Eva menyadari ia tidak bisa terus mengisolasi diri. Pertemuan dengan Ethan telah memberinya pukulan telak yang membuatnya sadar bahwa lari dari masa lalu bukanlah solusi. Ia harus belajar untuk menghadapi rasa sakit itu, dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mengalihkan perhatian, dengan menjalin hubungan yang baru, meskipun ia tahu akhirnya akan menyakitkan.
Ia mulai lebih aktif terlibat dalam komunitas Talkeetna. Ada sebuah festival musim dingin yang diadakan setiap tahun, yang melibatkan semua warga kota. Festival ini adalah pesta tawa, kehangatan, dan hidangan lezat yang disajikan di udara terbuka. Eva, yang biasanya hanya menonton dari jauh, kali ini memutuskan untuk berpartisipasi. Ia menawarkan diri untuk membantu di stan makanan, menjual sup clam chowder panas yang resepnya ia pelajari dari seorang koki Irlandia di Dublin pada abad ke-18.
Saat ia sedang mengaduk sup di panci besar, Alex datang menghampirinya, wajahnya merah karena dingin, tetapi matanya berbinar. "Wah, kau di sini! Aku pikir kau akan bersembunyi di dalam toko antikmu yang suram itu."
Eva tertawa. "Tidak seburuk itu, Alex. Aku butuh udara segar."
Alex menawarkan diri untuk membantu. "Aku bisa membantumu menjual sup. Aku pandai berbicara dengan orang."
Eva setuju, dan mereka berdua mulai bekerja. Ada begitu banyak orang. Mereka semua bersemangat, tertawa, dan berbagi cerita. Eva merasa seperti bagian dari mereka, bukan sekadar penonton yang melihat dari kejauhan.
Ada seorang wanita tua bernama Susan, yang selalu menceritakan kisah yang sama tentang bagaimana ia bertemu suaminya di festival yang sama 60 tahun yang lalu. Ada seorang pria muda bernama Jake, yang mencoba merayu Eva dengan lelucon-lelucon norak. Ada sebuah keluarga dengan anak-anak yang berlarian, wajah mereka memerah karena dingin dan kegembiraan.
Alex adalah magnet. Ia memiliki pesona yang membuat orang-orang tertarik kepadanya. Ia membuat lelucon dengan Jake, ia mendengarkan cerita Susan dengan penuh perhatian, dan ia bermain salju dengan anak-anak. Eva melihatnya, dan ia tidak bisa menahan senyumnya.
Meskipun hatinya masih merasakan sakit karena pertemuan dengan Ethan, kehadirannya di tengah-tengah keramaian membuat rasa sakit itu sedikit mereda. Ia merasakan kehangatan persahabatan, kehangatan komunitas yang ia butuhkan. Ia menyadari bahwa, meskipun ia abadi, ia tidak harus selalu sendirian.
Saat festival berakhir, dan langit malam dihiasi dengan bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya, Alex mengajak Eva duduk di bangku taman. Mereka berdua minum cokelat panas, uapnya naik ke udara dingin.
"Kau tahu, Eva," kata Alex, suaranya pelan. "Kau selalu terlihat sedih, tapi hari ini, kau terlihat... bahagia."
Eva tersenyum. "Kadang-kadang, yang kita butuhkan hanyalah dikelilingi oleh orang-orang. Untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian."
"Kau memang tidak sendirian," kata Alex, memandang Eva. Matanya, yang selalu penuh semangat, kini dipenuhi dengan kelembutan.
Eva melihat ketulusan di mata Alex, dan ia merasa takut. Ia tahu, semakin dekat ia dengan Alex, semakin besar pula rasa sakit yang akan ia rasakan saat perpisahan itu tiba. Namun, di bawah langit Alaska yang penuh bintang, dengan hangatnya cokelat panas dan dinginnya malam, Eva memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati kebahagiaan yang fana ini. Ia ingin menjadi bagian dari komunitas ini, meskipun ia tahu, ia hanyalah seorang tamu yang tidak akan pernah pergi.
Ia memandang Alex, dan ia merasa ada harapan. Harapan bahwa mungkin, kali ini, ia bisa menahan perpisahan itu. Harapan yang rapuh, tetapi cukup kuat untuk membuatnya tersenyum. Eva tahu, ia tidak bisa menghentikan waktu. Tapi ia bisa memilih bagaimana ia akan menghabiskannya. Dan untuk saat ini, ia memilih untuk menghabiskannya bersama Alex dan komunitas Talkeetna.
