya satu setel pakaian dan jaket yang ia kenakan.
Di luar bandara, ia mencari bus menuju pusat kota. Saat ia berada di halte, hujan mulai turun, rintik-rintik kecil yang perlahan berubah menjadi deras. Lev berlari mencari tempat berteduh, tetapi ia sudah terlanjur basah kuyup.
"Kenapa harus hujan sih?" gumam Lev, merasa sangat sial. "Manchester memang punya reputasi buruk soal cuaca."
Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan dari Emily.
Emily: Kamu sudah sampai di Manchester? Jangan lupa kirim foto-foto terbaikmu!
Lev tersenyum kecil. Ia memutuskan untuk tidak memberi tahu Emily tentang kopernya yang hilang. Biarkan saja Emily mengira ia baik-baik saja. Ia akan mencari tahu bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini sendiri.
Lev akhirnya menemukan sebuah toko pakaian yang menjual baju-baju bekas. Dengan uang seadanya, ia membeli sebuah jaket tebal yang kebesaran, sebuah kaos dengan gambar band rock yang tidak ia kenal, dan sepasang celana jeans yang sobek di bagian lutut. Pakaian itu terlihat konyol dan tidak cocok dengan selera Lev yang biasanya rapi, tapi setidaknya ia tidak kedinginan.
Saat ia berjalan di jalanan Manchester, orang-orang melihatnya dengan tatapan aneh. Ia terlihat seperti seorang turis yang tersesat dan tidak punya selera fashion. Lev mencoba mengabaikan tatapan itu, berfokus pada tujuan utamanya: memotret.
Ia menemukan sebuah kafe kecil yang ramai. Di sana, ia duduk di sudut, memesan kopi hangat, dan mengeluarkan kameranya. Ia mulai memotret, mencoba menangkap esensi kota Manchester, kota yang penuh dengan sejarah, musik, dan semangat kerja keras.
Di tengah kesibukannya memotret, ponselnya berdering. Itu Emily.
"Halo?" tanya Lev, suaranya terdengar sedikit canggung.
"Lev! Kamu sudah sampai?" tanya Emily, dengan nada ceria. "Aku ada di Manchester! Aku tiba di sini lebih cepat dari yang aku perkirakan."
Lev terkejut. "Kamu... ada di sini?"
"Ya! Aku sudah menyelesaikan penelitianku. Di mana kamu? Aku bisa menemuimu sekarang," kata Emily.
Lev panik. Ia tidak mungkin menemui Emily dengan pakaian konyolnya. "Ehm... aku... aku di luar kota. Ada urusan mendadak. Kita bisa bertemu besok?"
"Besok? Kenapa harus besok? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, ya?" tanya Emily, nada suaranya berubah curiga. "Jangan bilang kamu tersesat lagi."
"Tidak! Aku tidak tersesat!" Lev membela diri. "Aku hanya... uhm... sedang sibuk."
Tiba-tiba, Lev mendengar suara tawa dari belakangnya. Ia menoleh dan melihat Emily berdiri di sana, dengan trench coat-nya dan syal yang sama. Emily menatap Lev dari atas ke bawah, dari jaketnya yang kebesaran, kaos band yang aneh, hingga celana jeans yang sobek. Ia tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai air mata menetes di sudut matanya.
"Kamu... Lev Ryley, kamu... apa yang terjadi dengan pakaianmu?" tanya Emily, di antara tawanya.
Lev merasa malu, tetapi juga lega. Ia sudah tidak perlu menyembunyikan apa pun lagi. "Kopernya hilang," katanya singkat.
Emily masih tertawa, tetapi kini ia tersenyum tulus. "Dasar. Petualanganmu selalu penuh dengan kejutan, ya?"
Lev hanya bisa pasrah. Ia tahu, dengan Emily di sisinya, Manchester akan menjadi petualangan yang tak terlupakan, meskipun tanpa kemeja kesayangannya.
Bab sebelum nya:
