Menghadapi Kenyataan: Vania Semakin Kritis dan Lev Ryley di Banjarmasin.
Setelah kembali dari Nusa Penida, kondisi Vania Larasati menurun drastis. Kanker di tubuhnya semakin menyebar dan menggerogoti setiap selnya. Hari-hari yang dilewati Vania kini lebih banyak diisi dengan rasa sakit dan kelelahan. Ia hampir tidak pernah bisa keluar dari rumah sakit di Banjarmasin.
Lev Ryley, mahasiswa pustakawan ULM, tetap setia berada di sisinya. Ia tidak lagi peduli dengan skripsi atau tugas-tugas kuliah. Prioritasnya kini hanya Vania. Lev membaca buku untuk Vania, menyanyikan lagu favorit mereka, dan menceritakan kembali kenangan indah mereka, dari Pantai Takisung hingga Bukit Rimpi dan Nusa Penida.
Suatu sore, Vania terlihat sangat lemah. Napasnya tidak lagi teratur. Dokter memberitahu Lev bahwa kondisi Vania semakin kritis. Waktu mereka tidak banyak.
Vania meraih tangan Lev yang sedang menggenggam tangannya. "Lev... kamu ingat janji kita di Takisung?"
"Tentu saja. Kita akan selalu bersama," jawab Lev, menahan tangis.
"Aku akan selalu bersamamu, Lev. Di hatimu," bisik Vania, suaranya sangat lemah. "Aku... tidak bisa lagi menemani kamu melihat senja."
Air mata Lev jatuh, membasahi wajahnya. Ia tahu, Vania sedang mengucapkan salam perpisahan.
"Jangan bilang begitu, Vania. Kamu akan sembuh," Lev berusaha meyakinkan, meskipun ia tahu itu tidak mungkin.
"Lukisan senja di Nusa Penida sudah selesai, Lev. Aku harap... kamu selalu ingat, warna yang aku berikan adalah warna terakhir yang aku punya," ucap Vania.
Lev memeluk Vania, membiarkan tangisnya pecah. Vania membalas pelukan Lev, mencoba memberikan sisa-sisa kekuatannya.
Di luar jendela kamar rumah sakit, senja perlahan turun. Warna oranye dan ungu menghiasi langit Banjarmasin. Lev menyadari, senja kali ini terasa berbeda. Senja kali ini, seolah ikut merasakan kesedihan yang ia rasakan.
Malam itu, Vania memejamkan mata. Napasnya semakin lemah, tapi senyumnya tetap ada. Ia menggenggam tangan Lev dengan erat. Lev mencium kening Vania, mengucapkan kata-kata cinta yang terakhir.
Di tengah keheningan, di kamar rumah sakit yang sunyi di Banjarmasin, Lev Ryley dan Vania Larasati saling menguatkan. Mereka tahu, saatnya akan tiba. Mereka tahu, perpisahan tidak terhindarkan. Namun, mereka juga tahu, kisah cinta mahasiswa mereka tidak akan berakhir di sini. Kenangan akan selalu hidup, abadi dalam hati Lev.
Pesan untuk Pembaca (SEO):
Vania Larasati semakin kritis. Bagaimana Lev Ryley menghadapi perpisahan yang tak terhindarkan?
Apakah novel romantis sad ending ini akan berakhir di sini?
Ikuti terus kelanjutan kisah cinta mahasiswa ULM ini, dan saksikan keteguhan cinta sejati. #NovelRomantisSadEnding #VaniaKanker #MahasiswaULM #Banjarmasin #Perpisahan #KisahCinta
