Bagi sebagian remaja, hari Sabtu berarti tidur siang atau bermain sepak bola. Bagi Tariq Al-Fassi, hari Sabtu berarti perang. Perang yang melibatkan kecepatan internet, koordinasi waktu global, dan ribuan dolar yang siap dibakar untuk sepasang sepatu kets. Ini adalah dunia sneakerhead, dan Tariq adalah jenderalnya.
Pagi itu, alih-alih menikmati msemen dan mint tea di meja makan Versace, Tariq sudah stand by di ruang media pribadinya di lantai atas. Ruangan itu kedap suara, dilengkapi dengan komputer gaming spesifikasi tertinggi, dan yang paling penting, koneksi internet serat optik tercepat di Casablanca. Di rak kaca yang diterangi lampu LED, puluhan pasang sneakers langka terpajang rapi, masing-masing dalam kotak akrilik bening: Nike Air Yeezy ‘Red October’, Jordan 1 Retro High ‘Travis Scott’, dan Adidas Yeezy Boost 350 ‘Turtle Dove’ yang masih deadstock (belum pernah dipakai).
Misi hari ini: ‘Drop’ terbaru dari Supreme yang berkolaborasi dengan Tiffany & Co. Item yang paling diincar adalah gelang perak, tapi Tariq juga mengincar T-shirt box logo dan, tentu saja, Nike Air Force 1 Low berwarna biru Tiffany.
Waktu rilis dijadwalkan tepat pukul 11:00 pagi waktu Maroko. Tariq sudah membuka lima browser berbeda di komputernya, login ke berbagai situs reseller ternama seperti StockX dan GOAT, serta situs resmi Supreme EU.
"Ya Allah, mudahkanlah urusanku," bisik Tariq, sebuah doa tulus di tengah hiruk pikuk materialisme.
Laila datang membawakan nampan berisi jus segar dan beberapa camilan. Dia sudah terbiasa dengan ritual anaknya ini. "Semoga sukses perburuanmu, pahlawan sneakers Umi," ujarnya sambil meletakkan nampan di meja samping.
"Makasih, Umi. Doakan aku dapat AF1-nya. Harganya di pasar sekunder bisa langsung melonjak tiga kali lipat dalam hitungan jam," jelas Tariq dengan serius. Bagi Tariq, ini bukan sekadar belanja, ini adalah investasi jangka pendek yang menguntungkan.
Jam menunjukkan pukul 10:59. Jantung Tariq berdebar kencang. Jari-jarinya bersiap di atas mouse Logitech gaming canggihnya.
Ting! Jam berubah menjadi 11:00 tepat.
Tariq segera refresh semua browser-nya. Halaman Supreme langsung crash. "Sialan! Server down!" serunya.
Dengan panik, dia beralih ke situs reseller. Dia berhasil memasukkan gelang perak Tiffany ke keranjang belanja di salah satu situs, tetapi saat memasukkan informasi kartu kredit, situs itu freeze.
Keringat mulai bercucuran di dahi Tariq. Ini lebih menegangkan daripada ujian sekolah.
Di layar lain, dia melihat sepatu AF1 Tiffany sudah habis terjual dalam waktu 15 detik. Sold Out.
"Argh!" Tariq menggeram frustrasi. Dia melewatkan drop terbesar tahun ini.
Laila mengelus punggung putranya. "Sabar, Tariq. Kan masih bisa beli di StockX. Kamu punya uang sakumu."
Tariq tahu ibunya benar, tapi kepuasan mendapatkan barang retail langsung dari sumbernya adalah sensasi yang tak tertandingi bagi kolektor sejati.
Akhirnya, dia membuka situs StockX. Benar saja, puluhan pasang sepatu AF1 Tiffany sudah ada di sana, tetapi dengan harga premium. Harga retail aslinya sekitar $150 USD, kini dijual kembali seharga $1200 USD.
Tariq menghela napas. Dia sudah menduga ini. Dia memasukkan penawaran untuk sepasang ukuran 44.5.
Saat Zayn kembali dari kantornya sore harinya, dia menemukan Tariq murung di kamarnya.
"Ada apa, Nak? Wajahmu seperti habis rugi miliaran," canda Zayn.
"Aku gagal sniping AF1 Tiffany, Abi. Harus beli di StockX dengan harga empat kali lipat," lapor Tariq lesu.
Zayn tertawa. Dia duduk di sebelah putranya. "Dengar, Tariq, dalam bisnis dan koleksi, kadang kita harus membayar harga premium untuk kelangkaan. Itulah nilai dari merek-merek ini. Kelangkaan buatan yang membuat kita rela membayar mahal."
Zayn mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya. "Meskipun kamu gagal dengan sepatumu, Abi berhasil dengan milikku. Lihat ini."
Di dalamnya ada sebuah jam tangan Richard Mille RM 67-02 Automatic Winding Extra Flat yang sangat ringan dan canggih, terbuat dari bahan komposit TPT® karbon dan kuarsa. Harganya fantastis, jauh melampaui harga sneakers Tariq.
Mata Tariq membulat kagum. "Wow, Abi. Keren banget. Berapa beratnya?"
"Hanya 32 gram," jawab Zayn bangga. "Jam tangan ini dibuat untuk atlet elit. Tapi Abi rasa, untuk rapat maraton pun butuh jam tangan yang ringan."
Ayah dan anak itu akhirnya larut dalam diskusi tentang kehebatan mesin jam tangan dan kelangkaan sneakers. Bagi mereka, barang-barang mewah ini adalah passion, sebuah hobi yang mahal tetapi memberikan kegembiraan tersendiri. Meskipun Tariq harus membayar mahal di pasar sekunder, dia tetap bahagia. Koleksinya akan bertambah dengan satu lagi item legendaris.
