Gunung Es Abadi menjulang tinggi di hadapan mereka, puncaknya diselimuti awan tebal dan salju yang tak pernah mencair. Kedinginan ekstrem menusuk kulit, bahkan sebelum mereka memulai pendakian. Vania segera mengeluarkan sedikit api dari tangannya untuk menghangatkan diri, sementara Anatasya menciptakan gelembung air hangat yang mengelilingi tubuhnya. Lev, di sisi lain, merasakan getaran bebatuan dingin di bawah kakinya, dan ia menggunakan elemen buminya untuk menciptakan perisai yang terbuat dari es dan tanah, melindungi dirinya dari angin dingin.
Pendakian dimulai. Mereka tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil bisa jadi yang terakhir. Medan yang curam dan licin membuat mereka harus ekstra hati-hati. Vania menggunakan apinya untuk menciptakan pijakan sementara di es, Anatasya menggunakan airnya untuk membuat jalan setapak yang lebih mulus, dan Lev, menggunakan elemen buminya, menciptakan pegangan di tebing es, memastikan mereka tidak tergelincir.
“Kita harus cepat,” kata Vania, napasnya terlihat seperti awan. “Aku merasakan energi Sombra semakin kuat di dekat sini.”
“Ya,” timpal Anatasya. “Dan kedinginan ini... bukan hanya dari salju. Ada sesuatu yang lain.”
Saat mereka semakin tinggi, mereka mulai merasakan ilusi. Salju di sekitar mereka mulai terlihat seperti bayangan-bayangan Sombra, bergerak-gerak dan menari-nari. Mereka mendengar bisikan-bisikan yang memanggil nama mereka, menawarkan kekuatan, dan mengejek kelemahan mereka.
Lev, yang paling rentan terhadap godaan ini, mendengar suara Sombra, yang menyamar sebagai Luna. "Kekuatan es... ia bisa membuatmu kuat. Ia bisa membuatmu menjadi pahlawan yang sebenarnya."
Lev mencoba untuk mengabaikannya, tetapi suara itu terus berbisik, semakin kuat dan semakin meyakinkan.
Di satu sisi, Vania mulai melihat ilusi yang membuatnya takut. Ia melihat dirinya membakar semua orang yang ia cintai. Ia menjerit dan hampir terjatuh, tetapi Anatasya berhasil menangkapnya dengan cambuk airnya.
"Vania, sadarlah!" teriak Anatasya. "Itu hanya ilusi!"
Anatasya, di sisi lain, melihat ilusi yang membuatnya takut. Ia melihat dirinya tenggelam di dalam air yang ia kendalikan, dan ia tidak bisa bernapas. Lev, yang kini lebih mengendalikan dirinya, menggunakan elemen buminya untuk menstabilkan Anatasya, menariknya kembali ke dunia nyata.
Mereka melanjutkan pendakian, kali ini lebih berhati-hati. Mereka tahu bahwa Sombra mencoba memisahkan mereka dengan menggunakan ketakutan mereka. Tetapi, mereka juga tahu bahwa mereka harus tetap bersama. Mereka saling berpegangan tangan, dan mereka terus mendaki.
Saat mereka sampai di puncak, mereka melihat sebuah kuil es kuno. Di depannya, ada Sombra, dalam wujud Luna, menunggu mereka. Di tangannya, ada kristal es yang memancarkan cahaya biru.
“Aku tahu kalian akan datang,” bisik Sombra, suaranya sedingin es. “Tapi kalian sudah terlambat. Kristal ini... ia akan menjadi milikku.”
Sombra, dalam wujud Luna, menyerang mereka. Kali ini, ia lebih kuat dari sebelumnya. Ia menggunakan kekuatan esnya untuk menciptakan badai es yang kuat, yang menghempas mereka. Lev, Vania, dan Anatasya terpisah.
Bab ini diakhiri dengan Lev, Vania, dan Anatasya yang terpisah dan menghadapi Sombra sendirian. Mereka tahu bahwa mereka harus bersatu untuk mengalahkan Sombra, tetapi mereka tidak tahu bagaimana caranya. Dan di tengah semua itu, Lev harus menghadapi godaan kekuatan es yang ia dambakan. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
